
Diandra menuju sanggar seni lukis. Di sana ia berjumpa dengan kawan- kawan seperjuangan pecinta seni lukis. July sudah duduk berdekatan dengan Gladis. Ketika Diandra datang keduanya terdiam seolah menutupi segala yang sudah terjadi atau pun yang sudah mereka perbincangkan diantara mereka sebelum nya.
Setelah acara rapat dan pembahasan mengenai pameran lukisan akhir tahun nanti, semua sudah mulai berpencar sendiri- sendiri. Kini July, Gladis dan juga Diandra sudah duduk bersama di depan sanggar.
" Mau nongkrong di sini aja atau ke tempat tongkrongan lain? Ngopi dulu gimana? Yuk!" kata Diandra berusaha mengajak mereka, July dan juga Gladis.
" Bagaimana, Gladis saja lah! Aku selalu ngikut saja deh." kata July.
" Baiklah! Ayo, tapi kamu yang traktir kami kan, Mas?" tanya Gladis.
" Tenang saja! Kalian mau apa, aku bayarin!" sahut Diandra lalu berjalan menuju mobilnya yang terparkir. July dan Gladis mengikuti Diandra ke tempat parkiran.
" Kamu naik mobil, Dra?" tanya July. Diandra membenarkan dengan tersenyum saja.
" Motor aku gimana? Kalau Gladis tadi diantar cowoknya kemari." kata July seperti info seputar selebritis yang berbicara menjelaskan semuanya. Diandra tersenyum mendengar nya sambil melirik ke arah Gladis.
" Sudah ada kemajuan dengan pacar kamu?" tanya Diandra dengan Gladis. Gladis membenarkan namun setelah itu tertunduk kepalanya menyembunyikan kesedihan nya. Diandra menangkap perubahan dari wajah Gladis itu.
" Kamu bawa motor nya aja kalau ragu! Kita ke kafe seperti biasanya kok. Di sana paling nyaman buat ngopi dan nongkrong. Biar aku dengan Gladis naik mobil." kata Diandra kepada July. July menyanggupi dan akhirnya mulai naik ke atas motornya.
__ADS_1
Gladis masuk ke dalam mobil Diandra diikuti July naik motor nya dari belakang.
" Kamu ada masalah yah, Dis?" tanya Diandra penuh selidik ketika mobil itu sudah ia jalankan.
" Kamu selalu saja tahu apa yang aku rasakan. Aku bingung banget, Mas. Bingung banget, Mas!" kata Gladis tanpa terasa matanya mulai berkaca.
" Ada apa lagi?" tanya Diandra sambil melirik ke arah Gladis yang mulai menyeka air matanya yang sudah jatuh.
" Aku hamil, mas!" kata Gladis akhirnya sambil menunduk. Diandra sesaat terdiam.
" Dika, kekasih kamu sudah mengetahui hal ini?" tanya Diandra penuh selidik.
" Sudah telat berapa bulan?" tanya Diandra penuh selidik.
" Jangan ditunda-tunda keburu itu perut tambah buncit loh!" kata Diandra lagi.
" Iya, mas! Namun aku takut jika Dika tidak mau bertanggung jawab untuk menikah dengan aku. Kamu tahu kan, kalau aku sudah bercerita dengan kalian kalau kedua orang tua nya tidak menyukai aku. Dan ada wanita sebagai calon istri Dika yang sudah menunggu Dika untuk dinikahi juga." cerita Gladis.
" Jadi kamu juga sudah tahu kalau Dika pun menjalin hubungan dengan wanita yang digadang-gadang sebagai calon istri Dika. Wanita yang dijodohkan oleh orang tua nya untuk Dika?" tanya Diandra. Gladis mengangguk pelan.
__ADS_1
" Gladis! Gladis! Kenapa juga kamu masih mau jalan dengan Dika kalau Dika pun juga masih bermain api dengan wanita yang sudah dijodohkan dengan dirinya. Itu namanya enak di Dika. Memanfaatkan yang ada." kata Diandra.
"Kamu gak memahami aku kalau aku sudah jatuh cinta dengan Dika. Jadi aku gak bisa kalau menjauh dari Dika." kata Gladis membela diri.
" Walaupun kamu dipermainkan oleh pacar kamu itu?" sahut Diandra. Gladis menjadi sedih.
" Tapi ya sudahlah! Semua sudah terjadi. Setelah ini. kamu sampaikan semuanya pada Dika. Berdoa saja kalau Dika mau bertanggung jawab atas kehamilan kamu." kata Diandra sedikit memberi ketenangan kepada Gladis.
Sesampainya di tempat yang dimaksudkan, mereka mulai mencari tempat yang nyaman. Diandra memilih tempat yang paling sudut diikuti oleh July yang baru datang belakangan karena dirinya yang mengendarai motor nya yang pelan seperti siput.
" Kamu bilang dengan Dika, minta jemput di kafe A yah!" kata July dan dibenarkan oleh Diandra.
" Iya, sekalian aku nanti sedikit kasih pelajaran buat Dika." kata Diandra serius.
" Jangan, mas! Biar aku selesai kan sendiri dahulu." sahut Gladis.
" Oke kalau begitu! Tapi kalau setelah kamu menyampaikan kebenaran nya dan dia tidak cepat- cepat menikahi kamu, aku dan July akan kasih pelajaran dengan Dika." ancam Diandra yang dibenarkan oleh July.
" Orang kok hanya mau enaknya saja! Aku pun juga mau kalau cuma ni duri anak orang dan menghamili nya. Tahu begitu dulu, Gladis aku nikahi untuk ku jadikan istri keduaku." kata July yang langsung mendapatkan pukulan keras bagian lengan nya oleh Diandra. July meringis kesakitan.
__ADS_1