
" Kamu bilang dengan Dika, minta jemput di kafe A yah!" kata July dan dibenarkan oleh Diandra.
" Iya, sekalian aku nanti sedikit kasih pelajaran buat Dika." kata Diandra serius.
" Jangan, mas! Biar aku selesai kan sendiri dahulu." sahut Gladis.
" Oke kalau begitu! Tapi kalau setelah kamu menyampaikan kebenaran nya dan dia tidak cepat- cepat menikahi kamu, aku dan July akan kasih pelajaran dengan Dika." ancam Diandra yang dibenarkan oleh July.
" Orang kok hanya mau enaknya saja! Aku pun juga mau kalau cuma ni duri anak orang dan menghamili nya. Tahu begitu dulu, Gladis aku nikahi untuk ku jadikan istri keduaku." kata July yang langsung mendapatkan pukulan keras bagian lengan nya oleh Diandra. July meringis kesakitan.
*******
" Kamu kepingin apa, Dis? Kamu bisa memesan apa saja, biar anak kamu nanti jangan sampai ngeces terus." ucap Diandra sambil menyantap salad buah kegemarannya sebagai pencuci mulutnya.
" Boleh ya?" tanya Gladis malu- malu. Diandra tersenyum sambil mengacak-acak rambut Gladis. Gladis bagi Diandra sudah dianggap seperti adiknya sendiri.
" Kamu ingin salad buah seperti yang aku makan?" tanya Diandra. Gladis mengangguk pelan. July dengan cepat mendekati pramusaji yang berdiri tidak jauh dari tempat nya. July memesankan apa yang saat ini diinginkan oleh Gladis.
" Sudah sampai mana pacar kamu, itu?" tanya Diandra memastikan kalau Gladis sudah dijemput kekasihnya, Dika.
" Katanya Otw, tapi sudah sampai mananya, aku tidak bertanya lagi." sahut Gladis. Diandra menarik nafasnya pelan. Kini Diandra menyalakan batang rokoknya.
" July, tolong pesan kopi dua lagi. Satu buat aku dan satu lagi buatmu." suruh Diandra.
" Baik bos! Diandra semenjak mimpin di perusahaan kembali, jiwa menyuruhnya kumat." ucap July sambil melangkah kembali ke depan untuk memesan dua kopi itu.
Gladis sudah menerima panggilan suara masuk di ponselnya. Kelihatannya dari kekasihnya, Dika. Diandra mengamati Gladis yang menerima panggilan telepon itu.
__ADS_1
" Dika sudah menunggu aku di depan mas, aku langsung saja yah mas! Terimakasih traktiran nya." kata Gladis.
July datang membawa plastik yang berisi salad buah tadi lalu menyerahkan nya ke Gladis.
" Kamu jangan lupa kasih kabar ke kami yah! Kalau laki-laki itu tidak mau bertanggung jawab atau menyuruhmu mengaborsi, aku tidak akan segan- segan memotong ANU nya." ucap July penuh ancamannya, Diandra ikut membenarkan ucapan July.
" Baik mas! Oke doakan aku baik- baik saja, mas!" kata Gladis lalu menyambar tas ranselnya dan peralatan melukisnya.
Diandra dan July kini masih menikmati kopi hitam yang baru saja datang diantar oleh pramusaji restoran itu. Kini keduanya mulai membicarakan Gladis lalu beralih ke topik pameran lukisan yang akan di gelar akhir tahun nanti.
*******
Dika membawa Gladis ke apartemen miliknya yang saat ini tidak ada Sita di sana. Gladis sudah duduk di kursi ruang tengah apartemen itu. Dika mengambilkan beberapa minuman untuk dirinya dan Gladis. Setelah satu gelas minuman diberikan ke Gladis, Dika mulai duduk di samping Gladis. Dika menatap Gladis serius.
" Ada apa, sayang? Katanya kamu ingin berbicara serius dengan aku?" ucap Dika sambil membelai rambut Gladis yang kini sudah pendek di bawah telinga. Dika mulai mendekati leher jenjang milik Gladis. Dika mencium harum di sana. Hasrat nya mulai membuncah, kini Dika mulai menyesap dan memberikan tanda di sana. Gladis melenguh dan sesaat memejamkan mata menikmati sensasi yang luar biasa dari kelakuan Dika. Gladis sedikit mendorong wajah Dika supaya sedikit menjauh dari dirinya.
" Benarkah? Aku akan segera menikahi kamu. Kamu ingin kapan, besok, lusa atau satu minggu kemudian?" tantang Dika. Gladis menatap Dika heran seperti tidak serius akan ucapan nya.
" Kenapa? Aku serius Gladis! Aku tidak main- main. Aku akan menikahi kamu, dan setelah itu kita tinggal disini dulu. Bagaimana? Atau kita mencari rumah baru?" tantang Dika lagi.
