GODAAN- GODAAN LIAR PELUKIS PROFESIONAL

GODAAN- GODAAN LIAR PELUKIS PROFESIONAL
BEDA YAH?


__ADS_3

" Ruangan untuk melukis kamu cukup keren yah mas! Kamu bisa betah lama- lama di sini." ucap Kasandra sambil melihat satu lukisan yang membuat matanya tertuju pada gambar itu. Diandra tersenyum.


" Itu Diana dengan Pandu." kata Diandra memberitahu. Kasandra mengerutkan dahinya lalu menatap wajah Diandra penuh tanya.


" Diana, mama nya Sifa. Pandu, kekasihnya saat ini." jelas Diandra. Kasandra seperti bernafas lega. Diandra tersenyum melihat reaksi gadis yang saat ini duduk di kursi kayu dekat tempat tidur kecil di ruangan privat Diandra ketika menuangkan imajinasinya dalam bentuk lukisan.


" Siapa yang melukisnya? Apakah juga hasil lukisan kamu mas?" tanya Kasandra seperti hendak memastikannya.


" Siapa lagi kalau bukan hasil coretan tangan aku ini." sahut Diandra dengan penuh kesombongan.


" Maksud aku, mereka minta dilukis oleh mas Diandra dengan pose seperti itu?" Kasandra kembali memastikan lagi. Diandra hanya tersenyum menjawab pertanyaan dari Kasandra.


" Waktu itu mereka datang ke rumah ini dan mencari aku untuk minta dilukis. Mereka lalu berpose seperti itu di depan aku. Bagus kan?" kata Diandra menjelaskan.


" Apakah kamu tidak sakit hati ketika seorang wanita yang dulunya pernah mengisi hari- hari, mas Diandra bermesraan dengan laki-laki lain. Apalagi di hadapan mas Diandra." kata Kasandra.


" Awalnya aku profesional melukis mereka dengan gaya yang mereka inginkan. Ketika aku fokus mengerjakan nya, bagi aku tidak masalah dan tidak berpengaruh terhadap aku. Namun ketika mereka melakukan itu ketika aku sedang istirahat. Itu akan membuatku jengah dan geram. Mereka sengaja melakukan itu di depan aku untuk menunjukkan bahwa mereka sudah bahagia tanpa aku." cerita Diandra.

__ADS_1


" Jadi, kamu sempat marah juga ketika Diana ini lebih intim dengan laki-laki itu?" tanya Kasandra penuh selidik.


" Awalnya aku tidak peduli karena kami sudah bercerai dan mulai saling menghargai. Namun mereka di depan aku, sengaja memancing emosi aku dan sengaja membuat aku cemburu. Nyatanya memang aku sakit hati akan perilaku mereka yang berbuat nekat dan senonoh di depan aku tanpa malu." cerita Diandra blak-blakan.


" Kasihan!" sahut Kasandra. Diandra menatap lekat manik mata Kasandra. Kini Diandra meraih kedua pipi Kasandra dengan kedua tangannya yang kokok dan menatap mata gadis itu.


" Kamu mengasihi aku? Mengasihi aku karena aku laki-laki yang selalu kesepian terhadap perhatian dan kasih sayang seorang wanita, heem?" ucap Diandra. Kasandra mencoba mundur ke belakang supaya tidak terlalu dekat wajah Diandra dari wajahnya.


" Hem, bukan itu maksudnya! Aku... aku... aku merasa kalau mereka waktu itu memang sengaja memancing kamu, apakah kamu masih memiliki rasa cemburu dengan mantan istri kamu itu ketika bercengkrama dengan laki-laki lain. Dan kebenarannya, mas Diandra benar-benar masih memiliki rasa sakit hati dan cemburu ketika mantan istri, Mas Diandra benar-benar sudah berada dalam dekapan dan pelukan pria lain. Dan mas Diandra baru menyadari nya." kata Kasandra menjelaskan secara detail.


" Sebenarnya saat itu aku sudah terpikirkan dan mencari bayangan wanita lain sebagai pengganti Diana. Dan bayangan wajah itu, wajah kamu." kata Diandra jujur dan kini nafasnya terasa mulai menghangat di dekat wajah Kasandra. Keduanya seolah-olah merasakan hangat nafas mereka saling beradu. Kasandra diam.


Diandra mencoba mendekat dan mendekati wajah itu. Dan bibir itu mulai mendekat dan mendekat. Kasandra seketika memejamkan matanya seolah pasrah dan siap menerima salam dari bibir seksi Diandra. Namun sebelum bibir keduanya menempel, suara yang cukup familiar mengagetkan keduanya hingga mereka terperanjat dan menjaga jarak.


" Ayah! Ada mama dan om Pandu di luar." teriak Sifa . Diandra dan Kasandra cepat- cepat saling menjaga jaraknya.


" Oh.. iya!" sahut Diandra. Kasandra berusaha tenang dan menstabilkan detak jantung nya yang hendak lepas dari wadahnya ketika bibir milik Diandra hendak memberi salam pada bibir nya. Namun gagal sudah.

__ADS_1


" Kita keluar yuk!" ajak Kasandra. Diandra akhirnya melangkah keluar dari ruangan privat nya untuk berekspresi akan hasil karya-karya nya.


Diandra merekatkan tangan Kasandra dalam kaitan jari- jari tangannya. Kasandra berusaha melepaskan nya namun Diandra enggan untuk melepaskan.


" Mas, malu dilihat yang lain. Apalagi Sifa dan mantan istri kamu nanti." kata Kasandra kini menarik dengan paksa tangannya. Diandra akhirnya membiarkan tangan itu terlepas.


" Apakah mantan istri kamu sering kemari?" bisik Kasandra.


" Tidak juga! Mungkin dia hendak mengambil lukisan yang tadi kamu lihat. Itu sudah milik Diana. Diana akan membayar mahal akan hasil lukisan aku itu." kata Diandra. Kasandra memicingkan matanya seolah tidak menyangka, mantan istrinya bisa segila itu menunjukkan kemesraan dan keintiman nya di depan mantan suaminya bahkan melukiskan nya.


" Sepertinya mantan istri mas itu sudah sedikit tidak waras, yah!" kata Kasandra. Diandra terkejut, baru ini Kasandra mengumpat seseorang dengan kata-kata nya yang lugas. Diandra tersenyum saja.


" Yang penting aku dapat duit dari hobi aku ini, sayang!" sahut Diandra sambil terkekeh.


" Apakah rasanya lain, uang hasil penjualan lukisan- lukisan kamu ini dengan uang yang didapat dari perusahaan? Bahkan kekayaan dari perusahaan tujuh keturunan belum tentu habis kan?" sahut Kasandra heran.


" Tentu saja lain. Perusahaan itu dirintis oleh ayah dan keluarga aku dari nol. Aku hanya ikut menikmati dan meneruskan dan mengembangkan nya lagi. Kalau melukis, ini benar-benar hasil aku sepenuhnya." jelas Diandra.

__ADS_1


" Kamu tahu, karya ini ketika diterima baik dan mendapatkan pengakuan dari orang lain, itu adalah sesuatu banget. Apalagi dihargai dengan nominal yang fantastik." terang Diandra lagi. Kasandra mulai manggut-manggut tanda memahami.


__ADS_2