
Apakah mantan istri kamu sering kemari?" bisik Kasandra.
" Tidak juga! Mungkin dia hendak mengambil lukisan yang tadi kamu lihat. Itu sudah milik Diana. Diana akan membayar mahal akan hasil lukisan aku itu." kata Diandra. Kasandra memicingkan matanya seolah tidak menyangka, mantan istrinya bisa segila itu menunjukkan kemesraan dan keintiman nya di depan mantan suaminya bahkan melukiskan nya.
" Sepertinya mantan istri mas itu sudah sedikit tidak waras, yah!" kata Kasandra. Diandra terkejut, baru ini Kasandra mengumpat seseorang dengan kata-kata nya yang lugas. Diandra tersenyum saja.
" Yang penting aku dapat duit dari hobi aku ini, sayang!" sahut Diandra sambil terkekeh.
" Apakah rasanya lain, uang hasil penjualan lukisan- lukisan kamu ini dengan uang yang didapat dari perusahaan? Bahkan kekayaan dari perusahaan tujuh keturunan belum tentu habis kan?" sahut Kasandra heran.
" Tentu saja lain. Perusahaan itu dirintis oleh ayah dan keluarga aku dari nol. Aku hanya ikut menikmati dan meneruskan dan mengembangkan nya lagi. Kalau melukis, ini benar-benar hasil aku sepenuhnya." jelas Diandra.
" Kamu tahu, karya ini ketika diterima baik dan mendapatkan pengakuan dari orang lain, itu adalah sesuatu banget. Apalagi dihargai dengan nominal yang fantastik." terang Diandra lagi. Kasandra mulai manggut-manggut tanda memahami.
*******
Diandra menggandeng tangan Kasandra dengan paksa, padahal Kasandra berusaha melepaskan tangannya yang dipegang oleh Diandra sampai di ruangan tengah. Di ruang tengah itu sudah duduk Diana dan Pandu. Sifa sudah memberikan minuman dingin kepada mama dan laki-laki kawan dekat mama nya itu. Diana tersenyum lebar tatkala melihat Diandra datang dengan menggandeng tangan Kasandra. Kasandra sangat malu dan canggung dengan keadaan itu.
" Maaf sudah lama menunggu." kata Diandra sambil duduk itu. Diandra sengaja memilih kursi yang panjang supaya Kasandra bisa duduk di samping nya.
" Aku mengganggu yah?" tanya Diana basa- basi. Pandu hanya diam namun tersenyum sinis menatap Diandra. Sesekali mata Pandu sangat liar menatap wajah ayu dengan tubuh yang berbodi milik Kasandra. Diandra yang menangkap mata liar Pandu terhadap Kasandra rasanya ingin mencongkelnya dengan kuas lukisnya. Diana yang melihat itu seketika mencubit paha milik Pandu.
" Aduh! Sakit sayang! Kenapa kamu mencubit aku?" protes Pandu kepada Diana. Diana cemberut. Lalu berbisik ke telinga Pandu.
" Awas saja, kalau kamu tidak bisa mengkondisikan mata nakal kamu. Tidak ada jatah sepulangnya dari sini." ancam Diana dengan berbisik.
" Jangan dong sayang! Aku kan hanya berusaha menebak dan mengira, dia pacar dari mantan suami kamu atau tidak." alasan Pandu. Diana kembali mencubit lengan Pandu.
" Ada apa, Diana? Apa tujuan kamu datang kemari?" tanya Pandu tanpa basa- basi.
" Apakah lukisan kami sudah selesai?" tanya Diana. Diandra tersenyum lega. Diandra berdiri lalu menuju ruangan privat untuk melukis. Diandra mulai mengambil lukisan milik Diana dan Pandu itu. Sementara ketika Diandra mengambilkan lukisan itu, Diana mulai kepo dengan Kasandra.
" Jadi sudah berapa lama kamu berhubungan dengan Diandra?" tanya Diana. Kasandra tersenyum.
__ADS_1
" Mbak Salah paham! Saya dan Mas Diandra hanyalah sebatas hubungan asisten dan pimpinan saja." sahut Kasandra. Pandu mulai ikutan kepo dan menyahut.
" Hubungan pimpinan dan asistennya? Tapi dipakai juga di ranjang?" sahut Pandu dengan senyum sinis sambil matanya menelanjangi Kasandra dari ujung kepala sampai ujung kaki. Diana ikut memandang rendah Kasandra.
" Sial! Kenapa laki-laki dan perempuan ini pikiran nya buruk sekali?" batin Kasandra tidak mau menanggapi manusia seperti itu.
" Jadi, gaji kamu besar lah ya? Menjadi asisten pribadi yang selalu menyenangkan dan membuat kepuasan pimpinannya?" sahut Diana. Kasandra enggan untuk menanggapi. Pandu ikut tersenyum sinis.
"Hebat yah kamu, bisa menaklukkan hati Diandra. Diandra tipe laki-laki yang susah tertarik dengan wanita. Aku pikir dia sudah berubah haluan karena dulu dia jarang menyentuh aku. Aku pikir setelah dia lebih fokus dengan lukisan nya dan mengenal komunitas pelukis itu, Diandra suka sesama jenis. Ternyata masih suka juga dengan wanita." kata Diana. Kasandra mulai mengernyitkan dahinya.
