
Malam minggu tiba. Elzatta sudah duduk di depan teras rumah kontrakan Gita dan Kasandra. Malam ini Elzatta telah merencanakan sesuatu. Malam ini dirinya hendak mengungkapkan segala keinginan dan perasaan nya. Dirinya ingin berkata jujur dan mengutarakan isi hatinya yang sudah lama dipendam nya. Harus malam ini. Iya, harus malam ini semuanya harus ia katakan dengan seorang gadis yang sudah lama ia sukai nya.
Duduk di sebelah Elzatta ada Gita yang setia menemaninya di teras itu. Namun mata Elzatta masih sesekali melihat ke dalam rumah kontrakan itu. Akhirnya karena sudah tidak sabar, Elzatta bertanya pada Gita akan keberadaan Kasandra yang tidak keluar dari dalam kamar.
" Kasandra lagi ngapain, sih? Kenapa tidak keluar dari kamar nya?" tanya Elzatta. Gita tersenyum manis dan dengan manja menjawab pertanyaan Elzatta.
" Dia lagi sibuk chatting dengan pacar barunya." jawab Gita asal. Elzatta menjadi mengerutkan dahinya.
" Pacar? Kasandra sudah punya pacar? Siapa? Kok aku baru tahu?" tanya Elzatta seperti terkejut akan berita terkini dari Gita.
" Lebih tepatnya gebetan baru! Kenapa, kok kamu seperti terkejut kalau Kasandra sudah punya pacar." selidik Gita. Elzatta berusaha tenang dan tidak gugup.
" Ah biasa saja!" sahut Elzatta berusaha menyembunyikan perasaan nya di depan Gita. Gita tersenyum sambil menatap wajah Elzatta yang ganteng itu.
" Elzatta! Menurut kamu, jika seorang wanita menyatakan cinta nya terlebih dahulu kepada seorang laki-laki yang di sukai nya, gimana? Apa menurut pandangan kamu mengenai hal ini?" tanya Gita. Elzatta kini mulai serius menyimak Gita yang hendak cerita dan curhat.
" Bagi aku tidak masalah! Kenapa? Apa kamu ingin mengungkapkan perasaan kamu itu pada pria yang kamu suka?" tuduh Elzatta. Gita mengangguk pelan. Elzatta kini tersenyum lebar.
"Tetapi aku belum yakin jika laki-laki itu menyukai aku. Namun laki-laki itu sering menjumpai aku." cerita Gita. Elzatta mengernyitkan dahinya.
" Lebih baik kamu mengutarakan isi hati kamu secara jujur dari pada kamu menyesal dikemudian hari, loh!" sahut Elzatta. Gita malah mulai bingung kali ini.
" Bagaimana yah? Tapi aku takut, jika laki-laki itu malah membenci aku dan malah menjauhi aku." ucap Gita.
" Siapa laki-laki itu? Apakah aku mengenalnya? Atau kamu perlu bantuan dari aku untuk menyampaikan perasaan kamu itu pada laki-laki itu?" ujar Elzatta. Gita menggeleng cepat.
" Kenapa?" sahut Elzatta. Gita malah berubah menjadi sedih.
" Mungkin memang benar! Laki-laki itu tidak menyukai aku." ucap Gita.
" Kamu tahu dari mana, jika laki-laki itu tidak menyukai kamu? Kamu saja belum mengutarakan perasaan kamu terhadap dia." sahut Elzatta. Gita menunduk sedih.
__ADS_1
" Hai, kenapa kamu malah menjadi sedih?" tanya Elzatta. Gita mengurungkan niatnya malam ini untuk bicara jujur dengan laki-laki itu. Laki-laki yang disayanginya. Laki-laki yang ketika Gita dekat dengan nya hatinya merasa nyaman. Gita merasakan jantung nya berdebar kencang. Namun keraguan itu hinggap di hati Gita. Karena Gita menilai kalau laki-laki itu tidak memiliki perasaan yang sama terhadap dirinya.
