
Senja datang bersama warnanya yang jingga. Warnanya memberikan arti keagungan dan kedamaian jiwa. Kamu hadir seperti mentari yang memberikan sinar petunjuk kegelapan. Memberikan kehangatan dalam. jiwa- jiwa yang penuh kebekuan.
Sore menjelang malam itu sepasang kekasih masih bercengkrama dalam kasih, saling memberi dan menerima satu dengan yang lain. Saling terpaut dalam nafas yang menderu dengan jantung yang ber genderang tak beraturan. Menyuarakan nafas cinta dalam alunan ritme yang masuk dalam dunia fantasi tatkala mata terpejam. Lalu terkulai lemah sama- sama setelah teriakan kecil yang membuat dinding-dinding bergetar makin hebat. Tersingkirkan sesaat beban cinta yang lama tersimpan dan tercurah dalam percikan air yang sama-sama tercurah.
" Sayang!" kata Diana yang terkulai di samping pria yang masih muda dengan perawakan yang atletis itu.
" Iya sayang! Ada apa?" kata Pandu sambil mengecup lembut dahi milik Diana.
" Aku akan mengenalkan kamu dengan mantan suami aku di rumah." kata Diana merengek manja.
" Untuk apa sih sayang? Di sini lebih enak apalagi berdua bersama dengan kamu seperti ini sepanjang hari." ucap Pandu.
__ADS_1
" Aku ingin dilukis oleh mantan suami aku itu. Tentu saja dengan kamu, sayang." ajak Diana memohon.
" Hah? Untuk apaan sih sayang?" tanya Pandu lagi.
" Ayolah sayang! Hasil karya lukisan mantan suami aku itu sungguh nyata dan hidup. Aku ingin lukisan kita hidup sepanjang masa." rengek Diana kembali.
" Tapi dengan syarat yah!" sahut Pandu sambil tersenyum nakal.
" Syarat nya apa sayang?" tanya Diana polos.
" Idih kamu sungguh-sungguh nakal sekali, sayang!" sahut Diana sambil mencubit pinggang milik Pandu.
__ADS_1
" Hahaha! Cuma nakal dengan kamu saja kok, sayang!" kata Pandu sambil terkekeh.
" Baiklah! Kita foto aja deh kalau begitu." kata Diana akhirnya.
" Tidak! Tidak! Aku tidak ingin hanya dengan foto pose kita yang menantang saja. Namun aku ingin, mantan suami kamu itu benar-benar melihat kita berpose yang penuh menunjukkan keintiman dan kemesraan." ucap Pandu sambil tersenyum sinis.
" Aku ingin benar-benar melihat ekspresi mantan suami kamu itu ketika kita bermesraan dan penuh keintiman itu. Apakah dia akan cemburu ketika melihat kita berdua dengan adegan itu. Lalu apakah dia masih sanggup untuk melukis kita? Hahaha." ujar Pandu sambil menatap nakal Diana yang masih berbalut selimut tebal.
" Baiklah! Aku hendak mandi terlebih dahulu. Aku sudah gerah seharian bekerja di kantor. Ditambah lagi di sini pun aku masih bekerja keras lagi melayani kamu, sayang!" kata Diana sambil duduk dan lalu berdiri melangkah ke kamar mandi.
Dengan nakalnya Pandu memukul pantat seksi milik Diana yang tanpa berbalut selembar benang pun di sana.
__ADS_1
" Aww!! Aduh Pandu sayang! Sakit tahu!" teriak Diana namun suaranya sangat menggoda. Hal itu malah semakin membuat Pandu tertantang dan mengikuti langkah Diana yang masuk ke dalam kamar mandi itu dan masuk ke bathub. Kembali kedua insan itupun mengulang kembali ritual yang membuat mereka beradu dalam nafas yang memburu. Berlomba dalam tarian lembut tangan- tangan yang terampil menelusuri tiap-tiap titik sensitif dan lekuk masing-masing keduanya. Gejolak jiwa muda Pandu semakin berkobar-kobar seolah Diana kembali dibawanya ke masa muda yang penuh gejolak.
" Ah Pandu! Kamu membuat aku serasa kembali muda." ucap Diana sambil mempermainkan semua ritmenya.