
Aku menunggu mu di ujung senja itu.....
Aku menunggu mu ketika usai lelah penat seharian berkutat dengan segala aktivitas...
Aku menunggu di paling ujung sudut ruangan itu...
Jangan ada lagi suara kegaduhan itu...
Jangan ada lagi suara sumbang ikut mencampuri urusan kita...
Aku menanti itu, ketika kita duduk di sudut yang membentuk siku...
Aku dan kamu akan mendapatkan zaman itu. .
Semburat senja warna jingga ku nantikan di hari itu. Katamu aku harus sabar menunggumu setelah usai segala kewajiban mu mengais rejeki di hari itu. Katamu kamu sudah sangat merindukan aku. Katamu kamu sudah tidak sanggup menahan segala beban rindu yang tersimpan di kalbu. Kamu ingin meluapkan segala beban rindu itu yang menghimpit mu. Aku harus sabar menunggu datang mu bersama hadiah kecil yang kau bilang itu.
Kini aku pun sudah duduk di sudut itu sesuai apa yang sudah kau bilang kepadaku. Tempat dimana itu akan membuatmu lega, tenang dan damai jika nanti kita bertemu di sana. Khayalan itu sudah muncul di pikirku bersama mu. Mengarungi samudra indah bersama mu. Mengayuh kapal bersama membelah lautan yang terbentang luas. Aku dan kamu akan menikmati kebersamaan itu di paling ujung sudut ruangan. Di sudut waktu itu aku masih menunggumu.
Khayalan indah akan hadirmu sudah sangat jelas menari di pelupuk mata. Kamu hadir seperti pahlawan hatiku. Mengobati lara dan sedihku. Namun sudah di ujung waktu pun kau tidak juga menemui ku di sudut ruangan ini. Aku sudah mulai resah dalam penantian menunggu. Aku pun mulai berjalan mondar-mandir, menengok kanan dan kiri apakah sudah hadir kelebatan bayangan mu. Tubuh yang molek dan polos menawan. Aku akan hangat jika berada dalam dekapan pelukan mu kelak. Kelak dalam temu di sudut ini.
Namun cukup lama aku masih menunggu di sudut ini sambil menikmati segelas anggur ini. Aku sudah tidak sabar melihat mu dalam senyuman yang merekah.
Tiba-tiba seorang pria setengah baya datang dengan cepat mendatangi aku. Lalu pria tua itu memberikan kabar mengenai kamu. Kamu yang tiba-tiba menggagalkan segala janjimu kepadaku. Seketika tubuhku lunglai akan ini. Aku yang sudah letih menanti namun kamu dengan mudah menggagalkan temu ini.
" Ini bukan sekedar memenuhi janjiku kepadamu, Diandra! Namun ketika kaki dan tanganku tidak mampu lagi mengejar mu. Maka datang dan berlari lah dengan cepat kepadaku. Aku akan diam dan menanti di sudut itu." katamu yang kamu tulis di pesan singkat namun sedikit panjang itu dalam menjelaskan ketidak hadirmu disini.
__ADS_1
" Ini, apa maksudnya? Aku tidak paham akan bahasa yang bertele-tele seperti ini." kataku lemah dan lunglai.
" Apakah tuan hendak ingin menjumpai nona mudaku?" tanya pria tua itu.
" Tentu saja! Aku akan ikut kamu menjumpai kekasihku." jawabku.
" Baiklah! Pergilah bersama ku, tuan! Aku akan mempertemukan mu dengan nona mudaku." ucap pria setengah baya itu.
Tanpa banyak bicara, aku mengikuti pria tua itu. Dan akhirnya setelah menempuh jalanan yang berkelok-kelok dan di kanan kiri tempat itu adalah bukit, barulah kami berhentilah di bangunan tua namun masih indah dan menawan. Kedatangan aku disambut banyak pelayan di sana. Lalu aku diantar ke suatu tempat dimana itu ada kamu di sana.
Di sudut ini kamu benar nyatanya menunggu ku yang awalnya aku pun sudah menunggu ditempat yang sudah kita sepakat di tempat itu. Kita pun sama- sama menunggu.
