GODAAN- GODAAN LIAR PELUKIS PROFESIONAL

GODAAN- GODAAN LIAR PELUKIS PROFESIONAL
IJIN MENIKAH


__ADS_3

Dika kini sudah berbicara serius dengan kedua orang tuanya. Niatannya sudah serius untuk menikahi Gladis. Namun kembali orang tua Dika masih saja ngotot belum merestui pernikahan itu jika Dika menikah dengan Gladis. Akhirnya Dika dengan lantang dan keras berkata kepada kedua orang tuanya.


" Aku sudah menghamili Gladis!" kata Dika dengan suara keras. Kedua orang tua Dika akhirnya terdiam dan tidak mampu berucap lagi. Namun selang berapa menit, mama Dika malah yang menyambar dengan kata-kata yang diluar dugaan Dika.


" Siapa tahu, wanita itu tidur dengan laki-laki lain selain kamu. Lalu dia mengaku kalau itu anak kamu." sahut mama Dika. Dika membulat matanya. Bola. matanya seolah mau lepas dari sana. Papa Dika tersenyum seolah membenarkan ucapan istrinya tersebut.


" Astaga, mama! Gladis tidak se-be-jat aku ma!" kata Dika sambil menarik rambut nya sendiri.


" Baiklah, kalau begitu! Menikah lah dengan wanita pilihan kamu! Namun setelah anak itu lahir, kamu harus menceraikan nya. Itu syarat dari papa." kata papa Dika.


" Tapi, pa!" Dika keberatan. Namun setelah berpikir panjang akhirnya Dika mengikuti syarat dari papanya itu. Jika tidak, Dika akan kehilangan semua aset- aset dan perusahaan yang akan sepenuhnya menjadi miliknya itu. Toh saat ini dirinya bisa menikahi Gladis secepatnya. Urusan nanti, Dika akan mengulur waktu supaya Gladis dengan dirinya tidak bercerai.


" Yang terpenting sekarang aku bisa menikahi Gladis fan bertanggung jawab atas tindakan aku terhadap Gladis. Aku tidak ingin Gladis menderita dan sedih karena ulah aku." pikir Dika dalam hati.


******

__ADS_1


Di lain tempat.


" Bagaimana Dis?" tanya July saat ini mereka sudah berkumpul di sanggar lukis. Ada Diandra di sana.


" Dika sudah bertemu orang tua aku dan Dika juga sudah berbicara dengan papa mama nya." jawab Gladis. July dan Diandra mendengar dengan seksama.


" Jadi kapan rencana menikah?" tanya July kepo banget.


" Dua minggu dari sekarang. Sabtu ada lamaran ke rumah. Kalian harus datang ke rumah aku yah." jelas Gladis dengan mata berbinar dan penuh kebahagiaan.


" Syukurlah! Aku sangat senang sekali." sahut July.


" Kamu baru lima menit duduk di sini loh, Dra!" protes July. Diandra tersenyum saja.


" Sore aku mampir ke sini. Aku harus ngantor dulu. Oke?" kata Diandra. Gladis tersenyum renyah.

__ADS_1


" Sore kami sudah balik." sahut July lalu Gladis mengangguk kepalanya mengikuti kata July.


" Yah sayang sekali! Tapi hari ini ada jadwal meeting di kantor. Aku bisa kena damprat ayah, tante, dan om aku." jelas Diandra dengan wajah takut seperti anak sekolah yang hendak kena hukuman. Gladis dan July tersenyum.


" Oke! Oke! Sukses buat kamu, Diandra! Repot kalau sudah berurusan dengan pebisnis muda." sahut July.


" Benar, repot banget. Tapi jangan khawatir, koleksi lukisan aku sudah banyak kok. Di ruangan aku, aku masih menyempatkan melukiskan sesuatu yang indah itu." kata Diandra sambil memainkan matanya.


" Wanita itu?" tanya July. Diandra tersenyum saja.


" Benar! Aku menjadi sangat bersemangat untuk pergi ke kantor." cerita jujur Diandra.


" Kenapa? Apakah wanita itu kerja di sana juga?" ucap July menganalisa.


" Tepat!" sahut Diandra singkat. July tertawa bahagia.

__ADS_1


" Wah, makanya kamu jadi semangat ngantor nya. Setelah hampir bertahun-tahun disuruh ikut mengelola perusahaan itu masih malas- malasan. Ternyata ada sang penyemangat!!" ucap July. Diandra terkekeh saja. Gladis ikut tersenyum.


" Gladis! Jaga itu orok di dalam perut kamu! Jangan pecicilan yah!" kata Diandra sebelum berlalu meninggalkan mereka berdua.


__ADS_2