GODAAN- GODAAN LIAR PELUKIS PROFESIONAL

GODAAN- GODAAN LIAR PELUKIS PROFESIONAL
KEJELASAN


__ADS_3


Dan rindu ini jangan kamu larang! Sungguh rasa ini seperti terpaan angin yang tiba-tiba berhembus menerbangkan daun- daun kering dan debu tak basah membuat pedih pandangan. Resah, emosi, dendam, berpeluk dalam raga kering karena sengatan terik mentari yang membakar. Lalu rindu itu akan basah jika temu dalam sekelebat bayanganmu walau lewat impian. Sejuk, seperti curahan air hujan yang deras tak henti menyiram keringnya tanah yg kian keras....


*******


Pagi itu Diandra begitu sangat bersemangat pergi ke kantor. Seseorang yang menjadi semangat dan dorongannya ada di dalam gedung yang sama tempat nya bekerja. Kasandra ternyata selama ini telah bekerja di perusahaan keluarga nya. Peralatan melukisnya pun sudah Diandra siapkan. Di ruang kerjanya nanti, Diandra akan menyulap nya tempat untuk melukisnya. Walaupun itu nanti Diandra lakukan ketika dirinya sudah menjalankan segala tugas-tugas dari bagian nya.


Diandra tersenyum melihat pantulan dirinya di dalam cermin besar di kamarnya. Pakaiannya terlihat rapi seperti eksekutif muda yang memiliki aura pimpinan yang disegani. Sifa, putrinya yang masuk ke dalam kamarnya pun sampai tidak disadarinya.


" Ayah! Ganteng banget ayah! Senyum- senyum seperti sedang jatuh cinta." goda Sifa.


" Sifa, sayang! Kamu mau berangkat ke sekolah ya? Bareng sama ayah aja, yuk! kata Diandra.


" Iya, ayah! Sifa berangkat sekolah dulu! Aku naik motor saja, Yah!" ucap Sifa sambil bersalaman dan mencium punggung tangan milik Diandra.


" Tapi hati- hati yah, nak!" pesan Diandra pada putri nya itu.


" Iya, ayahku yang ganteng! Ayah juga hati- hati yah!" Sifa ikut- ikutan.


" Oh iya, ayah! Tante Kasandra sudah menghubungi ayah belum?" tanya Sifa mulai penasaran.


Diandra terkejut, ternyata Sifa masih mengingat nya.


" Sudah!" jawab Diandra jujur.


" Kalau begitu, aku minta nomor HP nya boleh kan, Yah? Aku juga ingin belajar dengan tante Kasandra soal teater." ucap Sifa.


Diandra sejenak jadi berpikir, mungkin Sifa nanti bisa menjadi penghubung antara dirinya dengan Kasandra. Karena Diandra sendiri nomernya sudah diblokir oleh Kasandra. Entah apa maksudnya, apakah Kasandra tidak ingin diganggu atau Kasandra mulai risih jika dihubungi oleh dirinya.


" Ayah! Mana nomer tante Kasandra! Aku juga mau berangkat ke sekolah!" desak Sifa.


" Oh baiklah! Tapi jangan aneh- aneh yah!" pesan Diandra sambil membuka layar ponselnya dan mencari kontak Kasandra. Diandra mengirimkan nomer Kasandra ke nomer Sifa.

__ADS_1


" Sudah masuk! Terima kasih, Ayah! Lain waktu aku akan mengajak jalan tante Kasandra." ucap Sifa sambil keluar dari kamar Diandra.


" Eh?" Diandra terkejut dengan ide Sifa yang berusaha akrab dan mengenal Kasandra. Sebenarnya siapa sih yang jatuh cinta dengan Kasandra? Diandra atau Sifa?


" Kasandra! Bahkan putri aku pun sangat menyukai kamu! Itu artinya, kamu memang memiliki daya pikat yang luar biasa, bukan? Huff." gumam Diandra lalu keluar dari kamarnya setelah menyambar tas nya.


*******


Gladis menjatuhkan tubuh nya dan mulai resah mengenai apa yang mamanya bilang. Dirinya harus mulai tegas mempertanyakan keseriusan hubungan nya dengan Dika. Gladis sangat malu dengan mama nya ketika mengingat bahwasanya hubungan nya dengan Dika sudah sangat jauh. Memang mengingat usia Gladis yang sudah berumur dua puluh delapan tahun dan masuk ke usia dewasa dan sudah selayaknya menikah dan berumahtangga.