Di sudut itu kamu terbaring kaku dan siap akan dikubur bersama kenangan masa lalu. Kaki, tangan tubuhku lunglai akan itu. Namun kau masih dima membisu ketika banyak tanya di benakku. Kenapa secepat ini kau berlalu meninggalkan harapan indah kita? Kenapa selama ini kau menyimpan banyak rahasia akan sakit mu. Katamu kamu sudah bahagia bisa berjumpa dan mengenali aku. Katamu kamu sungguh-sungguh berterimakasih akan tulusnya cintaku. Tetapi apa ini artinya? Jika kamu sangat egois, meninggalkan aku sendiri di sudut ini.
" Kasandra!!!!" teriak Diandra di tengah malam saat dalam tidur nya yang sangat lelah karena seharian menyelesaikan lukisan dengan wajah wanita yang saat ini begitu mengganggu pikirannya.
Diandra terbangun dengan nafas yang memburu. Detak jantung nya menderu tak menentu. Sifa putri cantiknya tiba-tiba mengetuk pintu kamar nya lalu masuk tanpa persetujuan dari ayahnya. Sifa membawakan air mineral lalu di berikan kepada ayahnya yang masih berusaha mengatur nafasnya. Berusaha tenang karena mimpinya begitu nyata dan bertemu Kasandra namun sudah terlambat. Kasandra sudah terbaring kaku dan siap dikuburkan. Ini mimpi yang begitu menyakiti hatinya. Sekian lama harapan untuk bisa berjumpa walaupun melalui mimpi dan menunggu keajaiban itu tiba bisa berjumpa dalam nyata. Tapi situasinya berbeda. Berjumpa dengan Kasandra dan melihat nya ketika wajahnya sudah memucat tanpa senyum dan cerianya.
" Ayah! Ayah mimpi apa?" tanya sifa sambil menyodorkan segelas air mineral itu kepada ayah tercintanya.
Diandra menarik nafasnya lalu membuangnya pelan.
" Tidak apa- apa, Sifat sayang! Ini hanya mimpi saja. Semoga seseorang yang ayah mimpikan dalam kenyataan nya dia akan selalu baik- baik saja dan bahagia sejahtera." kata Diandra setelah meminum air mineral yang diberi oleh putrinya.
__ADS_1
" Aamiin!" sahut Sifa.
" Apakah seseorang yang ayah mimpikan itu orang yang spesial, Yah?" tanya Sifa sambil tersenyum.
" Kalau tidak, kenapa sampai ayah terbawa dalam tidur ayah." tuduh Sifa sambil tersenyum.
" Mungkin benar! Ayah saat ini sangat kepikiran dia." jawab Diandra dengan terang.
" Pasti ayah sangat rindu yah? Sudah berapa lama tidak berjumpa dengan orang itu, Yah?" tanya Sifa penuh selidik.
" Sudah lama sekali, nak! Mungkin sudah hampir 10 tahun lamanya." jawab Diandra mencoba mengira- ngira.
" Hah?. Lama sekali Yah!" sahut Sifa.
" Iya! Dia adalah kawan sekolah ayah waktu kuliah dulu." cerita jujur Diandra.
" Apakah seorang wanita? Atau mantan pacar ayah?" tebak Sifa.
" Benar! Dia seorang wanita namun dia bukan mantan pacar ayah. Tetapi dia dulu sempat membuat mata ayah seketika terpana akan keanggunan nya." cerita jujur Diandra.
" Apakah cinta yang terpendam atau kata- kata yang tak pernah terkatakan?" tebak Sifa sambil tersenyum.
" Hahaha! Begitu lah kira- kira nak! Ayah belum sempat berjuang untuk mendapatkan nya sudah menyerah duluan." cerita Diandra lagi.
" Sudahlah! Ayah menjadi malu!" kata Diandra lagi sambil memeluk Sifa putri nya yang saat ini sudah mulai menginjak gadis remaja.
__ADS_1