GODAAN- GODAAN LIAR PELUKIS PROFESIONAL

GODAAN- GODAAN LIAR PELUKIS PROFESIONAL
PRIORITAS


__ADS_3

Kasandra masih di dalam pelukan Diandra. Tangisan itu masih saja susah terbendung. Beberapa kali Diandra berusaha membuat tenang Kasandra, namun gadis itu masih belum juga berhenti dari tangisnya. Diandra membelai rambut itu dengan lembut.


" Cup... cup sayang! Maaf, aku minta maaf sudah membuat kamu menangis." kata Diandra lalu membawa Kasandra ke tempat duduk di ruang kerjanya. Diandra menangkup kan kedua tangannya memegang kedua pipi Kasandra.


" Dengar! Aku minta maaf, Kasandra! Sudah yah, jangan menangis lagi! Cup... cup... cup. Jelek banget kalau menangis begini, loh!" kata Diandra.


" Biarin!" sahut Kasandra dengan manyun bibir itu. Diandra seketika tertawa terbahak- bahak.


" Kamu cemburu dengan siapa? Sampai kamu begitu marahnya dengan aku." ucap Kasandra. Diandra jadi diam.


" Laki-laki itu!" sahut Diandra.


" Laki-laki yang mana?" tanya Kasandra kembali.


" Elzatta! Semalam aku melihat kalian berduaan dan berpegangan tangan lagi?" ucap Diandra akhirnya mengakui. Kasandra mengernyitkan dahinya.


" Kamu dimana? Aku tidak ada apa-apa dengan Elzatta. Sungguh!" ujar Kasandra berusaha menjelaskannya.


" Tetapi aku benar-benar melihat kalian berpegangan tangan. Dan kalian begitu dekat. Aku cemburu!" ucap Diandra akhirnya. Kasandra mulai mengingat- ingat kejadian malam itu yang memang kenyataan nya Elzatta mengungkapkan perasaan nya kepada dirinya. Lalu memang Elzatta sempat memegang tangan Kasandra dengan sedikit memohon untuk menerima dirinya sebagai pacar. Kasandra mulai mengingat nya.


" Jadi, malam. itu kamu di sana? Kenapa tidak masuk? Padahal aku sudah... " kata Kasandra.


" Sudah menunggu kamu." sambung Kasandra pelan. Diandra mulai pura-pura marah lagi.


" Untuk apa aku turun dari mobil aku? Aku melihat kamu sedang asyik berduaan dengan Elzatta itu kok." ujar Diandra sambil melirik Kasandra. Kasandra mulai manyun bibir nya.


" Aku tidak sedang berpacaran dengan Elzatta! Aku tidak ada apa-apa dengan dia." ucap Kasandra lagi dengan pelan. Diandra kembali meraih Tubuh Kasandra dan kini memeluknya.


" Iya, maaf! Aku salah sangka! Aku percaya dengan kamu! Tapi aku masih cemburu." ujar Diandra. Kasandra tersenyum menatap Diandra.


" Cemburu? Itu artinya kamu tidak percaya aku, mas!" sahut Kasandra. Diandra menatap mata indah milik Kasandra.

__ADS_1


" Bukan! Aku takut jika gadis aku direbut orang. Aku takut saja, ternyata saingan aku berat juga." kata Diandra. Kasandra mulai mengambil. bekal makanan yang ia bawa dari rumah dan itu masih utuh belum dimakan. Ditambah tadi dirinya keluar beli paketan iga bakar supaya Diandra mau makan.


" Sekarang kamu harus makan ini semua! Aku tidak mau tahu." kata Kasandra. Diandra mulai melihat semua makanan yang masih ada di atas meja itu.


" Sama kamu yah, yank! Kamu kan juga bikin aku cemburu!" tawar Diandra.


" Enggak! Ini semua harus kamu sendiri yang makan." kata Kasandra sambil menyuapi makanan itu ke mulut Diandra. Diandra membuka mulutnya dan mulai mengunyah nya.


Bekal. makanan yang dibawa oleh Kasandra, akhirnya habis di makan oleh Diandra. Kini tinggal sekotak iga bakar yang telah dibeli oleh Kasandra di depan kantor itu. Diandra mulai mengelus perutnya kenyang.


" Sayang! Gantian aku yang menyuapi kamu yah, sayang!" rayu Diandra. Kasandra tetap mengambil makanan itu lalu memasukkan ke mulut Diandra. Mulut itu kembali dibuka, Diandra tidak berani menolak nya. Dalam hati Kasandra cekikikan.


