
Setelah menikmati weekend di villa pribadi milik Dika, Dika benar-benar mengantar Gladis pulang ke rumahnya. Suasana di rumah Gladis tampak sangat sepi. Sesampainya di depan pagar rumah Gladis, Gladis menanti Dika, apakah Dika akan benar-benar turun dari mobilnya dan masuk ke rumah mewah milik kedua orang tua Gladis itu.
" Kamu tidak benar-benar ingin masuk ke rumahku bukan? Dan tentu saja dengan masuk ke dalam rumah itu, kamu akan bertemu dengan kedua orang tua aku. Lalu kamu tahu, konsekuensi nya apa bila bertemu dengan mereka?" kata Gladis kepada Dika.
Dika tersenyum dan tanpa menjawab pertanyaan Gladis, dirinya turun dari mobilnya. Kini Dika membuka pintu samping mobil dimana Gladis duduk di sana tadi. Gladis tersenyum dengan perlakuan romantis dari Dika. Hal yang membuat Gladis senang adalah Dika kali ini benar-benar hendak ke rumahnya dan berani menjumpai kedua orang tuanya.
Gladis keluar dari mobil Dika dan menerima uluran tangan Dika untuk menggandeng tangannya masuk ke dalam rumah itu.
Keduanya lalu berjalan masuk melewati gerbang yang sudah dibuka oleh penjaga rumah itu. Mereka perlahan masuk ke dalam rumah melalui pintu utama rumah itu yang awalnya masih ditutup namun tidak dikunci.
" Kok sepi rumah kamu, sayang? Jangan-jangan papa, mama kamu pergi." kata Dika sambil duduk di kursi sofa yang terletak di ruang tamu itu.
" Aku akan mencarinya di kamar." ucap Gladis sambil melangkah menuju kamar pribadi papa, mama nya.
Gladis mengetuk pintu kamar papa, mama nya namun belum ada jawaban.
" Bapak dan ibu lagi keluar, nona!" kata Tutik asisten rumah tangga di rumah itu.
" Eh?? Kaget aku! Oh! Apakah sudah lama?" kata Gladis akhirnya.
" Baru saja, nona! Tidak lama bapak, ibu keluar, nona tiba di rumah." jawab Tutik.
" Oh, ya sudahlah!" sahut Gladis seolah seperti sedih atau mungkin kecewa mendengarnya.
" Ada apa, nona? Kelihatan penting, ingin bertemu bapak, ibu." kata Tutik yang kepo.
" Lupakan! Oh iya, Mbak Tutik. Tolong buatkan minuman dingin untuk tamu saya, mbak!" ucap Gladis akhirnya.
" Oh, ada tamu toh? Baik nona, segera akan saya buatkan." sahut Mbak Tutik sambil menengok ke ruang tamu, siapa gerangan tamu yang dimaksudkan oleh nona nya.
" Sudah sana, buatkan minuman dulu. Nanti kamu juga akan melihat tamunya saat mengantar minumannya." kata Gladis.
" Eh, hehehe iya nona!" sahut Mbak Tutik lalu bergegas membuatkan minuman dingin untuk tamunya.
__ADS_1
Gladis berjalan ke arah Dika dengan tidak semangat. Dika hanya melihat nya tanpa berkedip. Dalam hati Dika, wanitanya itu dengan berbagai gaya selalu membuatnya terpana. Apalagi Gladis saat ini berpenampilan sangat tomboi. Hal itu berbeda jauh dengan penampilan dari Sita, kekasih cadangan nya itu.
" Ada apa sayang?" tanya Dika penasaran.
" Papa, mama sedang pergi." kata Gladis memberi tahu.
" Oh, itu. Aku akan menunggunya." ucap Dika sambil tersenyum. Hal itu menjadikan Gladis kembali ceria dan tersenyum.
" Benarkah? Kamu tidak buru- buru kembali pulang ke rumah?" tanya Gladis dengan membulat matanya. Hal itu semakin membuat gemas Dika ketika melihat nya.
" Iya! Aku akan menunggu papa, mama kamu pulang sayang! Lagi pula, aku hari ini tidak pulang ke rumah orang tua aku. Aku akan kembali ke apartemen aku saja." cerita Dika.
" Oh begitu yah?" sahut Gladis senang.
Dika dalam hal ini tidak pernah mengajak Gladis ke apartemen nya. Karena di apartemen itu, terkadang Sita berkunjung di sana sewaktu-waktu dan tanpa memberi kabar. Jadi, apartemen pribadi Dika itu, hanya Sita yang tahu dan pernah menginap di sana.
Mbak Tutik datang ke ruangan tamu itu dengan mambawa minuman dingin yang dibuatnya. Pandangan Mbak Tutik menilai wajah laki-laki di sebelah Gladis. Matanya hampir tidak berkedip melihat Dika yang begitu sempurna dimata Mbak Tutik. Dika yang tinggi besar dengan wajah bersih terlihat seperti model atau aktor laga yang super keren dan maco.
