GODAAN- GODAAN LIAR PELUKIS PROFESIONAL

GODAAN- GODAAN LIAR PELUKIS PROFESIONAL
RENCANA NIKAH


__ADS_3

Sore itu, Kasandra di ajak ke rumah kediaman Pak Adityawarman. Kasandra berkenalan dengan mamanya Diandra. Gugup? Benar! Kasandra tentu sangat gugup berjumpa dan berkenalan dengan orang tua Diandra. Mereka terlihat sudah sangat serius dan mendukung jika Diandra secepatnya menikah dengan Kasandra. Apalagi dari proses cerai antara Diana itupun sudah terjadi lama.


Kasandra merasa minder ketika berada di lingkungan keluarga Diandra. Kasandra tidak mengira jika orang tua Diandra benar-benar berlimpah kekayaannya. Kalau saja Diandra tidak duduk dan ikut bergabung di perusahaan milik keluarga nya itu dan hanya fokus dengan profesi melukis nya, pasti tidak terlihat kalau Diandra sejatinya memang seorang milyarder. Apalagi sikap konyol dan apa adanya Diandra itu, menutupi kalau dirinya adalah anak mahkota dan pewaris tunggal dari keluarga Adityawarman itu.


" Diandra! Kamu sebagai laki-laki harus gentle dong! Cepat datangi orang tua Kasandra dan lamar Kasandra secepatnya. Jangan sampai kamu keduluan orang lain." kata mama Diandra. Diandra melirik ke arah Kasandra.


" Kamu mau kan, jika aku kawini?" tanya Diandra kepada Kasandra dan tanpa malu dihadapan papa, mama nya. Spontan Pak Adityawarman menarik telinga Diandra.


" Nikah, Diandra! Bukan kawin! Dalam pikiran kamu apa hanya kawin saja, hah?" protes Pak Adityawarman. Kasandra menahan tawanya.


" Iya, maksudnya itu pa! Tapi di buku nikah nanti tertulis kawin loh, pa! Jadi aku tidak salah sebut." sanggah Diandra. Pak Adityawarman melihat istrinya seperti mempertanyakan kebenaran dari buku nikah itu, apakah tertulis kawin atau menikah.


" Sudah lah! Jangan membahas itu! Kapan kalian siap untuk menikah?" kata mama Diandra. Pak Adityawarman membenarkan apa kata istri nya itu.


" Aku terserah papa, mama saja deh! Kalau Sifa sudah mendukung sekali kalau Kasandra menjadi mommy nya." kata Diandra kembali melirik Kasandra. Kasandra tersenyum malu.


" Kasandra sudah tidak memiliki bapak, pa! Tinggal ibu nya saja. Jadi Kasandra masih punya tanggung jawab terhadap ibunya di kampung nya." cerita Diandra. Kasandra membenarkan dan mengangguk pelan.


" Jangan khawatir! Jika ibu kamu mau dan berkenan boyong saja ke kota ini. Setidaknya biar Diandra ikut juga bertanggungjawab terhadap kesejahteraan ibu kamu, nak! Tidak sekedar menginginkan anaknya saja, namun juga ikut memperhatikan orang tua dari istrinya juga." kata Pak Adityawarman. Mama Diandra membenarkan ucapan suaminya tersebut.

__ADS_1


" Tapi kamu benar-benar mau kan, Kasandra? Jika menikah dengan Diandra yang super jahil dan bandel itu?" tanya Pak Adityawarman. Kasandra dengan cepat mengangguk pelan.


" Bagus! Ini namanya calon istri yang baik." sahut Diandra.


" Sedikit meralat, pa! Aku tidak jahil dan bandel kok pa. Aku pendiam dan baik budi, loh!" ucap Diandra. Kasandra kembali menahan tawanya.


" Kasandra saja tersenyum loh! Itu artinya kamu selalu menjahili Kasandra, bukan?" sahut mama Diandra.


" Benar, ma!" ucap Pak Adityawarman.


" Diandra dari dulu suka usil." tambah Pak Adityawarman.


" Papa, mama sebenarnya ingin segera aku menikah dengan Kasandra atau tidak sih? Ini malah di depan Kasandra, menunjukkan aib aku. Nanti kalau Kasandra jadi tidak mau menikah dengan aku bagaimana? Akhirnya papa, mama tidak jadi mendapatkan cucu yang banyak lagi loh." ujar Diandra. Kasandra membulat matanya.


" Aku rasa, semua yang ada pada diriku bagi Kasandra terlihat istimewa dan tidak ada cacatnya, pa. Karena Kasandra mencintai aku. Bukankah begitu, yank?" ujar Diandra. Kasandra hanya tersenyum dengan kekonyolan Diandra ketika dihadapan papa, mama nya itu.


" Baiklah pa, ma! Setelah acara pameran seni lukis nanti, aku akan melamar Kasandra yah! Jadi planning tahun baru kami akan menikah." kata Diandra berencana.


" Terserah kalian saja! Papa mama pasti mendukung. Tapi jangan ditunda- tunda lagi yah!" pesan Pak Adityawarman.

__ADS_1


" Siap, pa! Kalau begitu kami pamit pulang! Sekalian mengantarkan Kasandra ke kontrakannya." ucap Diandra.


" Baiklah! Hati-hati Diandra! Sifa biar di sini dulu." kata mama Diandra. Sifa memang sudah biasa menginap di rumah kakek dan neneknya. Apalagi setelah Diana menggugat cerai dengan Diandra.


" Baik ma!" sahut Diandra sambil mencium punggung tangan milik papa, mama nya. Kasandra mengikuti nya mencium calon mertuanya itu.


*******


" Kamu yakin akan menikahi aku, mas?" tanya Kasandra.


" Yakin dong!" sahut Diandra cepat.


" Tapi aku dari keluarga yang sederhana loh, mas! Apakah kamu tidak malu?" kata Kasandra.


" Tidak! Bagi aku kamu itu sempurna. Kamu tahu bukan, lagu dengan judul Sempurna itu. Nah lagu itu sebenarnya diciptakan untuk kamu." canda Diandra. Kasandra mencubit lengan milik Diandra.


Sesampainya di depan rumah kontrakan itu. Diandra menghentikan mobilnya.


" Aku tidak mampir, tidak apa- apa kan?" kata Diandra. Kasandra mulai turun dari dalam mobil itu.

__ADS_1


" Tidak apa! Lagi pula aku tidak menyuruh kamu mampir kok." sahut Kasandra sambil menjulurkan lidahnya. Diandra dengan cepat menarik hidung Kasandra.


" Nanti malam aku video call yah!" ucap Diandra. Kasandra mengangguk pelan.


__ADS_2