
Diandra sedang berkumpul dengan teman-teman sesama seni nya. Pembicaraan masih seputar seni. Kini pembicaraan mulai menyerempet ke masalah pribadi.
Di sana ada Gladis yang masih terbilang baru dalam menekuni seni lukis itu. Sesekali gelak tawa itu hadir dalam pembicaraan santai dan akrab diantara mereka.
" Laki-laki yang bergerak cepat, memperhatikan kamu secara total, tidak mudah menyerah, itulah laki-laki yang benar-benar mencintai kamu, Gladis!" ucap Diandra yang mulai ikut berpartisipasi dalam pembicaraan itu.
" Iya! Bukan lantaran body kamu yang seksi dan ingin tidur dengan kamu!" sahut July.
Gelak tawa akhirnya kembali terdengar riuh di ruangan itu sedangkan Gladis hanya cemberut saja. Apa yang dikatakan July benar apa adanya. Gladis menjalin hubungan dengan kekasihnya sudah hampir lima tahun dan tanpa kepastian untuk menikahinya. Sedangkan kini dirinya sudah berumur 28 tahun sudah cukup bukan jika harus menikah.
" Apa yang menjadi kendala kalian tidak segera menikah?" tanya July lagi.
" Kedua orang tua nya tidak menyetujui jika akulah yang akan menjadi pendamping nya."jawab Gladis.
" Sedangkan kamu sudah berhubungan selayaknya suami istri dengan nya?" tanya July lagi.
" Iya! Tapi itu kan memang didasari suka sama suka, aku tidak akan menyesalinya. Karena aku menyukai dia." sahut Gladis.
__ADS_1
" Bagaimana kalau itu kamu lakukan dengan aku?" goda July yang menjadikan suara tawa yang membahana kembali terdengar. Gladis spontan melempar gelas plastik itu ke muka July. July malah semakin ingin mengganggu Gladis.
" Kamu bodoh, Gladis!" sahut Diandra akhirnya sambil berlalu dari tempat itu.
" Hai mau kemana kamu, Diandra?" tanya July.
" Pulang!" jawab Diandra singkat.
" Pulang pun, kau tidak dapat jatah dari istri kamu kan? Ngapain buru- buru pulang?" goda July.
Diandra hanya diam dan sedikit memberikan senyum yang dipaksakan kepada July dan juga Gladis.
" Dia lagi banyak masalah. Jangan diganggu!" jawab July akhirnya.
" Ayolah kita mulai! Kamu mau aku lukis tidak?" tanya July sambil mendekati Gladis dan mencoba membuka sedikit kancing di kemeja putihnya.
Gladis hanya diam saja. Melihat July yang tangannya mulai membuka kancing kemejanya satu demi satu sampai keempat kancingnya terbuka. Sisanya dibiarkan tertutup. Kini tangan kokoh itu merogoh ke dalam kemeja putih milik Gladis dan membuka bra pengaitnya. Kini diambilnya bra tanpa tali itu hingga dua gundukan daging itu tanpa ada lagi penyanggahnya. Kini Gladis terlihat mengenakan kemeja putih yang transparan itu tanpa bra. Sedikit terlihat dua gundukan itu karena empat kancing kemeja itu dibiarkan terbuka. Kini July mulai menariknya kebawah lengan kemeja itu hingga terlihat sangat jelas perhiasan yang dimiliki oleh Gladis.
__ADS_1
" Indah sekali! Makanya kekasihmu selalu minta terus sama kamu!" kata July yang sebenarnya menahan hasrat nya karena melihat Gladis dengan pose seperti itu.
" Kamu tidak ada ketertarikan ketika aku dengan mengenakan kemeja seperti ini?" tanya Gladis tersenyum menggoda.
" Tidak! Kamu telanjang sekali pun aku tidak akan tergoda! Iman aku sudah kuat!" jawab July sambil menelan ludahnya.
" Hahaha, kamu bohong sekali. Mulutmu dan jiwa laki-laki mu sangat bertentangan." sahut Gladis.
" Turunkan celana jeans kamu! Aku mulai yah, melukis kamu." kata July sambil duduk di depan kanvasnya. Mulai mencampurkan warna- warna yang akan digunakannya.
Pelan- pelan Gladis membuka celana jeans nya sampai segita pengamannya. July masih konsentrasi dengan warna- warna yang hendak dipakainya. Saat matanya mulai melihat ke arah Gladis dengan pose yang menantang, kembali July menelan ludahnya. Hal itu membuat Gladis tertawa terbahak-bahak.
" Kita lanjutkan atau sudahi? Aku kasihan dengan kamu, July!" goda Gladis masih dengan pose yang menantang.
Kamu meremehkan aku! Sudah diam lah
di sana! Jangan ganggu konsentrasi aku. Oke!" kata July.
__ADS_1
" Oke!" ucap Gladis lalu diam menanti sampai July selesai melukis dirinya.