GODAAN- GODAAN LIAR PELUKIS PROFESIONAL

GODAAN- GODAAN LIAR PELUKIS PROFESIONAL
SUKA JAHIL


__ADS_3

Sampai di rumah kontrakan Kasandra. Benar saja, Gita sangat heboh dengan kedatangan Diandra. Gita sampai salah tingkah dan beberapa kali berkaca dan juga berdandan. Kasandra yang melihat tingkah Gita yang heboh sendiri jadi geli melihat nya.


Diandra duduk di ruang tengah rumah kontrakan itu dengan beralaskan karpet murahan yang tidak berbulu. Gita selalu curi- curi pandang ada sosok tampan yang saat ini mengenakan kaos oblong nya. Kemeja kerjanya ia lepas dan ganti ketika di dalam mobilnya sebelum turun ke rumah kontrakan Kasandra.


" Aku boleh merokok kan?" tanya Diandra kepada Gita yang sedari tadi melihat wajah Diandra tak berkedip.


" Boleh!" sahut Gita. Kasandra di dapur sibuk membuat masakan untuk makan malam bersama.


" Kasandra mana sih?" tanya Diandra. Gita seketika terkejut karena masih memandangi wajah Diandra.


" Eh, ada di belakang. Di dapur, sedang masak." sahut Gita.


" Aku akan membantu Kasandra masak." kata Diandra lalu berdiri dan bergegas ke dapur. Namun ditahan oleh Gita.


" Eh, tidak perlu. Biar kami saja yang masak. Mas Diandra tetap saja duduk santai di sini." kata Gita.


"Begitu yah! Kalau begitu bilang sama Kasandra. Apakah disini lagi kemarau panjang? Secangkir kopi pun tak ada untuk kawan merokok ini." ucap Diandra. Gita bergegas menyampaikan hal. itu pada Kasandra.


Diandra masih menghisap batang rokoknya yang sudah menyala sambil meminum botol mineral sedang yang tadi ia bawa.


" Kasandra! Diandra minta kopi." kata Gita menyampaikan. Kasandra tersenyum saja.


" Apa katanya?" tanya Kasandra sambil membuatkan kopi instan untuk Diandra.


" Katanya? Apakah disini lagi kemarau panjang? Secangkir kopi pun tak ada untuk kawan merokok ini. Katanya Diandra begitu." cerita Gita. Kasandra terkekeh.


" Kenapa kamu tidak bilang padanya. Tidak ada sumur disini." sahut Kasandra.

__ADS_1


" Oh tidak Kasandra! Aku tidak mungkin mengecewakan orang ganteng dirut kita itu. Kamu enak sekarang, sudah naik jabatan di perusahaan itu." kata Gita dengan cemberut bibirnya.


" Apaan? Aku di sana seperti baby sitter Diandra saja. Tiap hari menyuapi dia makan di sela-sela dia menyelesaikan kerjaannya yang padat. Belum tiap hari aku bertugas menyiapkan menu untuk bekal. makan siangnya pak Dirut itu." keluh Kasandra.


Gita melongo mendengarkan semua keluhannya Kasandra.


" Aku rela melakukan itu asal bisa dekat dengan bos muda itu. Bagaimanapun kalau kita tukar posisi?" sahut Gita. Kasandra seperti setuju.


" Ayolah! Kamu sampaikan saja hal ini pada Diandra. Aku kok lebih nyaman kalau kerja di bagian pengawasan. Tapi besok aku dengan Diandra mau turun ke lokasi proyek yang saat ini ada permasalahan. Bagian kontraktor tidak jujur dalam menggunakan bahan materialnya. Dalam proposal disebut dan diuraikan bahan baku material dengan kwalitas dan harga yang tinggi. Namun dalam aplikasinya, pemborong itu membelanjakan bahan materialnya dengan kwalitas yang rendah. Hal itu benar-benar merugikan pihak yang mempercayakan jasa konstruksi ini pada perusahaan kita. Mereka bisa menuntut balik akan ketidakjujuran ini." cerita Kasandra panjang lebar.