" Rasain loh! Kamu sudah bikin aku menangis." batin Kasandra.


" Enak kan, mas?" tanya Kasandra. Diandra mengunyah makanan itu sudah malas. Perutnya sudah sangat kenyang. Ini masih saja Kasandra menyuapi dirinya dengan nasi kotak paket iga bakar. Untung saja bukan nasi padang yang porsinya segunung itu.


" Enak! Kamu juga ikut makan dong yank!" kata Diandra kini tangannya mulai mengambil nasi dan juga iga itu lalu menyuapi nya ke mulut mungil. Kasandra. Kasandra akhirnya mau juga membuka mulut nya. Diandra tersenyum senang.


" Maaf yah, sayang!" ucap Diandra pelan.


Tiba-tiba Sifa masuk beserta kakek nya tanpa mengetuk pintu.


" Ayah!!" teriak Sifa. Kasandra melepaskan pelukan itu. Sifa dan juga pak Adityawarman tersenyum malu melihat adegan berpelukan dari Diandra dengan Kasandra.


" Ayah! Aku bawakan makanan untuk ayah dan juga tante Kasandra! Ayo kita makan sama-sama! Ayo kek!" ujar Sifa. Kasandra dan Diandra saling pandang.


" Kalian tidak boleh menolaknya yah! Kami sudah membawa makanan kesukaan kamu loh, Diandra!" ujar Pak Adityawarman sambil tersenyum.


" Tapi pa! Aku baru saja makan loh! Kalian saja yah!" tawar Diandra.


" Tante! Ini untuk ayah! Tante bisa menyuapi ayah. Bukankah selama ini ayah menjadi manja kalau sedang ada tante Kasandra?" kata Sifa. Pak Adityawarman menjadi terkekeh.

__ADS_1


" Sifa sayang! Ayah benar-benar sudah kenyang. Kasandra cukup! Aku sudah kenyang." kata Diandra. Namun Kasandra mengambil makanan pemberian Sifa lalu menyuapi nya ke mulut Diandra. Diandra mulai membulat matanya.


" Sayang! Sepertinya ayah hendak ke toilet dulu deh!" ujar Diandra mulai beralasan. Sifa, Kasandra dan Pak Adityawarman menjadi tersenyum jahil.


" Kamu bisa makan, Kasandra!" ujar Pak Diandra.


" Iya om! Kami sebenarnya baru selesai makan juga kok om." sahut Kasandra. Sifa jadi cekikikan.


" Kapan lagi bisa ngerjain ayah, bukan?" sahut Sifa masih cekikikan.


" Tante habis menangis yah?" tanya Sifa sambil berusaha meneliti mata Kasandra yang sedikit bengkak akibat menangis.


" Tidak!" sahut Kasandra sambil tersenyum.


" Tante habis tidur siang, Nak!" sahut Diandra yang keluar dari toilet di ruang kerjanya. Sifa tidak mudah percaya begitu saja.


" Pasti, ayah nakalin tante yah? Awas saja kalau ayah bikin tante menangis. Aku yang maju duluan." ucap Sifa, Kasandra jadi memeluk anak yang sudah ABG itu. Pak Adityawarman tersenyum.


" Ayo kita kembali! Apa mau tidur di kantor?" ajak Diandra. Semuanya berdiri demikian juga dengan Pak Adityawarman.


" Ke rumah papa dulu yah, Diandra! Ajak Kasandra sekalian! Mama juga harus mengetahui hubungan kalian. Jangan lama- lama! Kalian harus secepatnya menikahi Kasandra." ujar Pak Adityawarman. Kasandra menunduk malu.


" Bunda Kasandra!" sahut Sifa pelan. Diandra dan Kasandra menatap ke arah Sifa.


" Kenapa melihat aku begitu sih? Tidak boleh yah, jika aku memanggil bunda? Hem mommy Kasandra! Oh benar! Mommy Kasandra!" ucap Sifa. Kasandra dan Diandra tersenyum saja.


" Kakek! Kakek setuju kan jika Sifa memanggil tante Kasandra dengan mommy Kasandra?" tanya Sifa. Pak Adityawarman terkekeh.


" Nanti kalau ayah kamu sudah berani menikahi tante Kasandra. Ayah kamu itu masih mencintai lukisan nya dibandingkan dengan yang lainnya kok." sahut Pak Adityawarman. Diandra diam- diam memegang pergelangan tangan milik Kasandra.


" Aku akan memprioritaskan kamu, kok sayang! Percaya aku yah!" bisik Diandra. Kasandra nyengir kuda.

__ADS_1


__ADS_2