
Malam itu kedua pasangan kekasih itupun nekat dengan rencananya. Diana mengajak Pandu ke rumah, dimana tempat tinggal itu ada anak dan mantan suaminya di sana. Rumah yang sudah menjadi sejarah akan kehidupan rumah tangganya bersama Pandu. Rumah tangga yang meninggalkan cerita bahagia sedih dan duka. Namun rumah itu kini bagi Diana menjadikan dirinya seketika menjadi hambar tanpa ada lagi cinta untuk pria yang kini sudah menjadi mantan suaminya.
" Rumah kamu bagus dan megah yah, sayang!" kata Pandu yang menatap bangunan megah dan mewah dengan tatanan yang rapi dan elegan.
" Itu bukan lagi rumah aku, sayang! Itu rumah mantan suami aku dan anakku Sifa. Rumah itu dulunya adalah hadiah pernikahan kami dari mertuaku. Tepatnya pemberian dari orang tua dari mantan suami aku. Dan aku malas untuk memperebutkan nya. Tidak mempersulit aku dalam urusan perceraian itupun aku sudah lega dan senang tanpa harus hitung menghitung harta gono- gini. Aku wanita mandiri dan bisa menghasilkan uang sendiri, bukan?" ucap Diana sambil tersenyum.
" Iya! Aku percaya itu. Namun kapan kamu akan membeli rumah sendiri?" tanya Pandu.
" Sebentar lagi, sayang! Perceraian aku dengan Mas Diandra masih kami sembunyikan dari kedua orang tua kami sayang!" cerita Diana dengan manja.
" Lalu kapan mereka segera mengetahuinya kalau rumah tangga kalian sudah tidak bisa dipertahankan? Lalu kapan aku bisa masuk dalam keluarga besar kamu, sayang?" tanya Pandu dengan sorot tajam.
" Sabar dong sayang! Ini tidak akan lama kok." sahut Diana sambil mengusap lengan milik Pandu yang kekar.
" Ayo masuk aja dan hidupkan kembali mobilnya, pagar sudah dibuka oleh penjaga rumah itu." ajak Diana kepada Pandu dengan lembut.
Mobil mewah milik Diana itupun sudah masuk ke dalam halaman rumah yang ada Diandra dan anaknya itu.
*******
Diana dan Pandu kini berada di ruang tamu. Sedangkan Diandra masih di ruangan dimana dirinya biasa menyendiri untuk melukis atau menuangkan idenya dalam coretan kanvas itu.
" Dimana pria itu?" tanya Pandu yang menanyakan sosok laki-laki yang sudah menjadi mantan suami kekasihnya itu.
" Dia ada di ruangan untuk melukis. Bagaimana kalau kita langsung ke sana!" ajak Diana kepada Pandu.
" Tidak! Jangan! Kamu saja yang bicara pada mantan suami kamu itu jika kamu menghendaki lukisan kita berdua dan di lukis olehnya. Setelah oke, baru nanti kita sama- sama masuk ke ruangan melukisnya." ucap Pandu seolah memerintah.
" Baiklah!" sahut Diana sambil melangkah ke ruangan dimana ada Diandra di sana.
" Eh, sayang!" panggil Pandu sedikit berteriak memanggil Diana.
__ADS_1
" Hem?" tanya Diana.
" Aku mau kopi dong, sayang!" jawab Pandu sambil tersenyum.
" Oh! Baiklah, akan aku buatkan kopi dulu untuk kamu, sayang!" kata Diana sambil tersenyum.
" Terimakasih, sayang!" sahut Pandu sambil mengedipkan matanya dengan genit.
*******
Suara langkah kaki wanita mulai mendekati Diandra yang masih fokus dengan lukisannya. Lukisan ke tiga dengan tema Kata- kata yang tidak terkatakan. Gambaran wanita cantik yang kini berada dipinggir danau dengan laki-laki yang menatap ke wanita cantik itu tanpa bicara. Hanya rindu dan harap dari sorot mata pria itu kepada wanita yang duduk sendiri dipinggir danau itu.
