
Di lain tempat Gita terlihat uring-uringan terhadap Elzatta. Gita masih mempermasalahkan adegan ketika Elzatta sedang berpelukan dengan Kasandra. Bahkan ada sedikit adegan ciuman diantara mereka.
Elzatta yang melihat Gita uring-uringan itu menjadi gerah.
" Kamu kenapa sih, sayang? Itu hanyalah akting saja sayang. Kenapa kamu seperti kebakaran jenggot seperti itu sih? Aku dan Kasandra tidak sedang bermain ranjang. Kamu tidak perlu cemburu jika melihat aktris dan aktor berpelukan bahkan berciuman. Ini sudah menjadi bagian dari kerjaan kami jika ada adegan romantis." kata Elzatta. Gita masih cemberut bibir nya.
__ADS_1
" Kalian seperti benar-benar melakukan nya dengan perasaan." kata Gita. Elzatta rasanya ingin membungkam saja mulut Gita itu supaya tidak ngoceh saja. Lalu menindihnya supaya tidak banyak protes. Namun kali ini mereka belum sampai di apartemen nya. Hal itu menjadikan Elzatta menahan dirinya untuk melakukan hal itu.
" Kita mampir makan dulu yah, sayang!" kata Elzatta. Gita masih menunjukkan bibir yang cemberut nya.
" Tidak perlu! Aku ingin pulang saja. Aku lagi tidak selera makan." ucap Gita. Elzatta tersenyum melihat tingkah Gita yang kekanak-kanakan ketika sedang cemburu itu. Elzatta mempercepat laju mobilnya. Hingga tidak sampai satu jam, akhirnya Elzatta dan Gita telah sampai di apartemen nya.
__ADS_1
Cukup lama keduanya saling bercumbu dan sampai akhirnya keduanya sama-sama menikmati permainan yang intens itu di atas sofa panjang di ruangan tengah. Seandainya saja dinding di ruangan itu bisa memprotes atas apa yang mereka lakukan, mereka tidak akan sanggup menyaksikan dan mendengarkan semua kegiatan itu. Dinding itu mungkin akan mengeluarkan darah di telinga, mata dan bahkan matanya karena pemandangan itu akan menyakiti dirinya yang ingin menghendaki kegiatan seperti itu namun tidak bisa dilakukannya. Ini sangat menyakitkan bagi si jomblo yang dalam kesepian nya.
Gita tersenyum ketika Elzatta mulai menguasai dirinya. Dalam hembusan nafas yang semakin panas dan dalam irama jantung yang kian tidak menentu keduanya saling dekap dan saling bersentuhan dalam irama yang senada. Suara keduanya menghasilkan melodi yang membangkitkan keinginan untuk melakukan hal. yang sama. Keringat dan peluh mulai keluar di dahi keduanya yang bertarung untuk menuju titik tertinggi dalam perjuangan mereka. Hingga akhirnya sesuatu yang hendak lepas dari dalam keduanya ingin segera tertumpah. Elzatta enggan melepaskan yang sudah terbenam di dalamnya. Hingga sesuatu itu menyembur keluar di dalam membuat Gita memekik keras dan akan menimbulkan dinding-dinding ruangan itu seketika menutup telinga nya jika bisa melakukannya. Elzatta ambruk di atas mainannya. Gita memeluk Elzatta erat. Keduanya kini mulai mengatur nafasnya supaya kembali lebih tenang. Dalam senyuman yang merekah keduanya saling berpelukan.
" Sayang, aku menjadi lapar." ucap Elzatta.
__ADS_1
" Aku juga!" sahut Gita yang sudah mencair seperti es dan lupa atas kecemburuan yang ia rasakan sebelum nya.