
Mimik!" suruh Diandra. Kasandra mengambilkan botol minuman dingin yang sudah ada pipet nya itu.
" Mulai kumat kan, manjanya? Jadi baby sitter nya lagi." pikir Kasandra namun tidak juga ada keluhan dirinya melakukan semua itu.
Diandra menjalankan mobilnya pelan dan membelah jalanan yang tidak begitu padat. Kasandra menatap lurus ke depan jalanan dan tidak banyak bicara dan banyak pertanyaan. Padahal dalam benaknya mulai muncul tanda tanya. Akhirnya karena sudah tidak sabar, Kasandra mengajak bicara Diandra.
" Kita kemana, Diandra?" tanya Kasandra. Diandra pura- pura tidak mendengar nya. Kasandra mengulangi kembali pertanyaan nya.
" Kita kemana, mas Diandra?" ulang Kasandra namun dirinya memakai panggilan Mas.
" Hemm? Ke rumah aku sebentar yah!" sahut Diandra akhirnya. Kasandra meringis.
" Ini orang ketika dipanggil nama doang, gak nyahut. Giliran dipanggil dengan mas Diandra, tuh telinga bisa dengar. Dasar, banyak maunya." omel Kasandra dalam hati.
" Jangan suka menggerutu dalam hati! Cepat tua loh!" kata Diandra seolah paham akan suara kalbu Kasandra. Kasandra terkejut.
" Siapa yang menggerutu?" sahut Kasandra dengan bibir yang meng kerucut. Diandra tersenyum geli.
" Haus!" ucap Diandra. Kasandra secepatnya kasih botol mineral dan mendekatkan ke bibirnya.
" Terimakasih! Kamu memang wanita yang soleha. Eh calon istri solihin. Eh bukan, calon istri soleha." goda Diandra. Kasandra menutup mulutnya berusaha menyembunyikan tawanya.
Setibanya di rumah kediaman Diandra, Kasandra tidak banyak bicara. Dirinya tidak menyangka kalau Diandra memang seperti putra mahkota. Rumah tempat tinggalnya saja seperti istana. Itu masih rumah tinggalnya. Bagaimana rumah kediaman ayah, bundanya? Kasandra seketika menjadi minder. Baginya antara dirinya dengan Diandra seperti langit dan bumi. Kehidupan keluarganya sangat berbeda dengan kehidupan keluarga Diandra. Kasandra dari kecil sudah terbiasa hidup pas- pasan bahkan terbilang sangat sederhana, jauh dari kata mewah. Saat ini, dirinya kerja saja masih memikirkan keluarga nya di kampung.
__ADS_1
" Hai, ayo masuk! Kenapa bengong? Di dalam ada Sifa, putri aku kok. Dia pasti terkejut jika melihat kamu datang ke rumah ini." kata Diandra dengan mata berbinar.
Kasandra mengikuti langkah kaki Diandra menuju rumahnya yang seperti istana. Bangunan yang sangat elegan dengan perabotan yang super mahal.
" Kamu kalau melukis di mana?" tanya Kasandra penasaran. Sesaat Diandra berhenti melangkah dan menatap Kasandra.
"Di ruangan khusus! Nanti aku ajak ke sana yah. Kamu mau aku jadikan obyek lukisan aku kah?" tanya Diandra.
" Bukannya selama ini kamu melukis wajah aku tanpa sepengetahuan aku?" sahut Kasandra. Diandra terkekeh.
" Kita ke ruang makan aja dulu yah! Aku lapar." ajak Diandra. Kasandra mengikuti Diandra tanpa protes.
Setiba nya di ruang makan, satu asisten rumah tangga di rumah itu langsung siap siaga mempersiapkan semuanya. Tidak biasanya, tuan rumahnya pulang lebih awal semenjak ngantor di perusahaan keluarga.
" Ayo makan yang banyak!" suruh Diandra. Kasandra mulai mengambil hidangan yang sudah di atas meja.
" Kamu makanlah lebih dahulu." suruh Diandra. Kasandra mulai menyantap makanan nya.
" Apakah kamu tidak malu jika aku menyuapi kamu sedangkan Sifa dan asisten kamu melihat nya?" ucap Kasandra. Diandra hanya tersenyum menatap Kasandra yang masih sibuk mengunyah makanan nya.
" Tidak!" sahut Diandra cepat.
" Bi Suri! Boleh minta puding coklatnya?" pinta Diandra. Bi Suri bergegas menuju lemari es untuk mengambil puding coklat kesukaan Diandra.
__ADS_1
" Kamu suka puding?" tanya Kasandra. Diandra tersenyum.
" Ayo makan puding nya? Kenapa dibiarin saja?" ucap Kasandra.
" Nunggu kamu selesai makan." sahut Diandra.
" Minta disuapin juga?" tanya Kasandra sambil menepuk jidatnya sendiri. Diandra tersenyum nakal.
" Bukankah aku sudah membayar kamu dengan itu semua?" goda Diandra. Kasandra mengangkat bahunya lalu menarik nafas dalam- dalam.
" Bi Suri! Tolong panggilkan Sifa! Bilang ayah menunggu di ruang makan." kata Diandra.
" Baik tuan muda!" sahut Bi Suri lalu bergegas ke kamar Sifa yang letaknya di lantai dua.
" Jadi, ruangan buat melukis kamu dimana, mas?" tanya Kasandra lalu mulai menyuapi Diandra dengan pusing coklat nya.
" Di lantai dasar. Nanti kamu juga akan tahu." kata Diandra. Kasandra masih berusaha menebak-nebak ruangan nya dimana.
Tidak berapa lama Sifa datang bersama Bi Suri.
" Tante! Kok tante bisa tahu rumah Sifa?" kata Sifa yang dari jauh melihat Kasandra langsung berteriak kegirangan. Diandra tersenyum saja.
" Sifa, sayang! Salim dulu dong!" kata Diandra. Sifa mulai bersalaman dengan ayah dan juga tante Kasandra.
__ADS_1
" Duduk dan makan bersama ayah yah!" suruh Diandra. Sifa duduk di dekat Kasandra yang masih menyuapi puding ke mulut Diandra. Bi Suri tersenyum apalagi dengan Sifa.
" Ayah benar-benar jadi manja banget. Ini mah modusnya ayah ingin ngerjain tante Kasandra." pikir Sifa sambil cekikikan sendiri.