
Pernikahan antara Gladis dan Dika kini pun sudah dilaksanakan. Keluarga dari Dika dan Gladis ikut merasakan kebahagiaan kedua pengantin tersebut. Gladis sudah cukup lega, kini dirinya sudah dinikahi oleh Dika setelah penantian yang cukup lamanya. Gladis dan Dika sudah berpacaran cukup lama dan memang kedua nya belum mendapatkan restu dari papa mama Dika. Karena Gladis hamil dan yang menghamili Dika, mau tidak mau orang tua Dika mengijinkan Dika menikahi Gladis. Namun hal itu tetap ada syaratnya. Dika kelak harus menceraikan Gladis setelah anak mereka lahir. Tentu saja syarat ini tidak disampaikan oleh Dika kepada Gladis. Bagaimana pun juga Dika secara pribadi memang serius dan menyayangi Gladis sudah lama, walaupun dirinya masih suka bermain api dengan Sita, wanita yang dijodohkan oleh dirinya dari kedua orang tuanya.
Setelah acara pesta pernikahan itu usai, kedua pasangan pengantin tersebut sudah di dalam kamar hotel. Acara resepsi pernikahan memang digelar di salah satu hotel mewah. Gladis sudah berganti pakaian nya dan membersihkan segala make up nya. Demikian juga dengan Dika. Keduanya saat ini sama- sama duduk di balkon kamar hotel mereka.
Dika memeluk Gladis dengan lembut sesekali mengusap perut Gladis yang masih rata itu. Belum terlihat membuncit dan kelihatan sedang hamil. Gladis tersenyum dengan perlakuan lembut Dika terhadap dirinya. Namun tiba-tiba saja suara ketukan pintu kamar mereka membuat Dika dan Gladis terperanjat dari sana.
" Siapa?" tanya Gladis. Dika mengangkat kedua bahunya.
" Entahlah! Biar aku saja yang membukanya. Mungkin saja pelayanan dari hotel. Atau kamu tadi memesan sesuatu?" kata Dika. Gladis menggelengkan kepalanya.
" Sebentar yah, aku ke depan dulu." kata Dika lalu melangkah membukakan pintu kamar nya.
Betapa terkejutnya Dika, seorang wanita datang menjumpai nya di saat seperti ini. Sita, wanita yang sudah dan sering ia tiduri itu kini mendatangi dirinya dan tanpa sungkan langsung memeluk dirinya sambil menangis terisak- isak.
" Dika! Kamu benar-benar jahat! Kenapa kamu malah menikah dengan wanita lain. Kenapa tidak menikah dengan aku? Bukankah papa mama kamu sudah berjanji akan menikahkan kita.Bahkan kamu menikah pun aku tidak diberitahu. Kalian benar-benar jahat! Kalian merencanakan ini yah? Kalian mempermainkan aku yah, Dika." ucap Sita yang memeluk Dika dengan kuat. Dika membungkam mulut Sita.
" Dengar! Jangan menangis lagi! Ini tidak seperti yang kamu pikirkan! Kamu pulanglah, besok aku akan menemui kamu di rumah. Aku akan menjelaskan semuanya. Oke?" rayu Dika. Sita masih menangis.
" Tidak! Nyatanya kamu sudah menikah dan meninggalkan aku." Sita masih menangis.
" Sayang! Dengar, kamu cepat lah pergi. Besok aku kan menjelaskan semuanya kepadamu. Percaya dengan aku. Aku sungguh ingin menikah dengan kamu." kata Dika berusaha tidak membuat suasana malam ini kacau balau.
__ADS_1
" Ada apa mas?" tanya Gladis lalu menghampiri keduanya. Dika sesaat melepaskan pelukan Sita yang masih menangis itu.
" Ini keponakan aku baru tiba dari Jerman. Iya benar. Dia baru tiba dan sedih karena terlambat menghadiri pesta pernikahan kita. Benar begitu kan, Sita?" ucap Dika setenang mungkin menghadapi situasi yang sulit tersebut. Sita menatap Gladis dengan teliti dan sedikit dipaksakan tersenyum.
" Selamat kak! Istri mas Dika ternyata sangat cantik sekali. Pantas saja mas Dika buru- buru menikah dengan mbak." ucap Sita seperti drama queen yang secepatnya bisa berubah ekspresi nya. Dika tersenyum lega. Gladis tersenyum dengan wanita yang mengaku keponakan dari Dika itu.
" Kalau begitu kamu pulanglah!" kata Dika seolah kembali mengusir Sita.
" Baiklah! Oh iya, ini kado buat mbak. Maaf ini buru- buru saya belikan tadi di sini." kata Sita yang memberikan kotak kecil yang diambilnya dari dalam. tasnya. Gladis menerima nya dan tersenyum.
" Terimakasih, Sita!" ucap Dika dan Gladis. Sita akhirnya meninggalkan mereka berdua dengan perasaan yang masih kacau balau. Betapa tidak, tetap hati kecilnya merasa resah karena kekasihnya telah menikah dan saat ini satu kamar dengan wanita lain. Ini sungguh tidak bisa diterima oleh akalnya. Walaupun nanti alasan apapun, kenyataan nya Dika sudah menikah dengan wanita lain. Dirinya tidak akan menerima hal itu. Walaupun kedua orang tua Dika telah merestui hubungan mereka dan telah menjodohkan mereka. Namun kenyataan nya dirinya harus mantap dengan hatinya untuk meninggalkan Dika.
