
" Om Dedy boleh menyampaikan hal ini kepada papa. Mungkin ini sudah saatnya papa, mama mengetahui kalau aku dan Diana sudah bercerai." kata Diandra.
" Jadi sudah berapa lama kalian bercerai dan menyembunyikan hal ini?" tanya Om Dedy kepo.
" Dua tahun ini lah! Namun resmi cerainya baru satu tahun ini." jawab Diandra.
" Dua tahun tidak begituan?? Kasihan sekali burung kamu, Diandra!" sahut Om Dedy. Kembali Pak Herman dan Kasandra cekikikan mendengar nya.
" Iya Om, kasihan burung ku sudah sekian lama puasa." sahut Diandra membenarkan kata-kata dari Om nya.
" Tapi masih di kasih mimpi basah kan?" tuduh Om Dedy dan kembali Pak Herman dan Kasandra cekikikan.
" Puji Tuhan! Tuhan masih baik dengan aku, Om! Dikirim wanita paling cantik lagi." kata Diandra.
" Siapa? Apa kamu melihat wajahnya?" tanya Om Dedy kepo.
" Iya, jelas sekali wajah itu." sahut Diandra sambil menatap ke wajah Kasandra. Kasandra seketika menunduk karena tatapan mata Diandra seperti hendak memakannya.
*******
__ADS_1
Di rumah kakek dan nenek Sifa, atau mama papa Diandra. Kerena mendapatkan laporan bahwasanya Diandra dan Diana sudah cerai tanpa kedua belah pihak mengetahui, Diandra dan Diana kena panggil oleh orang tuanya yaitu Pak Adityawarman di kediaman nya.
Sore itu sepulang dari kantor, dan lebih awal meninggalkan kerjaan nya, Diandra langsung ke rumah papa, mamanya itu. Ketika Diandra tiba di rumah mama papanya, di sana sudah ada Diana dan juga Sifa. Entah apa yang sudah disampaikan oleh Diana mengenai alasan perceraian itu. Dalam hal ini pasti Diana juga tidak ingin di salah kan akan gugatan cerai nya terhadap Diandra, yang tidak lain adalah putra mahkota dari keluarga Adityawarman.
Diandra langsung ke belakang di ruangan makan sambil dari jarak jauh melihat Diana yang menangis terisak di depan papa mama Diandra, tepatnya mertua Diana. Diandra yang melihat nya rasanya mual dan gedek ingin marah.
" Itu wanita pasti bicara yang tidak- tidak!" pikir Diandra dari jauh melihat mereka. Sifa, putrinya yang duduk di ruangan makan seketika membuyarkan lamunan Diandra.
" Ayah! Ayah makan saja. Santai saja ayah!" kata Sifa sambil memberikan daging ke atas piring milik Diandra.
" Terimakasih, nak!" ucap Diandra akhirnya duduk dengan tenang sambil makan.
" Oh iya? Apa katanya?" tanya Diandra seketika berbinar matanya jika bicara mengenai Kasandra.
" Ya begitu deh! Tante Kasandra orangnya asyik banget ketika diajak berbincang-bincang. Tante suka sekali becanda dan buat Sifa tertawa melulu." cerita Sifa.
" Benarkah? Tante tanya soal ayah tidak?" tanya Diandra.
" Tidak!" sahut Sifa cepat yang membuat Diandra kecewa akan jawaban itu.
__ADS_1
" Maaf ayah, kami baru ngobrol dan dekat. Tante Kasandra tidak mungkin tanya- tanya soal ayah. Lagi pula mungkin menurut tante Kasandra, ayah belum penting baginya." kata Sifa dengan senyum jahilnya.
" Begitu yah!" sahut Diandra pasrah dan kembali melihat ke arah kedua orang tuanya yang mengobrol serius dengan Diana.
" Ayah!" panggil Sifa.
" Iya, nak!" sahut Diandra.
" Hari sabtu kami ada kencan makan bareng dan jalan- jalan bersama." cerita Sifa.
" Oh iya?" sahut Diandra. " Ayah ikut boleh? Nanti ayah traktir nonton film deh!" kata Diandra.
" Ini antara aku dengan tante Kasandra, Ayah! Ayah tidak boleh ikut gabung dengan kami." kata Sifa dengan senyum jahilnya.
" Ah, Sifa sayang, gak asyik ah! Ayah boleh ikut yah?" rayu Diandra.
" Nanti saya bicarakan dengan tante Kasandra dulu. Ayah boleh ikut gabung tidak!" kata Sifa akhirnya.
" Ehh???" Diandra terkejut.
__ADS_1