Gladis menghubungi Dika dengan mengirimkan pesan di WA nya. Gladis ingin bertemu dengan Dika jika Dika memang punya banyak waktu dan tidak sedang mengurusi bisnisnya.


Akhirnya notifikasi pesan masuk itu pun ada si layar ponsel Gladis. Dika membalasnya dan hendak menjemputnya siang ini. Dika bilang kalau dirinya juga kangen dengan Gladis.


Gladis mulai bersiap karena sebentar lagi Dika akan menjemputnya. Gladis tidak ingin terlihat berantakan dan tidak cantik jika bertemu dengan Dika nanti.


Tidak berapa lama, suara klakson mobil terdengar. Gladis bergegas keluar kamar dan bersalaman dengan mamanya untuk berpamitan.


" Gladis! Ingat pesan mama tadi!" ucap mama Gladis sedikit mengingat kan Gladis.


" Aku berangkat yah, ma!" kata Gladis.


" Hati-hati! Salam buat Dika! Kenapa juga Dika tidak masuk dulu ke rumah!" ucap mama Gladis sambil mengantarkan Gladis ke depan.


Mobil itu pun meninggalkan rumah Gladis setelah Gladis masuk ke dalam mobil itu.


*******


Di dalam mobil Dika masih fokus mengemudikan mobilnya. Gladis belum membuka suara. Demikian juga Dika.


" Kita mau kemana, sayang?" tanya Dika.


" Terserah kamu saja, Dika!" jawab Gladis.

__ADS_1


" Kalau terserah aku, aku akan membawa kamu ke villa atau ke penginapan, Yank!" ucap Dika.


Gladis hanya diam sambil menatap ke depan jalanan.


" Seperti nya serius yah? Kalau begitu ke villa aja deh, supaya suasananya lebih romantis." ucap Dika sambil memainkan matanya.


Hampir satu jam Dika berkeliling kota bersama Gladis. Dika mengajak Gladis jalan- jalan, makan dan juga berbelanja. Dika memang tipe laki-laki yang sangat royal karena memang pada dasarnya Dika berduit lebih. Jadi Dika tidak hitung- hitungan jika bersama wanita yang ia senangi.


" Kamu ingin apa lagi, yank? Perhiasan atau jam tangan?" tanya Dika.


"Tidak! Ini kamu sudah kasih aku banyak. Lain kali lagi saja." sahut Gladis.


" Kita cari jam tangan dulu deh, aku juga perlu jam tangan keluaran terbaru. Entar kita cari yang couple-an aja yah." kata Dika sambil tersenyum.


Setelah mereka puas mencari barang yang diinginkan, mereka menuju ke suatu tempat untuk beristirahat. Dika dan Gladis mulai masuk ke kamar yang sudah di boking nya. Dika menjatuhkan tubuhnya ke kasur kamar yang disewa mereka.


" Gladis! Kemari lah!" suruh Dika sambil menepuk kasur di sampingnya. Gladis menurut saja walaupun jantungnya mulai berdetak tidak karuan.


Dika memeluk Gladis dengan erat. Dika seperti sangat kangen dengan aroma tubuh Gladis, Dika menciumnya.


" Wangi nya sangat khas! Ini yang aku suka dari kamu." ucap Dika.


" Dika! Aku ingin bicara serius!" kata Gladis.


" Hem, katakan aja!" sahut Dika sambil merapikan rambut Gladis.


" Kapan kamu melamar aku?" tanya Gladis to the point. Dika membulat matanya.


" Kamu maunya kapan? Aku akan datang ke rumah kamu untuk lamaran itu." jawab Dika yang cukup lama terdiam akhirnya bersuara itu.


" Secepatnya, Dika! Kalau bisa besok, lusa, minggu depan, atau bulan depan. Aku ingin memastikan hal itu. Aku tidak ingin hubungan kita seperti ini terus. Aku tidak ingin bermain- main lagi." kata Gladis.


" Baik! Aku secepatnya akan menikahi kamu! Tapi sekarang kita jangan membahas itu dulu. Sekarang kita bersenang-senang dulu. Aku kangen banget dengan kamu." kata Dika sambil mendekati bibir Gladis lalu dengan cepat meraup nya.

__ADS_1


Tentu saja setelah itu, Dika tidak menuntut yang lebih dari itu dengan Gladis. Gladis pun yang sudah merasakan enaknya berhubungan selayaknya suami istri itu pun serasa dahaga dan ketagihan. Akhirnya mereka sama- sama saling memberikan kenikmatan. Tempat itulah menjadi saksi hubungan mereka yang seharusnya tidak mereka lakukan sebelum dihalalkan.


__ADS_2