Diana masih diam- diam memperhatikan lukisan yang kurang sepuluh persen jadi itu tanpa diketahui kehadiran nya oleh Diandra karena terlalu fokus dan tenggelam dalam dunia lukisnya. Diana tersenyum melihat lukisan itu. Tangan Diana dengan pelan mengusap lengan milik Diandra dengan lembut hingga Diandra baru sadar kalau ada Diana di samping nya.
" Wah.. wah kamu sangat fokus dan menghayati sekali dalam melukis sehingga kehadiranku pun tidak kamu sadari." kata Diana sambil tersenyum.
" Maaf! Kamu nyaris hilang dari pikiranku sehingga aroma tubuhmu pun sudah tidak bisa aku cium lagi." sahut Diandra lalu meletakkan kuas dan peralatan untuk melukisnya.
" Tidak apa! Kamu mau menginap malam ini kah?" tanya Diandra kepada Diana.
" Iya! Bolehkah? Aku nanti akan tidur di kamar tamu." ucap Diana.
" Boleh saja! Ini juga masih rumah kamu kok." sahut Diandra.
" Setelah kemarin kita resmi bercerai, aku sudah tidak berhak tinggal di sini lagi. Aku akan segera tinggal di rumah baru aku. Tapi aku mohon untuk kabar perceraian kita ini, jangan sampai kedua orang tua kita tahu dulu, Mas." kata Diana.
" Kenapa? Mereka pun juga tidak bisa berbuat apa-apa dengan karena kita sudah resmi bercerai dan bukan suami istri lagi." kata Diandra dengan senyum getir.
" Kamu ini, mas! Setelah bukan lagi menjadi suami aku, kok aku malah menjadi tertarik pada kamu. Dan melihat body kamu yang kekar dan kokoh itu membuat aku semakin berpikir kotor untuk bisa mencoba kembali bermain dan bergumul dengan kamu." kata Diana dengan mata yang nakal dan liat.
" Diana! Kamu itu seperti wanita yang liar dan buas serta haus akan belaian seorang pria. Bukannya kamu sudah ada calon suami kamu?" sahut Diandra mencoba memperingati Diana.
__ADS_1
" Hahaha! Jangan diambil hati dong! Namun kalau kamu mau, aku bisa membayar kamu, mas." kata Diana nakal.
" Astaga!" sahut Diandra sambil memukul jidatnya.
" Oh iya mas, aku datang bersama kekasih aku, Pandu." ucap Diana akhirnya.
" Oh ya? Dimana dia?" tanya Diandra.
" Ada di ruang tengah! Pandu masih minum kopi dan merokok." kata Diana.
" Oh, biar aku ke sana! ucap Diandra.
" Tidak usah! Biar aku ajak Pandu ke ruang kerja kamu ini saja, mas! Karena kita ingin dilukis oleh kamu, mas." kata Diana.
" Kalian ingin aku lukis?" tanya Diandra sampai membulat matanya.
" Iya benar! jawab Diana singkat.
" Ya sudah! Kasih aja foto kalian kepadaku biar besok aku bisa mulai melukisnya." kata Diandra akhirnya.
" Tidak! Tidak! Aku dan Pandu ingin menjadi obyek dan langsung kamu lukis disini, mas. Jadi kamu bisa mendapatkan detail dari wajah, body kami berdua." kata Diana sambil tersenyum.
" Kenapa repot begitu sih? Kalian bisa memberikan aku foto dengan gaya kalian berdua. Dan tidak perlu berlama-lama di ruangan ini." kata Diandra memberikan usulnya.
" Enggak ah! Itu tidak seru, mas!" sahut Diana.
" Anggap aja kamu berbuat baik kepada kami, mas. Namun begitu, aku akan membayar kamu dengan harga yang fantastik. Apakah dua milyar kurang untuk kamu?" kata Diana menantang.
Diandra diam namun menatap dengan lekat bola mata Diana yang sedang memohon kepadanya.
" Baiklah! Terserah kamu saja! Ajak kekasih kamu kemari!" kata Diandra akhirnya sambil mempersiapkan bidang kanvas yang baru.
__ADS_1
Diana mulai keluar dari ruangan kerja Diandra dan memanggil Pandu di ruang tamu. Sedangkan Diandra mulai mengambil rokoknya dan menariknya satu batang lalu menyalakan nya.