" Aku tidak apa- apa! Aku akan panggilkan Kasandra dulu yah, supaya menemani kamu di sini." ujar Gita lalu bergegas masuk ke dalam rumah kontrak itu dan mulai mengetuk pintu Kasandra. Kasandra melongok kan kepalanya setelah pintu kamarnya ia buka.
" Ada apa Gita?" tanya Kasandra. Gita masih muram wajah nya.
" Kamu temani Elzatta dulu yah! Aku akan buatkan minuman dulu buat Elzatta." kata Gita. Kasandra akhirnya keluar dan duduk menemani Elzatta di depan teras itu.
" Ada apa dengan Gita sih?" tanya Kasandra. Elzatta hanya mengangkat bahunya tanda tidak tahu.
" Memang nya Gita baru saja cerita apa dengan kamu?" tanya Kasandra mulai menyelidiki.
" Hanya cerita kalau dirinya diam- diam menyukai seseorang laki-laki dan ia bertanya kepadaku. Kalau dia duluan nembak, apa pandangan aku soal itu. Tapi akhirnya Gita ragu karena katanya laki-laki itu mungkin saja belum menyukai Gita. Gita masih takut jika setelah dia mengatakan rasa sukanya pada laki-laki itu, malah berakibat laki-laki itu menjauh atau membenci dirinya. Begitu lah kira- kira." kata Elzatta panjang lebar. Kasandra mulai manggut-manggut.
" Kasandra!" panggil Elzatta pelan. Kini Elzatta menatap Kasandra dengan serius.
" Hem? Ada apa?" sahut Kasandra.
" Aku menyukai kamu!" ucap Elzatta. Kasandra malah cekikikan menanggapi perkataan Elzatta dengan candaan.
" Eh? Elzatta! Jangan seperti ini dong!" kata Kasandra.
" Kamu harus menjawab nya malam ini, Kasandra! Maukah kamu menjadi pacar aku?" ucap Elzatta sambil meraih tangan Kasandra dengan paksa.
Adegan Elzatta yang sedang memegang tangan Kasandra itu berlangsung cukup lama. Kasandra berusaha melepaskan pegangan tangan itu. Namun tangan Elzatta begitu kuat mencengkram nya. Gita yang hendak keluar mengantarkan minuman untuk Elzatta itu mengurungkan untuk keluar dan hanya berdiri mematung di dekat pintu utama. Gita akhirnya mendudukkan pantatnya ke karpet di ruang tengah itu.
" Elzatta menyukai Kasandra? Jadi selama ini, Elzatta sering kemari dan mengajak kami jalan- jalan untuk pendekatan dengan Kasandra?" gumam Gita. Gita sangat sedih sekali dan rasanya dadanya begitu sesak. Gita masuk ke dalam kamarnya dan membiarkan gelas yang berisi kopi untuk Elzatta diletakkan di ruang tengah kontrakan itu.
Gita menjatuhkan tubuhnya dan menangis di kamarnya. Baginya ini sungguh menyakitkan hatinya. Dia sedih ternyata cinta nya bertepuk sebelah tangan. Dia tidak menyangka kalau Elzatta menyukai Kasandra sejak lama.
" Bagaimana dengan aku? Elzatta menyukai Kasandra. Apakah Kasandra juga demikian, menyukai Elzatta?" gumam Gita sedih. Air matanya tertumpah di sana. Menangis adalah obat bagi Gita supaya hatinya tidak merasakan sesak dan rasanya sulit bernafas.
__ADS_1
Elzatta masih belum melepaskan genggaman tangan Kasandra. Kasandra bingung harus menjawab apa.
" Aku menyukai kamu lama, Kasandra! Kamu pasti juga menyukai aku bukan?" kata Elzatta seolah memaksakan diri jika perasaan yang ia miliki itu, Kasandra juga merasakan hal yang sama dengan dirinya.
" Kasandra! