GODAAN- GODAAN LIAR PELUKIS PROFESIONAL

GODAAN- GODAAN LIAR PELUKIS PROFESIONAL
KALIAN SUDAH GILA


__ADS_3

Diana menggandeng tangan Pandu masuk ke ruangan yang digunakan untuk melukis oleh Diandra. Diandra sejenak masih menikmati setiap hisapan rokoknya yang masih menyala itu. Senyumnya ramah ketika melihat Diana kembali datang bersama dengan seorang pria yang belum ia kenalnya.


Diandra mengulurkan tangannya kepada laki-laki itu yang tidak lain adalah Pandu kekasihnya Diana.


" Diandra!" sebut Diandra yang memperkenalkan dirinya kepada Pandu.


" Pandu!" sebut Pandu akhirnya.


" Jangan terlalu sungkan dong! Ayo mas Diandra! Apakah bisa dimulai sekarang?" ucap Diana sambil tersenyum.


" Terserah kalian saja! Aku hanya mengikuti kemauan kalian loh. Namun kalau ini bikin kalian capek lebih baik pakai foto saja. Dan itu tidak akan membuang- buang waktu kalian berdua." kata Diandra dengan ramah.


" Tidak mas! Kami memang sengaja datang dan menginap di rumah ini untuk keperluan ini kok. Kata Diana, kamu sungguh mahir dan profesional dalam membuat lukisan. Jadi kami sengaja menyempatkan waktu untuk bisa dilukis kamu secara langsung, mas." cerita Pandu.


" Oh begitu. Namun Diana terlalu berlebihan menilai saya sebagai pelukis yang handal."sahut Diandra yang tidak suka terlalu dipuji apalagi terlalu berbasa-basi seperti itu.


" Silakan mau dilukis dengan pose seperti apa terserah kalian saja." tambah Diandra sambil mencampur warna- warna cat yang akan digunakannya untuk melukis.


" Beneran, gayanya terserah kita mas?" tanya Panda akhirnya.


" Iya, benar! Silahkan saja!" jawab Diandra sambil sibuk dengan persiapan untuk melukisnya. Sedangkan Pandu dan Diana mulai senyum- senyum dengan kejahilan nya.


" Sayang! Kamu coba lepas semua baju kamu kemudian kenakan kemeja kuning yang tipis milikku ini." suruh Pandu kepada Diana.


" Hanya pakai kemeja kuning tipis ini, sayang? Kamu yakin?" tanya Diana sampai membulat matanya.

__ADS_1


" Iya! Bolehkan kita sedikit berpose menantang karena aku adalah kekasihmu, sayang!" jawab Pandu dengan senyuman nakalnya.


" Kalau kamu tidak bisa membuka dan melepasnya, biarkan aku saja yang melepas semuanya." kata Pandu lagi.


" Eh??? Aku ke kamar mandi dulu deh." ucap Diana terlihat menunjukkan kegugupan nya.


" Kenapa harus ke kamar mandi? Di ruangan ini pun aku dan mas Diandra pun sudah pernah melihat kemolekan tubuh kamu, sayang? Apa yang membuat kamu malu?" ucap Pandu dengan senyuman nakalnya.


Diandra masih cuek dan tidak peduli dengan obrolan Diana dan Pandu itu. Diandra sudah biasa menghadapi seperti ini. Dan ini bukanlah yang pertama jika harus melukis sesuatu yang erotis.


" Baiklah kalau begitu!" ucap Diana sambil melihat ke arah Diandra namun Diandra terlihat cuek dan tidak peduli serta tidak melihat ke arah mereka berdua.


Diana mulai melepaskan semuanya tanpa sehelai benangpun yang melekat di badannya lalu mulai mengenakan kemeja kuning tipis milik Pandu. Pandu pun bertelanjang dada dengan celana jeans panjangnya. Lalu keduanya melangkah dan duduk di hadapan Diandra. Tempat duduk yang cukup luas yang sudah disiapkan oleh Diandra. Sengaja Diandra memberikan kursi sofa sebagai media untuk duduk mereka.


" Hem? Ini cukup romantis dan erotis untuk kami yang sedang dimabuk kasmaran." jawab Pandu sengaja menunjukkan kemesraan nya di depan mantan suami Diana. Lagi-lagi Diandra tidak peduli dengan itu semua. Bagi Diandra, dirinya sudah mati rasa dan pikirannya hanya tertuju pada wanita yang menjadi inspirasi nya saat ini. Dia adalah Kasandra.