" Dika! Kamu jangan main-main dong! Aku sudah panik dan khawatir dengan kehamilan ku ini. Jika kamu tidak menginginkannya, aku akan menjauh dari kamu. Aku akan membesarkannya sendiri." kata Gladis. Dika menutup bibir Gladis, lalu dengan nakal Dika malah mengecup bibir Gladis yang menggoda itu. Lalu menggiring Gladis ke peraduan kamarnya.
" Jangan khawatir! Aku akan menikahi kamu. Setelah ini aku akan mengantarkan kamu pulang dan aku kana berbicara dengan papa mama kamu. Oke?" kata Dika, Gladis tersenyum puas. Dika sangat pandai menyenangkan hati Gladis. Kini kembali Gladis diobok-obok miliknya. Dika membuat Gladis seketika pasrah dan tidak banyak memprotes nya. Toh segelnya sudah rusak di koyak oleh laki-laki yang saat ini mendominasi dirinya. Dika menghujani senjata yang mampu memuntahkan benihnya menjadi orok didalam wadah kuat milik Gladis.
" Dika! Kamu jangan membohongi aku yah!" ucap Gladis lirih lalu kembali terpejam menikmati hentakan- hentakan maut dari Dika. Dika tersenyum sesaat lalu kembali memekik kuat karena sudah dalam puncaknya setelah Gladis lebih dahulu. Dika telentang di samping Gladis. Gladis membenamkan kepalanya dibawah ketiak Dika. Dika mengecup lembut dahi Gladis.
" Mandilah! Ayo kita ke rumah kamu. Besok kita nikah agama terlebih dahulu, sambil menunggu proses surat- surat masuk ke kantor Urusan agama, sah secara hukum." kata Dika lalu membimbing Gladis ke kamar mandi. Dika mengecup perut Gladis yang saat ini berisi janin keturunannya.
__ADS_1
" Dia anakku, Gadis! Jaga dia untukku!" kata Dika serius.
" Kamu menyukai anak kecil, Dika?" tanya Gladis masih belum yakin.
" Aku pasti mencintai anak kecil ini. Apalagi dia adalah darah daging aku. Aku akan menjadi ayah, Gladis." ucap Dika serius. Gladis membelai rambut Dika.
" Ayo kita mandi! Aku akan mandi bersama kamu." kata Dika. Gladis melotot.
" Hanya mandi, sayang! Beneran!" sahut Dika seolah membaca pikiran Gladis yang khawatir jika di kamar mandi nanti Dika akan menuntut lebih kepada nya.
Suara gemericik air di kamar mandi terdengar dari luar. Mereka benar-benar mandi. Tidak melakukan yang lain. Setelah ini Dika akan bertanggung jawab menikahi Gladis. Walaupun papa mamanya masih belum menerima Gladis, Dika tidak akan peduli. Walaupun masih ada Sita yang juga menuntut untuk dinikahi oleh Dika.
" Kalau kita menikah, bagaimana nasib wanita yang dijodohkan dengan kamu, Dika?" tanya Gladis sambil menatap mata Dika.
" Papa mama kamu bagaimana?" tanya Gladis.
" Jangan berpikir yang lain dulu, yang penting kita mendapatkan restu dari papa mama kamu saja. Oke? Kita menikah secara agama dulu, tidak apa- apa kan sayang?" kata Dika serius.
" Secepatnya kita menikah secara hukum dan negara. Oke?" ucap Dika kembali supaya Gladis tidak cemas akan kondisi yang sulit ini.
" Baiklah! Yang penting aku selalu mendapatkan dukungan dan restu oleh papa mama aku." kata Gladis. Dika menggandeng Gladis keluar meninggalkan apartemen dan pergi ke rumah Gladis untuk pembicaraan yang serius dengan papa mama Gladis.
" Kamu kok tenang sekali hendak menjumpai papa mama aku? Kamu tidak ada kekhawatiran jika papa aku marah atau memukuli kamu karena sudah menghamili aku?" tanya Gladis.
" Kita bukan anak SMA atau SMP yang berpacaran lalu hamil duluan. Namun kita ini sudah dewasa dan berumur. Dan memang kita sudah pantas untuk menikah. Lagi pula aku sudah siap dengan segala materi. Aku sudah memiliki segalanya. Apa yang perlu di khawatirkan? Aku dengan jiwa besar berani menjumpai papa mama kamu. Karena kita memang sudah melakukan itu sebelum menikah. Tapi semua nya kita lakukan memang atas dasar suka dan mencintai, bukan? Sudah, simple kan?" ucap Dika. Gladis masih resah.
" Sudahlah! Tenang saja, yang penting kekasihmu ini mau bertanggung jawab menikahi kamu, sayang! Kamu akan menjadi istri aku." ucap Dika kembali seolah ini membuat sejuk hati Gladis. Gladis tersenyum.
__ADS_1