Dika tersenyum lalu menatap Gladis senang.
" Coba katakan sekali lagi, sayang! Kamu tadi bilang, kalau aku kekasihmu. Itu kata- kata yang sangat manis dan pengakuan yang sangat tulus dari mulut kamu." kata Dika dengan mata berbinar.
" Ogah!" sahut Gladis dan dengan cepat mendapatkan ciuman yang brutal dari bibir Dika.
" Ihh.. kamu ini Dika!" protes Gladis sambil mengusap bibir nya karena ciuman Dika yang brutal.
" Hehehe.." Dika terkekeh saja karena mendapatkan ciuman yang sepihak.
Dika meminum air dingin yang sudah dimeja itu tanpa dipersilahkan oleh Gladis. Sedikit meminumnya lalu ditahan di mulutnya tidak ditelannya. Lalu dengan nakal meraih dagu milik Gladis dan menumpahkan minuman yang masih di mulutnya itu ke mulut Gladis. Mata Gladis membulat karena sangat terkejut dengan ciuman Dika.
" Ihh Dika!" protes Gladis yang akhirnya menelan semua minuman yang diberikan Dika melalui mulutnya tadi.
Dika tertawa terbahak- bahak karena wajah imut dan menggemaskan dari Gladis.
__ADS_1
" Aku ingin melihat kamarmu, sayang!" kata Dika meminta.
"Tidak boleh!" sahut Gladis sewot.
" Ayolah, sayang!" rengek Dika memohon.
" Tapi hanya sebentar saja melihat nya, ya! Jangan lama- lama." ucap Gladis akhirnya. Lalu melangkah menuju kamar pribadinya.
Dika mengikuti langkah Gladis dengan pikiran sudah nakal. Gladis masih polos berjalan mengantar Dika ke kamarnya.
" Ini kamar aku." kata Gladis memberi tahu.
Dika mulai masuk ke dalam kamar milik Gladis itu. Dika mulai melihat- lihat ada satu lukisan eksotik menempel di dindingnya. Dika membulat antara percaya dan tidak.
" Sayang?? Kamu, kapan mengambil pose gambar aku seperti itu, sayang?" tanya Dika yang membulat matanya namun matanya menyiratkan kebahagiaan di sana. Seolah dirinya satu- satunya laki-laki di hati dan pikiran Gladis sehingga lukisan dirinya pun terpampang dengan nyata di dinding kamar kekasihnya itu.
" Itu,.. itu aku ambil ketika kamu sedang tertidur." jawab Gladis dengan malu- malu dan nampak merona wajahnya karena dirinya ketahuan melukis Dika dengan pose yang eksotisme.
" Tapi aku sangat senang kok, sayang!" ucap Dika lalu dengan cepat meraup bibir tipis milik Gladis. Ciuman yang panjang lalu saling bersambut dengan hangat oleh Gladis. Dika makin kebablasan dibuatnya. Tangannya mulai nakal mencari- cari mainan nya. Membuat Gladis kembali pasrah dalam permainan yang menghantarkan mereka kembali ke atas peraduan. Namun peraduan ini di kamar Gladis. Dika mulai membuat polos kekasihnya tanpa sehelai benang pun yang melekat di tubuhnya. Dengan cepat meraih ponselnya dan sedikit menjauh mengabadikan pose polos milik Gladis. Gladis hanya tersenyum melihat tingkah nakal kekasihnya itu.
" Tolong, lukis foto kamu ini yah, sayang! Aku akan membayar mahal untuk itu." bisik Dika ke telinga Gadis.
" Aku sendiri? Apakah tidak lebih baik jika di sebelah aku ada kamu dengan pose yang menantang pula?" goda Gladis menantang.
" Hahaha! Jangan dong sayang!" sahut Dika gemas sambil melepas semua pakaian yang dikenakan nya. Kembali Gladis dengan nakal memfoto tubuh polos Dika yang tak ada sehelai pun benang ada di sana. Dika terkejut ketika mengetahuinya. Dika dengan cepat menerkam Gladis tanpa ampun di atas kasur kamar milik kekasihnya.
"Uhhh ampun Dika!!" pinta Gladis yang tidak dipedulikan Dika. Dika semakin brutal menguasai Gladis.
Dika kembali meraup bagian sensitif milik Gladis dengan lidah dan jari- jarinya yang menari- nari di sana.
" Uhh kamu sangat curang, Dika. Kamu selalu mencari titik kelemahan ku di sana." ucap Gladis yang suaranya sudah bergetar menahan geli, nikmat dari permainan yang diberikan oleh Dika.
Dika tersenyum puas dan penuh kemenangan, melihat Gladis sudah pasrah dengan posisi nya.
__ADS_1