
July fokus dengan lukisan abstrak nya. Tangan dan matanya terlihat lihai dalam menuangkan coretan di atas kanvas nya. Daya pikir dan khayalan nya mulai jauh menembus ide- ide yang segera dituangkan semuanya lewat perpaduan cat minyak itu. Setelah cukup lama bermain dengan warna- warna itu, July menyudahi kegiatannya dan bergegas keluar dari ruangan yang digunakan untuk melukisnya.
" Eh? Astaga kamu di sini Diandra? Apakah sudah lama?" Kata July yang benar-benar terkejut ketika melihat keberadaan Diandra yang sudah ada di ruang tamu rumahnya. Diandra sudah menikmati rokok dan secangkir kopi yang sudah dibuatkan oleh wanita yang terlihat masih muda dan cantik. Wanita itu adalah istri dari July.
" Belum lama kok! Santai saja, kawan! Kata istri kamu, kamu lagi sibuk melukis. Jadi aku tadi sempat mengintip kamu sebentar. Seperti nya kamu benar-benar lagi fokus jadi bayanganku pun tidak kamu ketahui kehadiran nya." ucap Diandra sambil terkekeh.
" Hahaha! Ada saatnya kamu pasti seperti itu bukan? Apalagi ketika melukis seorang wanita pujaan hati kamu. Eh maksudnya wanita dalam gambaran dan imajinasi kamu. Hahaha." sahut July membalas ledekan Diandra.
" Hahaha! Baiklah kita sama kawan! Sebelas dua belas, jadi sesama pelukis tidak boleh saling menghina." ucap Diandra akhirnya.
" Oh iya, kawan! Ada masalah apa? Tumben kamu ke rumah aku?" tanya July penuh selidik.
" Tidak ada, cuma ingin main aja kok." jawab Diandra datar.
" Oh! Oh ya Diandra! Aku ada rencana akhir tahun nanti aku akan ikut pameran lukis dari beberapa pelukis ternama maupun pendatang baru di negeri ini. Jadi aku akan mempersiapkan beberapa hasil lukisanku yang paling menonjol dan dan memiliki tema yang populer saat ini." kata July bersemangat.
__ADS_1
" Jadi saat ini aku mulai sibuk mengumpulkan beberapa lukisan karyaku untuk kegiatan pameran nanti. Kamu pasti tertarik bukan, dengan pameran seperti ini? Ayolah, saatnya nama kita diperhitungkan dalam karya lukis di negri ini." ucap July masih terlihat antusias sekali dengan kegiatan pameran yang akan diikuti nya.
" Oh begitu yah!" sahut Diandra masih berpikir.
" Ayolah sobat! Bukankah kamu sudah menghasilkan banyak koleksi lukisan dengan jenis romantis?" ajak July tanpa mengenal lelah.
" Baiklah, akan aku coba!" sahut Diandra akhirnya.
July melihat Diandra cukup lama. Seolah meneliti sesuatu yang masih disembunyikan oleh laki-laki itu di depannya.
" Tidak ada! Cuma aku hanya sedikit tidak suka dengan tingkah dan kelakuan mereka kemarin lusa." cerita Diandra akhirnya.
" Apa yang mereka lakukan terhadap kamu?" tanya July menyelidik.
" Diana!" kata Diandra pelan sebelum memulai bercerita.
__ADS_1
" Ada apa dengan Diana?" tanya July lagi.
" Diana kemarin ke rumah mengajak kekasihnya. Mereka minta dilukis oleh aku. Tentunya dengan bayaran yang cukup fantastik." cerita Diandra.
" Lalu, apa masalahnya? Bukankah itu bagus?" goda July.
" Mereka minta dilukis dengan pose romantik. Aku sih tidak mempersoalkan itu. Memang mereka melakukan hal itu di depanku, memang sengaja supaya aku bisa kebakaran jenggot jika melihat pose itu." cerita Diandra.
" Hahaha!" July malah tertawa terbahak-bahak mendengar cerita dari Diandra.
" Kamu malah mentertawakan aku!" sahut Diandra jadi sewot.
" Hehehe, maaf. Lalu? Apakah kamu merasa cemburu ketika mantan istri kamu itu... " kata July yang tidak meneruskan kalimatnya.
" July, aku juga masih laki-laki normal dan aku juga pernah memiliki rasa suka dengan Diana. Namun kenapa mereka sengaja melakukan dan menunjukkan segala keintiman itu di depan ku. Itulah yang membuat sesak hatiku." cerita Diandra yang disimak July dengan serius. July sebenarnya ingin tertawa namun ia tahan karena takut jika menyinggung perasaan kawannya itu.
__ADS_1