GODAAN- GODAAN LIAR PELUKIS PROFESIONAL

GODAAN- GODAAN LIAR PELUKIS PROFESIONAL
BOHONG


__ADS_3

Eh?" Diandra terkejut dengan ide Sifa yang berusaha akrab dan mengenal Kasandra. Sebenarnya siapa sih yang jatuh cinta dengan Kasandra? Diandra atau Sifa?


" Kasandra! Bahkan putri aku pun sangat menyukai kamu! Itu artinya, kamu memang memiliki daya pikat yang luar biasa, bukan? Huff." gumam Diandra lalu keluar dari kamarnya setelah menyambar tas nya.


*******


Diandra masuk di ruangan nya. Betapa terkejutnya Diandra mendapati seseorang wanita yang memunggungi dirinya. Postur tubuhnya sudah pernah Diandra kenali. Bahkan Diandra seperti sudah hapal setiap inci bagian-bagian nya. Dan dugaan nya benar-benar tidak meleset. Wanita itu adalah Kasandra.


" Kasandra!" panggil Diandra lalu mendekati wanita muda dan kecantikannya terlihat sempurna itu.


Kasandra menoleh ke arah suara laki-laki yang memanggilnya. Kasandra tidak kalah terkejutnya. Kasandra berjumpa kembali dengan laki-laki yang telah memberikannya buket mawar putih saat usai pementasan teater itu. Laki-laki itu memang pernah ia kenal ketika masa kuliahnya namun tidak begitu akrab karena memang beda jurusan namun masih satu fakultas. Laki-laki yang pernah beberapa kali menjumpainya Kasandra ketika di kostnya hanya ingin lebih dekat. Mungkin saat itu laki-laki ini ingin mengenal lebih jauh tentang Kasandra. Tetapi Kasandra sepertinya menanggapinya biasa saja dan tidak ada rasa tertarik.


Diandra! Kamu disini?" kata Kasandra masih belum menyadari kalau Diandra adalah putra mahkota si empunya perusahaan tempat dirinya bekerja.


" Eh? Aku juga hendak menjumpai direktur yang ruangan nya di sini." kata Diandra bohong dan berusaha menutupi jati dirinya.


" Oh iya! Kalau begitu kita sama dong! Ayo duduklah di sini!" ucap Kasandra ramah lalu duduk di sofa ruangan itu. Seperti di cocok hidungnya, Diandra menuruti apa yang dikatakan oleh Kasandra, duduk di sofa menghadapi dengan Kasandra.


" Kamu ada kepentingan apa, ingin menjumpai direktur ini." tanya Kasandra sambil membuka layar ponselnya.


" Aku? Eh aku ada sedikit tugas untuk melukisnya. Eh iya benar! Aku ada sedikit proyek untuk melukisnya. Ini aku sudah membawa peralatan melukis ku." kata Diandra sambil menunjukkan peralatan melukisnya. Kebohongannya jadi lebih menyakinkan Kasandra karena Diandra sudah membawa peralatan lukis itu.


" Kenapa aku bohongnya bisa pas dan sangat kebetulan begini yah!" pikir Diandra lalu mulai membuka peralatan lukisnya dan mempersiapkan semuanya dari kanvas sampai cat minyaknya. Kasandra mengamati kegiatan Diandra dengan teliti.


" Aku yakin hasil karya-karya lukisan mu pasti sempurna. Aku ingin sekali melihat nya." ucap Kasandra.


" Sering-sering lah ke ruangan ini! Aku pasti akan melukis kamu!" kata Diandra dengan senyuman nya. Diandra mulai mencampur warna- warna cat minyak itu hingga menghasilkan warna yang Diandra inginkan. Kanvas itu sudah dibentangkan dengan penyangganya. Diandra mulai mencoret nya pelan. Kasandra diam tidak ingin menggangu Diandra.


" Kamu disuruh ke ruangan ini oleh siapa?" tanya Diandra.


" Bagian personalia! Katanya aku akan dinaikkan jabatan ku untuk menjadi asisten dari direktur pemilik ruangan ini." jawab Kasandra dengan wajah yang bahagia karena bayangan nya Kasandra akan mendapatkan gaji yang lumayan besar.


" Oh! Kamu sudah berapa lama kerja di perusahaan ini? Dan apakah kamu tidak tahu nama direktur ini?" tanya Diandra memancing Kasandra.

__ADS_1


" Kalau presdir nya aku tahu, Diandra! Namun direktur baru di ruangan ini aku belum pernah tahu dan melihat nya. Padahal aku sudah lama kerja disini, loh! Apakah aku yang terlalu cuek? Atau direktur ini memang orang lama namun kembali aktif kembali? Aku sendiri tidak tahu." kata Kasandra.