" Benar! Aku sudah mendapatkan laporan tentang ini. Namun belum ada instruksi untuk turun ke lapangan. Jadi besok kamu dan pak Diandra ya g langsung turun ke lokasi yah?" tanya Gita.


" Benar! Pak Adityawarman yang menyuruh kami." sahut Kasandra. Gita terkejut.


" What? Bahkan kamu bertemu langsung dengan calon mertuaku itu?" kata Gita. Kasandra malah terkekeh.


" Ini kopinya. Lama yah? Nunggu hujan turun dulu tadi. Di sini sudah lama kemarau panjang nya." kata Kasandra. Diandra seketika terkekeh.


" Tidak masalah! Untuk masih diberi hujan kan?" sahut Diandra. Kasandra bergegas kembali ke dapur.


" Sudah selesai semua! Ayo kita siapkan di depan. Kita makan bersama dengan dirut ganteng." ajak Gita mulai mengangkat hasil masakan dari Kasandra.


Hasil masakan Kasandra sudah tersaji semua di atas karpet di ruang tengah. Diandra masih menikmati sisa kopi yang dibuatkan oleh Kasandra. Gita menatap Diandra yang masih terlihat cuek saja.


" Ayo makan yuk!" ajak Gita. Diandra masih diam tidak bergerak. Kasandra dan Gita sudah mengambil porsi makanan nya. Namun Diandra masih diam tidak mau makan.


" Mas Diandra tidak mau makan?" tanya Gita. Kasandra juga ikut melihat dan menunggu jawaban dari Diandra.

__ADS_1


" Kalian makan duluan saja! Aku masih minum kopi ini kok." sahut Diandra lalu menyaksikan kedua ciwi-ciwi itu menikmati makan malamnya.


" Mas, Kata Gita minta tukar posisinya dengan aku." kata Kasandra. Diandra mengernyitkan dahinya.


" Posisi yang mana yah?" tanya Diandra. Gita jadi salah tingkah dan malu- malu.


" Eh tidak! Tidak aku hanya bercanda saja kok Kasandra. Aku tidak serius." sahut Gita yang makin salah tingkah. Diandra kembali cuek dan dingin.


Gita dengan cepat menghabiskan makanan nya. Lalu mulai meninggalkan mereka berdua.


" Kamu benar-benar tidak mau makan?" tanya Kasandra. Diandra menggelengkan kepalanya.


" Aku ambilkan yah?" tawar Kasandra. Kasandra tetap mengambilkan sedikit porsi untuk Diandra, takut kalau Diandra tidak menyukai masakan nya.


" Ini dimakan dulu, Diandra!" kata Kasandra sambil. menyodorkan piring yang berisi nasi, sayur dan lauknya. Namun Diandra masih tidak bergeming dan hanya menatap makanan nya saja. Kasandra jadi cemberut karena seperti tidak berselera saja Diandra melihat hasil masakan nya.


Kasandra mengambil piring itu dan mulai menyuapi ke mulut Diandra pelan- pelan. Diandra mulai. membuka mulutnya dan menguyah dari suapan Kasandra. Kasandra tersenyum melihat reaksi Diandra yang terlihat menyukai hasil masakan nya.


" Enak tidak?" tanya Kasandra kepada Diandra.


" Enak banget! Lagi dong!" ucap Diandra Kasandra jadi tersenyum.


Sampai beberapa kali suapan Kasandra menjadi sadar akan kejahilan dari Diandra.


" Kenapa aku yang jadi menyuapi Diandra? Dasar manja! Tidak mau makan sendiri." pikir Kasandra kini bibirnya menjadi cemberut. Diandra melihat perubahan wajah dari Kasandra itu.


" Kalau berbuat baik itu harus didasari dengan hati yang tulus, ikhlas, hati tidak menggerutu. Hilang pahala nya loh!" sindir Diandra. Kasandra seperti kena hujaman belati di jantungnya.

__ADS_1


' Si.. si.. siapa yang menggerutu?" sahut Kasandra sambil memberikan suapan nya yang terakhir. Diandra tersenyum cuek.


__ADS_2