Pandu mulai nakal sedikit membuka tiga kancing kemeja yang dikenakan oleh Diana. Sehingga terlihat sedikit tonjolan yang menyembul di dada milik Diana. Pandu tersenyum sendiri dengan keindahan itu. Diana pun sesekali melihat ke wajah mantan suaminya itu nyaris tidak ada ekspresi dan terpengaruh sedikitpun dengan apa yang sengaja mereka lakukan.


Pandu dan Diana mulai berpose sedikit menantang. Dan Pandu lah yang mengarahkan pose itu. Diana hanya mengikuti arahan dan kemauannya dari Pandu.


" Kalian sudah yakin dengan pose seperti itu? Apakah tidak capek? Biar saya foto dulu, jangan sampai nanti di tengah-tengah saya melukis kalian merasa lelah dan letih dengan pose seperti itu loh." ucap Diandra sambil tersenyum geli.


Diandra mulai mengambil gambar mereka dengan Kamera nya sebelum Pandu mengiyakannya.


" Eh?? Jangan khawatir mas! Kami tidak akan mempersulit kerja kamu, mas!" ucap Pandu sambil tersenyum dan diikuti anggukan dari Diana.

__ADS_1


" Baiklah! Aku mulai yah! Jangan terlalu tegang! Aku akan melukisnya dengan maksimal." ucap Diandra mulai serius melukis dengan obyek kedua pasangan itu.


Lagi-lagi Pandu berusaha menunjukkan kemesraan dan keintimannya di depan Diandra. Namun Diandra tetap fokus dan serius menggarap lukisannya dengan obyek yang ada didepannya itu. Hal itu semakin membuat Pandu semakin geram dan tertantang, kenapa tidak ada ekspresi kecemburuan bahkan kembali tergoda dengan body kekasihnya itu. Padahal dirinya sesekali menciumi Diana di depan Diandra dengan harapan supaya Diandra tidak bisa fokus melukis dengan pose yang menantang itu.


" Diana! Sebaiknya ajaklah kekasih kamu itu ke kamar tamu sana! Mungkin saja dia lagi sangat menginginkan kamu saat ini. Tapi pesanku, pelan kan suara kalian jika melakukan itu. Di samping kamar tamu adalah kamar Sifa." kata Diandra sambil melirik ke arah Pandu.


" Biarkan aku menyelesaikan lukisan ini dengan secepatnya. Aku sudah mendapatkan gambaran abstrak nya kok. Jadi ini sudah bisa membuat lukisan kalian menjadi hidup." kata Diandra.


Pandu yang mendengar Diandra berkata demikian hanya bisa tersenyum dan melirik nakal ke arah Diana.


" Jadi? Apa yang kita lakukan menjadi senjata makan tuan? Pelukis nya benar-benar sangat profesional dan tidak terpengaruh sedikitpun oleh gerakan dan tindakan ku yang menggoda ini. Hahaha." kata Pandu dengan jujur.


" Hahaha. Jadi itu maksudnya? Kamu ingin melihat libido ku naik dan tergoda akan pose itu? Hahaha. Astaga!!" ucap Diandra malah tertawa terbahak- bahak.


" Apakah kamu sudah tidak menyukai wanita seksi lagi, mas? Apakah kamu menjadi menyukai sesama jenis, mas?" tuduh Diana sedikit jengkel.


"Bahkan aku berpose menantang dengan Pandu pun, kamu tetap tidak tergoda sama sekali. Apakah kamu sudah tidak menginginkan semua ini? Apakah kamu mati rasa terhadap hasrat kamu, mas?" tuduh Diana.


" Hahaha tidak seperti itu Diana! Maaf! Aku hanya fokus dengan pekerjaan ini saat melukis kalian dan tidak berpikir yang lain. Itu saja!" ucap Diandra serius menjelaskan.


Kini Pandu nekat menciumi Diana di depan Diandra tanpa malu. Mungkin ketika Diandra tidak sedang fokus dan berhenti melakukan kegiatan melukisnya, Diandra akan menjadi tersiksa akan pertunjukan yang dilakukan oleh Pandu dan Diana. Namun Diandra sesaat masih menahan nafasnya tidak ingin bernafas melihat pertunjukan itu. Matanya melongo melihat Pandu yang dengan ganas dan liar menciumi Diana.


" Cukup! Hentikan semuanya!" teriak Diandra akhirnya marah melihat adegan dewasa itu. Namun keduanya semakin larut dan tidak bisa dihentikan. Akhirnya Diandra meninggalkan keduanya di ruangan itu.


" Kalian berdua sudah gila!" kata Diandra sambil menutup pintu ruangan itu dengan keras.

__ADS_1


__ADS_2