Tiba-tiba langkah kaki mulai terdengar. Antara Pandu dan Diana diam tidak ingin mengganggu Kasandra. Kasandra tersenyum sinis dengan keduanya.
" Ini lukisan kalian!" kata Diandra sambil menyerahkan hasil lukisan itu kepada Diana. Lukisan itu sudah dibungkus rapi dan sudah dibingkai sesuai pesan dari Diana. Diana tinggal Terima bersih saja dan tinggal memajang nya di rumahnya.
" Semuanya berapa?" tanya Diana. Diandra tersenyum dengan pertanyaan Diana.
" Terserah kamu nilai dan hargai berapa lukisan itu!" sahut Diandra. Diana tertawa terbahak- bahak.
" Aku sudah mentransfer nya ke rekening kamu. Kamu bisa melihat nya di nomor WA kamu, mas!" kata Diana lalu berdiri dan mulai mengajak Pandu untuk pergi dari rumah itu.
" Oh iya, kalau kurang dari nominal yang aku berikan, kamu bisa balas chat aku di bawah yah." kata Diana kembali sombongnya. Kasandra rasanya mau menarik bibir mungil milik perempuan di depan nya itu. Diandra malah mendekatkan Kasandra dan memeluk bahunya.
" Oh iya, selamat yah mas, kamu sudah mempunyai asisten pribadi merangkap sebagai teman tidur." sindir Diana. Diandra melotot matanya.
" Eit, jangan marah! Maaf aku ralat. Selamat kamu sudah mendapatkan calon istri dan mama sambung untuk Sifa." kata Diana.
" Terimakasih!" sahut Diandra tidak ingin beradu mulut dengan Diana. Diandra malah semakin memeluk lengan Kasandra.
" Ayo Pandu, kita pulang! Tolong bawakan lukisan kita." kata Diana lalu melangkah diikuti Pandu. Pandu membawa dan mengangkat Lukisan itu. Diandra menatap kepergian dua orang itu.
" Pasangan yang aneh!" batin Kasandra. Kasandra mulai melepaskan pelukan Diandra.
" Apa sih yang kamu sukai dari wanita itu, dulunya mas?" tanya Kasandra menyelidik. Diandra terkekeh.
__ADS_1
" Kami dulu dijodohkan!" sahut Diandra. Kasandra makin kepo.
" Dijodohkan tapi akhirnya bisa menghasilkan Sifa juga!" ucap Kasandra. Diandra makin terkekeh.
" Mungkin aku khilaf saat itu!" kata Diandra. Kasandra menjulurkan lidahnya.
" Berapa kali khilaf nya?" tanya Kasandra yang sebenarnya tidak menghendaki jawaban dari Diandra.
Diandra terkekeh kini malah menarik Kasandra dan duduk di atas pangkuannya. Kasandra mulai gugup karena Diandra memeluk pinggang nya dan kini kedua nya begitu sangat dekat.
Diandra kemudian meraih dagu Kasandra dan mulai mendekati bibir yang sedari tadi ngomel saja. Ketika sebelum bibir itu mulai berkenalan dengan bibir milik Diandra, Sifa kembali datang dan berteriak membawa sesuatu ditangan nya. Kasandra seketika duduk sendiri ditempat duduknya. Diandra menggaruk kepalanya yang tidak gatal sambil menarik nafas panjang.
" Kenapa ketika hendak merasakan manisnya bibir itu, anakku datang sih?" batin Diandra sambil memainkan matanya ke arah Kasandra. Kasandra seketika merona wajahnya.
" Ayah! Tante Kasandra! Aku buatkan mie goreng buat ayah dan tante Kasandra!" kata Sifa sambil meletakkan nya di atas meja. Kasandra tersenyum manis kepada Sifa.
" Wah, terimakasih Sifa yang cantik." sahut Kasandra.
" Lain kali jangan bikinin kami mie goreng lagi, nak! Kamu sudah menggagalkan ayah kamu untuk mencicipi yang lebih spesial daripada mie goreng ini." batin Diandra.
" Ayo kita makan, mas!" bisik Kasandra.
" Kamu yang makan saja! Aku akan ambil ponsel aku di dalam dulu. Ingin lihat, Diana sudah menghargai lukisan tadi dengan nilai berapa rupiah." kata Diandra beralasan.
" Dan Jangan lupa setelah ini, aku menunggu kamu di ruangan aku itu." bisik Diandra nakal. Kasandra mengernyitkan dahinya. Seketika Diandra menarik hidung Kasandra.
" Jangan berpikiran kotor! Aku ingin melukis kamu lebih detail." kata Diandra. Kasandra bernafas lega.
" Ayo tante, makan dulu! Ayah tidak makan mie nya dulu." kata Sifa.
" Nanti saja, nak! Setelah tante Kasandra makan, dia akan menyuapi ayah." kata Diandra sambil memainkan matanya.
" Tapi, mas! Aku harus pulang! Besok saja lagi yah, mas!" ucap Kasandra. Diandra tidak menanggapi dan berjalan menuju ruangan privat nya.
__ADS_1