GODAAN- GODAAN LIAR PELUKIS PROFESIONAL

GODAAN- GODAAN LIAR PELUKIS PROFESIONAL
MEREKA HARUS TAHU


__ADS_3

" Iya, wakil presdir di perusahaan ini. Kasandra ini yang bawa ke perusahaan ini adalah Pak Dedy." terang Diandra sambil melirik Kasandra. Kasandra dengan cepat mencubit pinggang Diandra.


" Masa harus kamu jelaskan ke Pak Herman sih, kalau aku nepotisme masuk ke perusahaan ini." sahut Kasandra malu.


" Hahaha! Sudahlah! Ayo kita minum dulu, nanti aku ada sedikit tugas untuk kamu, Kasandra." kata Diandra akhirnya.


Kasandra dan Diandra duduk di kursi sofa panjang itu. Mereka berdua sama-sama menikmati minuman yang menyegarkan dan pisang coklat keju itu. Sesekali mereka mulai mengobrol dengan percakapan ringan.


" Sudah ditandatangani surat kontraknya kan?" tanya Diandra sambil mengambil kertas perjanjian itu.


Kasandra tersenyum saja melihat tingkah lucu dari direktur nya serta bos barunya kali ini.


" Kenapa belum kamu tandatangani sih, Kasandra?" tanya Diandra kembali menyodorkan kertas itu kepada Kasandra.


" Poinnya terlalu konyol buat aku, Diandra!" kata Kasandra sambil tersenyum geli.


" Yang mana?" tanya Diandra.


" Lihat poin ini! Disini aku harus melayani kamu dan semua yang kamu inginkan. Nanti kalau permintaan kamu aneh- aneh bagaimana? Apakah itu tidak akan merugikan aku, Diandra!" ucap Kasandra sambil cemberut.


" Ini? Wah parah Pak Herman bikin perjanjian kontrak isinya seperti ini." kata Diandra sambil menggelengkan Kepala nya.


" Tapi kamu jangan khawatir deh, aku tidak akan menyuruh kamu yang aneh- aneh dan membahayakan dirimu." janji Diandra.


" Ucapan dengan hitam di atas putih lebih kuat mana coba? Kamu saat ini bisa bilang begitu, nanti kalau kamu terdesak, bisa menyuruhku yang tidak jelas dan bukan seperti tugas-tugas ku sebelum nya. Bagus aku menjadi pengawas saja." ucap Kasandra.

__ADS_1


" Tidak! Aku orangnya bisa dipercaya kok! Ayo tandatangani kertas perjanjian ini. Setelah itu aku kan mengajakmu ke suatu tempat." kata Diandra.


" Kemana?" tanya Kasandra sambil menandatangani kertas perjanjian kontrak itu.


" Ke komunitas pelukis- pelukis. Sebentar lagi pameran akan segera diselenggarakan. Jadi semua peserta atau pelukis yang ikut dalam pameran akan dikumpulkan terlebih dahulu." terang Diandra.


" Kenapa aku dilibatkan?" tanya Kasandra.


" Karena kamu sudah resmi menjadi asisten aku! Kamu sudah menandatangani kontrak itu, bukan?" sahut Diandra yang menjadikan mata Kasandra seketika menjadi bulat seperti kelereng.


Kasandra tidak bisa berucap. Kini dirinya harus mengikuti perintah dari Diandra selaku bos nya saat ini.


" Aku menjadi tidak tenang kalau bekerjasama dengan kamu, Diandra!" ucap Kasandra.


" Hah? Kenapa, aku orang baik kok!" sahut Diandra.


" Itu hanya sangka buruk kamu saja, sayang!" sahut Diandra sambil tersenyum licik.


Kembali suara pintu diketuk. Om Dedy masuk dengan membawa tumpukan berkas- berkas perjanjian kontrak.


" Hai Diandra! Ini kamu pelajari berkas ini, nak! Kamu harus tahu dan memahami berkas ini. Siapa saja yang menjalin kerjasama dan kontrak dengan perusahaan kita. Ingat jangan main-main saja di kantor ini. Terus ini apa- apa an? Kamu benar-benar sudah membawa peralatan tempur kamu disini?" kata Pak Dedy sambil melihat kanvas lalu beralih ke lukisan nya yang sudah nyaris selesai dan sempurna itu.


Diandra terdiam dan tersenyum saja dengan kedatangan om Dedy dengan segala tugas yang akan diserahkan kepadanya.


" Ini? Ini wajah Kasandra Ratnasari?" tanya Om Dedy.

__ADS_1


" Benar! Ini dia orangnya om!" sahut Diandra sambil menunjukkan Kasandra yang duduk di samping nya.


Om Dedy melihat Kasandra sedikit pangling.


" Oh walah! Kamu toh nduk! Soalnya kamu tambah berisi dan cuantik!" kata om Dedy.


" Eh awas yah, om! Nanti naksir!" ancam Diandra.


" Tidak! Kasandra ini sudah om anggap sebagai anak angkat om kok! Kamu kenapa ke sini? Kamu kenal sama cecunguk keponakan om ini?" ucap Om Dedy sambil menunjuk ke Diandra.


" Iya, om! Diandra adalah kawan kuliah dulu." jawab Kasandra.


" Lalu?" tanya Om Dedy.


" Kasandra, asisten aku mulai hari ini om Dedy!" jawab Diandra.


" What?? Perasaan aku jadi tidak enak yah?" sahut Om Dedy. Lalu menarik Diandra jauh dari Kasandra.


" Kamu jangan bermain api, nak? Nanti kalau Diana cemburu gimana? Terus rumah tangga kamu jadi berantakan." bisik Om Dedy.


" Om jangan khawatir! Aman itu!" bisik Diandra juga.


" Maksudnya??" tanya Om Dedy semakin tidak mengerti.


" Maksudnya yah, om jangan khawatir!" ucap Diandra.

__ADS_1


Om Dedy karena pusing memikirkan kemungkinan terburuk itu akhirnya memilih keluar dari ruangan kerja Diandra itu. Diandra hanya tersenyum saja melihat reaksi dari om Dedy.


" Sepertinya mereka harus aku kasih tahu soal perceraian aku dengan Diana." pikir Diandra akhirnya.


__ADS_2