" Aku tidak akan meneruskan hubungan dengan Dika. Walaupun aku sudah dijajah dan direnggut kehormatan aku. Aku yakin, masih banyak laki-laki yang mau menerima aku apa adanya." kata Sita sambil terus berjalan meninggalkan hotel itu.
Laki-laki itu tersenyum dengan nakalnya. Mulai memainkan biola yang terlihat begitu menggoda matanya. Senyumnya menyeringai, tangannya mulai nakal menggerayangi bagian-bagian sen sitif milik Sita. Sita mele nguh, men de sah. Suara Sita sakin membuat laki-laki itu semakin buas memainkan biolanya. Masih dengan tangannya dan jari- jarinya yang terampil menari- nari di tiap-tiap bagian lekuk tubuh milik Sita. Kini pelan- pelan bibirnya mulai. mendarat di bibir Sita. Sita seperti meminta dan menuntut lebih dari semua itu. Kini. Sita tidak mau kalah, dirinya malah ingin mendominasi semua permainan itu. Namun laki-laki itu tidak terima sebelum puas meneliti bagian-bagian indah milik Sita. Sita tersenyum nakal karena Laki-laki itu membuat Sita pasrah akan permainan nya. Di bawah sana, laki-laki itu memainkan bagian-bagian sensitif dan pribadi milik Sita. Hingga Sita kembali mele nguh, menge rang bahkan teriakan kecil mulai memekik di bibir nya. Sampai beberapa lama akhirnya Sita menaikan pinggulnya ketika seluruh badannya mulai menegang dan mulai seperti merasakan sensasi yang luar biasa. Ada sesuatu yang hendak Sita lepaskan. Bersama teriakan Sita, sesuatu itu keluar dari miliknya. Laki-laki itu seperti tidak merasakan jijik, malah menghi sap dan menye sapnya. Kembali. Sita malah semakin men de sah dan kembali mera cau tidak jelas.
" Hai, kamu laki-laki bang sat!! Pandai sekali kamu!" umpat Sita. Laki-laki itu kini menurunkan celananya dan menunjukkan bagian yang keras dan menjulang tegak. Sita tersenyum hendak meraihnya. Namun Laki-laki itu tidak mau berlama-lama. Akhirnya miliknya di hujam kan dalam lobang yang sudah sangat siap akan kedatangannya. Kembali Sita berteriak, laki-laki itu semakin mempercepat pergerakan nya. Hingga akhirnya lunglai lah setelah dia mencapai tujuan nya.
Keduanya kini terkapar di atas peraduan penginapan itu. Keduanya sama-sama tertidur karena lelah dan pengaruh minuman alkohol yang diminum nya. Sampai pagi membangunkan keduanya.
" Hai! Gi go lo! Aku harus membayar kamu berapa?" tanya Sita yang kini sudah membersihkan badannya dan mandi di bathub penginapan itu. Laki-laki itu tersenyum menyeringai.
__ADS_1
" Tidak perlu! Kita melakukan nya suka sama suka! Kenalkan aku Guruh!" ucap laki-laki itu kini mendekati Sita yang masih basah rambutnya karena setelah mandinya.
" Guruh?" gumam Sita. Sita membiarkan Guruh memeluk dirinya.
" Aku Sita! Kamu mau ngapain? Aku akan pergi ke kantor." ucap Sita. Kembali Guruh menggoda Sita dengan mendaratkan bibirnya ke leher Sita.
" Apakah tidak ada waktu sekali lagi, untuk mengulang seperti tadi malam?" ucap Galuh masih mencium Sita dan bahkan kini menye sapnya dan membuat tanda di leher putih itu.
" Tidak! Aku buru- buru kali ini. Ada meeting hari ini."sahut Sita. Galuh melepaskan pelukan nya.
" Baiklah! Aku akan mengantar kamu ke kantor. Dimana kamu bekerja?" tanya Galuh.
" Tidak usah! Aku bawa mobil aku parkir di dekat klub." kata Sita. Galuh kali ini tidak mau memaksa.
" Setelah ini kita masih bisa berjumpa lagi kan?" tanya Guruh laki-laki breng sek itu.
" Tidak perlu! Setelah ini anggap saja kita tidak saling mengenal. Aku kembali ke dunia aku demikian juga dengan kamu." sahut Sita. Guruh tersenyum.
" Oke! Baiklah!" kata Guruh akhirnya.
Sita meninggalkan penginapan itu diikuti oleh Guruh. Keduanya sama-sama memarkirkan mobilnya di dekat klub. Sita mulai membelah jalanan kota menuju tempat kerjanya. Guruh diam- diam mengikuti Sita yang menuju ke tempat kerjanya.
__ADS_1
" Rupanya dia bekerja disini?" gumam Guruh lalu menjalankan mobilnya.
" Dia sangat kacau tadi malam. Aku rasa dia patah hati dengan kekasihnya." pikir Guruh sambil tersenyum.