
Lukisan wajah Kasandra yang pertama hasil coretan kanvas Diandra telah dibayar oleh Diana. Selembar cek dengan nominal yang cukup fantastik bagi rakyat biasa. Satu milyar bukan uang yang sedikit. Uang itu bisa dipakai untuk beberapa tahun kebutuhan sehari-hari dengan kehidupan sederhana tentunya.
Diandra memegang kertas cek yang bernilai itu. Amplop yang berisikan satu lembar nominal yang cukup fantastik dan diletakkan di ruang kerjanya untuk membuat lukisan dan mencari inspirasi.
Untuk nilai seorang wanita bernama Kasandra memang begitu tinggi. Kini lukisan ke dua yang dibuat oleh Diandra dengan wajah yang sama itupun sudah selesai. Diandra tersenyum dengan hasil yang sudah dia buat. Wajah Kasandra yang bersinar cerah dengan cahaya matahari itu membuat mata lelaki yang memandangnya akan terpesona dan terhipnotis akan auranya. Bayangkan pemuda yang samar hanya mampu menatapnya dari kejauhan. Tangannya ingin meraih sosok Kasandra itu yang sendiri dalam penantian akan kekasihnya. Tema lukisan yang membuat orang akan terharu jika orang bisa memahami akan kandungan yang dimaksud oleh penciptanya.
Bagi Diandra dan kawan-kawan pelukis nya dengan jelas pasti bisa memahami nya. Kerinduan yang sungguh sudah dipuncak harap. Hanya menunggu takdir dan kuasa Tuhan, kedua manusia lawan jenis itu bisa bertemu kembali.
" Kasandra! Aku rindu! Hadir lah walaupun hanya bayangan mu yang hadir dalam mimpiku. Paling tidak pertemuan yang sesaat itu mampu memberikan kelegaan dalam rindu yang makin memberontak.
__ADS_1
*******
Awan mendung terlihat gelap. Siang dengan mentari pun tertutup awan hitam itu. Seperti kegundahan hatiku ketika bimbang dalam menantikan janji itu. Janji yang belum kau penuhi. Janji yang belum kau wujudkan. Padahal disini aku berharap menanti datang mu. Dalam sendiri, sepi menanti hadirmu ke sini. Mengulurkan tanganmu, lalu mengajakku pergi. Pergi mengarungi samudra biru yang terbentang luas.
Aku masih disini. Menunggu kata-kata yang sulit di ucap. Kutunggu kata jujur mu dalam menuangkan segala rasa. Rasa ketika rindu sungguh menghimpit hati. Rasa gundah tatkala resah menanti ungkapan yang bisa membuat tenang jiwa.
Tidak lama kamu hadir. Hadir membawa harapan baru. Namun masih diam membisu. Diam seribu bahasa hanya diam menatap ku sendu. Bibirku pun tak mampu berucap, hanya harap kau merengkuh ku dalam dekap mu erat. Melepaskan segala resah, rindu karena penantian jumpa yang baru tiba.
__ADS_1
Masih sama- sama berdiri mematung dalam tatapan harap yang sama. Ingin meraih dan memiliki seutuhnya. Sama-sama tidak bergerak, hanya diam menatap. Sampai kini sesak mulai memenuhi rongga. Akhirnya pelan- pelan langkah ini mendekat. Lebih dekat sampai kita mencoba merasakan segala nafas hangat.
Tiba-tiba kau menarik ku pelan. Menenggelamkan kepala ku dibalik dia dekapan tanganmu yang kokoh. Aku seketika sulit bernafas karena kepalaku terbenam di dada mu yang bidang. Masih dalam bisu sama-sama tenggelam dalam rasa. Mencurahkan rindu yang meledak- ledak.
Satu tangan kokoh itu kini mengusap pelan di ujung kepalaku. Basah air mataku mulai membasahi kemeja putih mu. Bagimu ini adalah satu bukti betapa aku dan kamu sangat memendam rindu selama ini. Dan hari ini kita akan tuangkan semua dalam rasa walaupun kata-kata yang tak terkatakan itu belum diungkapkan.
Berteriak lah dan suara kan lah hatimu untuk aku. Jangan lagi kau buat kebingungan dan kebimbangan ini. Kita sudah sama-sama paham dan memahami akan rasa ini. Aku dan kamu adalah satu rasa dan sangat sulit mengungkapkan karena antara kamu dan aku masih menyimpan beban. Dan hanya kita yang akan paham.
Lalu? Mari kita ungkap semuanya, Kata-kata yang tak terkatakan itu melalui tindakan. Dalam hembusan nafas yang saling bicara. Dalam sentuhan lembut dan hangat yang hanya kita rasa. Aku dan kamu sama-sama pasrah dalam kehangatan kasih sayang yang tidak bisa diungkapkan.
__ADS_1
I miss you. 😘😍
(Jakarta, 28 Desember 2021)