" Nanti kamu juga bertemu dengannya. Sebentar lagi dia akan ke ruangan ini. Tadi sudah mengabari ke aku kalau beliau sedikit terlambat. Jadi kamu sudah berapa tahun kerja sebagai pengawas disini. Pengawas di lapangan yah?" kata Diandra.


" Benar! Aku orang lapangan! Jadi buruh kasar terkena sinar matahari yang panas dan hujan yang deras dingin." kata Kasandra.


" Orang sastranya keluar!" sahut Diandra sambil tersenyum.


" Hahaha! Iya benar! Kamu selalu mengingatkan aku akan hobi dan basic aku." kata Kasandra.


" Lalu kenapa kamu bisa kerja di perusahaan konstruksi dan malah diposisi yang penting juga loh. Menjadi pengawas di bidang konstruksi." tanya Diandra.


" Kamu jangan bilang dengan siapapun yah! Aku ada orang dalam. Ayah aku kenal dengan Pak Dedy. Dia wakil presdir di perusahaan konstruksi ini." kata Kasandra sambil berbisik.


" Apa?" teriak Diandra hampir meloncat karena sangat terkejutnya.


" Yang benar?" tanya Diandra kembali.


" Iya!" bisik Kasandra pelan.


" Sembarangan loh kamu, Diandra! Aku bukan wanita seperti itu!" sahut Kasandra.


" Haha! Aku tahu kamu wanita baik- baik. Makanya aku menyukai kamu!" kata Diandra sambil melirik ke arah Kasandra.


" Kamu bisa aja, Diandra!" sahut Kasandra.


" Ngomong- omong! Kenapa kamu memblokir kontak aku?" tanya Diandra to the point.


" Eh, maaf! Aku tidak ingin menjadi wanita yang merusak pagar ayu!" kata Kasandra sambil nyengir.


"Apa itu pagar ayu?" tanya Diandra.


" Pagar ayu itu perusak rumah tangga orang. Jadi aku adalah wanita yang menggoda suami yang sudah beristri." jelas Kasandra sambil tersenyum dan nyengir kepada Diandra.

__ADS_1


" Oh!" sahut Diandra baru menyadari nya. Benar-benar diluar dugaan nya. Diandra pikir Kasandra tidak ingin dia dekati. Diandra lupa kalau Diandra saat itu membawa Sifa putrinya.


"Diandra! Istri kamu orang mana?" tanya Kasandra.


" Orang sini juga kok!" jawab Diandra sambil menatap wajahnya Kasandra yang begitu imut jika sudah lancar dan akrab bercerita dengan dirinya.


" Jadi kamu menganggap aku ini hendak menggoda kamu? Begitu?" tuduh Diandra yang mendapat cengiran dari Kasandra.


" Maaf! Aku salah sangka yah? Aku terlalu GR yah? Aku hanya ingin selalu menjaga jarak dengan laki-laki yang beristri. Takutnya kebablasan." jujur Kasandra dengan polosnya.


" Bagus itu! Tapi aku ingin lebih dekat dengan kamu seperti dulu. Apa itu tidak boleh?" sahut Diandra menggoda.


" Jangan macam- macam toh, Diandra! Itu tidak baik! Nanti kalau istri kamu tahu dan membaca chat kita yang intens gimana? Aku kena labrak gimana?" kata Kasandra.


" Yah tidak apa- apa toh! Yang penting kita sama- sama menyukai. Itu saja! Lagi pula putri aku, Sifa sangat menyukai kamu dan mendukung aku ketika mendekati kamu." kata Diandra lagi.


" Putri kamu? Yang kasih coklat itu bukan?" tanya Kasandra.


" Benar! Cantik yah?" sahut Diandra sambil tersenyum.


" Iya, cantik sekali! Pasti mamanya juga cantik." kata Kasandra.


" Lebih cantik kamu dari pada mamanya anakku." goda Diandra lagi.


" Sudahlah! Jangan macam- macam Diandra! Aku tidak berminat dengan laki-laki yang sudah beristri." ucap Kasandra.


" Hahaha!" Diandra terkekeh.


" Kok lama sekali sih, pak direktur ini! Belum datang- datang juga." keluh Kasandra sambil menatap pintu ruangan itu.


Tidak lama pintu ruangan itu diketuk dan masuklah seorang laki-laki. Dia adalah Herman.


" Nah itu pak Direktur sudah datang! Panjang umur sekali." kata Diandra sambil menjabat tangan Pak Herman dan Pak Herman hanya menatap Diandra penuh tanda tanya dan melongo saja.Diikuti oleh Kasandra yang ikut bersalaman dengan Pak Herman.

__ADS_1


" Selamat pagi, Pak Direktur!" sapa Kasandra ramah. Diandra hanya tersenyum sambil memberikan kode kepada Pak Herman.


" Oh iya pagi! Maaf saya terlambat!"


__ADS_2