
Siang itu, Diandra dan Pak Adityawarman sudah berada di bandara. Mereka sudah bersiap melakukan perjalanan bisnis. Sebelum keberangkatan itu, berkali- kali Diandra menelpon Kasandra. Betapa Kasandra menjadi cekikikan sendiri melihat tingkah Diandra seperti sangat takut meninggalkan Kasandra dan mereka akan berjauhan selama hampir kurang sepuluh hari lamanya. Setelah beberapa menit menelpon Kasandra dan panggilan keluar itu terputus, kembali Diandra menghubungi Kasandra dan menelpon nya lagi. Hal itu dilakukan Diandra sampai beberapa kali sebelum pesawat yang akan membawa nya pergi meninggalkan negri tercintanya itu terbang menuju negara dimana antara Pak Adityawarman memiliki bisnis di negara tersebut. Diandra sejatinya adalah anak Sultan yang berpenampilan sederhana.
" Kamu ini seperti akan meninggalkan Kasandra sampai bertahun-tahun saja, loh Dra! Kita di negara itu paling hanya sepuluh hari saja. Setelah itu kita juga akan balik lagi ke negara kita tercinta ini. Papa juga berat kalau berjauhan dengan mama kamu. Tapi tidak segitunya kali, sampai berkali-kali nelpon Kasandra gitu." protes Pak Adityawarman. Diandra cuek saja tapi mukanya terlihat masam.
" Ingat kata- kata papa yang kemarin. Takut Kasandra di dekati sama laki-laki lain di saat kamu berjauhan. Ini juga godaan ketika LDR kan pa?" sahut Diandra. Pak Adityawarman cekikikan.
" LDR an? Paling juga sepuluh hari doang loh! Makanya nanti kamu di sana fokus dan cepat selesai kan segala urusannya bersama papa. Supaya cepat selesai dan kembali pulang. Papa nanti akan membelikan mama kamu oleh-oleh juga di sana." ucap Pak Adityawarman sambil tersenyum. Diandra menatap papanya yang sebenarnya super romantis dan harmonis ketika bersama dengan mama nya itu.
Selama mereka berumahtangga, Diandra melihat papa dan mama nya adalah pasangan suami istri yang ideal dan bisa menjadi panutan. Mama nya Diandra yang sejatinya sangat manja jika sudah bersama papa nya itu terkadang membuat Diandra tersenyum sendiri ketika melihat keduanya sedang bermanja-manja lalu seperti anak muda. Diandra menjadi merasakan kebahagiaan itu jika melihat papa mama nya yang selalu akur dan terlihat harmonis dan hangat.
" Kamu ngapain? Melamun? Nanti kalau sudah sampai di sana, kamu bisa videocall kembali dengan Kasandra." goda Pak Adityawarman ketika mereka sudah masuk dan duduk di dalam pesawat itu.
" Aku tiba-tiba merasa kangen banget, pa!" sahut Diandra. Pak Adityawarman malah cekikikan sambil. menonyor kepala Diandra.
" Papa juga jadi kangen mama kamu yang manja dan cerewet soal makanan ketika papa sembarangan makan." ucap Pak Adityawarman. Diandra malah jadi teringat kalau setelah bertemu dan dekat dengan Kasandra, dirinya menjadi sangat manja dan tergantung dengan Kasandra. Diandra yang selalu minta disuapin, dimasakin, Diladenin dengan Kasandra. Padahal Kasandra belum juga menjadi istrinya, hanya asistennya yang seperti merangkap beby sitter nya. Diandra menjadi terkekeh kalau mengingat tingkah lucu dan kekanakan nya terhadap Kasandra.
******
Di kamar Kasandra rumah kontraknya. Di malam hari setelah pulang dari latihan drama teater nya.
" Kenapa aku menjadi tiba- tiba kangen kamu, mas! Diandra!" gumam Kasandra sambil menatap foto Diandra di galeri ponselnya. Kasandra tersenyum sendiri jika harus mengingat tingkah Diandra yang begitu manja terhadap dirinya.
__ADS_1
" Apakah kita akan benar-benar menjadi suami istri, nantinya?" pikir Kasandra. Kasandra sesaat jadi terkejut ketika suara sedikit ramai di kamar sebelah. Kamar dimana Gita yang menempatinya.
" Apakah Elzatta masuk ke dalam kamar Gita? Eh, ngapain mereka?" pikir Kasandra.
" Baiklah, nanti setelah Elzatta pulang, aku akan memperingati Gita supaya tidak membawa Elzatta masuk ke dalam kamarnya apalagi menginap." batin Kasandra.
" Tetapi kalau Gita tersinggung bagaimana?" pikir Kasandra kembali.
" Ih sebel sekali! Suara mereka menjadi aku berpikiran kotor deh!" kata Kasandra sambil menutupi telinga nya dengan headset lalu mulai mendengarkan musik.
" Ini lebih baik, supaya aku tidak mendengarkan suara manja keduanya." gumam Kasandra lalu tidak lama tertidur dan terbuai dalam mimpi nya.
Di kamar sebelah.
" Aku mau Gita!" ucap Elzatta. Kedua mata mereka saat ini sudah saling bertemu. Mata Gita sudah mulai meredup dan satu ketika tangan- tangan nakal milik Elzatta sudah mulai menerobos masuk ke goa sempit itu. Gita sedikit merenggangkan kedua kakinya. Jari itu mulai bermain di area itu hingga di sana mulai basah akan sesuatu yang keluar. Gita seperti mulai pasrah dan mempersilahkan Elzatta untuk melakukan aksinya yang lebih dari itu. Ke dua bibir itu mulai saling menyambut. Keduanya semakin panas dan liar berciuman di malam itu. Elzatta lupa akan waktu karena malam sudah semakin larut.
" Kamu tidak pulang, El?" tanya Gita.
" Nanggung banget!" ucap Elzatta sudah dengan nafas yang berat. Kini mereka sama- sama menuntut hingga keduanya tidak perduli dengan suara mereka yang tak terkontrol.
" Pelan kan suara kamu, Gita! Kasandra pasti mendengar suara era ngan kamu." bisik Elzatta.
__ADS_1
" Aku tidak perduli! Kamu yang harus bertanggungjawab setelah ini kalau Kasandra protes akan tindakan kita di dalam rumah kontrakan ini." ucap Gita sambil Men de sah.
" Aku akan mencarikan rumah untuk kamu, sayang!" janji Elzatta.
Keduanya kini sudah semakin memanas. Permainan itu semakin memporak-porandakan kamar itu. Peraduan itu menjadi berantakan. Elzatta semakin nakal dengan fantasinya. Gita ikut dalam permainan brutal Elzatta.
Elzatta mendominasi semuanya. Gita dibuat melayang ke negri entah berantah.
" Kamu, membuat aku kecanduan." bisik Elzatta sambil menggigit gemas ujung buah da da milik Gita. Gita membalas mencakar punggung Elzatta.
Permainan yang menguras energi dan keringat. Dingin nya AC tidak mampu melawan panasnya permainan itu. Sampai berkali-kali Elzatta tidak berhenti melakukan itu. Padahal Gita sudah mulai menyerah setelah pelepasannya yang pertama. Namun tidak bagi Elzatta, sudah sampai ketiga kalinya pun, Elzatta masih terlihat bersemangat dan segar. Seolah-olah Elzatta telah meminum ramuan yang bisa membuat staminanya tidak akan kendor. Elzatta tersenyum sedangkan Gita sedikit meringis karena mulai pedih di bagian pribadi nya. Hingga Elzatta kini mulai kembali membuat bagian itu basah karena kelakuannya.Gita sekarang berbalik bersemangat.
Pagi telah tiba, keduanya masih ada di dalam kamar itu dengan satu selimut. Mereka saling berpelukan setelah semalam melakukannya hingga beberapa kali. Gita membuka matanya tatkala, pintu kamarnya di ketuk dan suara Kasandra mulai membangunkannya.
" Gita! Kamu berangkat kerja tidak?" tanya Kasandra. Gita masih belum menjawabnya. Beberapa kali Kasandra mengetuk pintu kamarnya. Mungkin saja Kasandra tidak menyangka kalau Elzatta menginap di kamar itu hingga pagi hari.
" Gita! Kamu baik- baik saja kan? Apakah kamu tidak kerja?" tanya Kasandra kembali.
" Tidak! Aku hari ini libur seperti kamu." sahut Gita dengan berteriak namun pintu kamarnya masih belum juga dibukanya. Kasandra hanya mengerutkan dahinya.
" Dia libur apa? Kalau aku, Diandra memang menyuruh aku libur. Sedangkan Gita kan di bagian lain." pikir Kasandra. Akhirnya Kasandra kembali ke dalam kamarnya.
__ADS_1