
" Kasandra! Malam ini bolehkah kamu hadir kembali dalam mimpi aku?" pikir Diandra sambil melihat Kasandra yang sedang mempertunjukkan aksinya.
" Ayah! Tante benar-benar seperti bintang. Hanya dialah yang memiliki aura bintang yang kuat. Aku saja sampai terpukau melihat penampilan nya. Ayah.. ih aku gemes banget!" ucap Sifa yang tanpa sadar malah mencengkram tangan ayahnya dan menggigit nya.
" Sayang! Ini tangan ayah! Jangan digigit dong. Ini sakit." protes Diandra.
" Eh maaf ayah! Setelah usai pertunjukan, ayah jangan lupa kasih hadiah dan buket nya. Awas saja kalau ayah malu mengejarnya ke panggung sana." ancam Sifa.
Sifa menatap ayahnya seperti ada khawatir dan rasa deg deg ser itu.
" Ayah! Tunjukkan kalau ayah penggemar berat nya. Ok!" bisik Sifa kembali.
" Kasandra! Aku akan mengejar mimpi itu!" pikir Diandra masih dengan mata yang tertuju pada sosok wanita yang saat ini menjadi obyek di lukisannya.
*******
Kasandra terlihat berakting di atas panggung pertunjukan teater itu. Semua penonton bertepuk tangan disertai siulan dan riuhnya suara memenuhi ruangan gedung teater yang padat orang-orang menyaksikan acara malam itu. Pertunjukan teater tersebut akhirnya selesai. Salam hormat dari semua pemain dan kru yang bertugas di atas panggung itu semakin membuat tepuk tangan dan sorak sorai penonton. Setelah nya seorang pemuda yang tinggi besar memberikan seikat bunga kepada salah satu pemainnya. Kembali tepuk tangan dari penonton terdengar kembali.
__ADS_1
" Ayah! Tante Kasandra mendapatkan seikat bunga oleh seorang pemuda keren! Kira-kira itu siapa ya, Ayah?" tanya Sifa mulai kepo banget.
" Ayah rasa, pria itu adalah pembina atau pelatih dari teater itu. Atau bisa jadi sutradara nya." jawab Diandra sambil melihat ke arah panggung tanpa berkedip.
Beberapa penonton yang duduk paling depan satu persatu mulai memberikan apresiasinya kepada pemain maupun kru yang masih di atas panggung itu. Dari buket, bingkisan, boneka, coklat, atau amplop. Hal ini membuat Sifa semakin mendorong- dorong ayahnya untuk segera maju ke arah panggung untuk memberikan buket mawar yang sudah disiapkan dan coklat.
" Ayah! Cepat ke depan! Kalau ayah takut sendiri biar aku temani. Ayah yang bawa buketnya dan aku yang memberikan coklatnya." Sifat mulai mengatur.
" Baiklah! Ayo nak!" kata Diandra sambil memberkati dirinya melangkah ke depan mendekati Kasandra. Sifa mengikuti langkah Diandra, ayahnya.
" Kasandra!" kata Diandra sambil menjabat tangan Kasandra dan menyerahkan buket itu kepada Kasandra. Kasandra menerimanya disertai senyumnya yang mengembang.
" Tante! Ini coklat dari ayahku! Ayah aku penggemar tante Kasandra! Ayah suka melukis wajah tante." kata Sifa sambil membisikkan kalimat itu ke telinga Kasandra.
" Ayah kamu yang mana?" tanya Kasandra.
" Itu! Laki-laki terganteng yang tadi memberikan buket mawar putih ini, tante!" jawab Sifa sambil menunjuk pada ayahnya yang dengan cepat sudah kembali duduk di kursinya. Kasandra melihat laki-laki yang ditunjuk oleh Sifa.
__ADS_1
" Tante! Di dalam buket itu ada kartu dan di sana ada no WA ayah. Tante jangan lupa hubungi ayah yah! Kata ayah, tante adalah kawan kuliah dulu." kata Sifa pelan.
" Baiklah!" sahut Kasandra sambil tersenyum.
Panggung masih ramai oleh beberapa penonton yang memberikan apresiasinya. Tidak lupa Gita juga ikut maju mendatangi Kasandra. Kasandra seperti primadona malam ini.
" Kasandra! Siapa laki-laki yang kasih buket mawar putih itu? Sepertinya aku pernah melihat nya?" tanya Gita.
" Kamu mengenalnya?" tanya Kasandra.
" Aku tidak bilang mengenalnya, namun seperti pernah melihat nya. Tetapi dimana yah?" kata Gita.
Kasandra dan Gita jadi mengingat wajah yang pernah dilihat nya itu.
" Oh iya aku ingat! Dia adalah salah satu putra presdir di perusahaan kita." kata Gita mulai mengingat nya.
" Benarkah? Tapi kata anaknya eh putrinya tadi dia mengenal aku dan kawan kuliah aku dulu." kata Kasandra.
__ADS_1
" Eh? Siapa? Ayolah Kasandra kamu harus mengingat dia. Aku saja sudah ingat siapa dia loh! Dia bernama Diandra Atmanegara." ucap Gita setelah itu kembali duduk di tempat nya karena acara akan segera ditutup. Kasandra masih melongo dan mencuri pandang ke arah dimana Diandra duduk beserta putrinya.
" Eh? Kenapa aku jadi memikirkan laki-laki itu. Dia datang bersama putrinya dan berarti dia sudah memiliki istri dan berkeluarga bukan? Ah sudahlah!" pikir Kasandra.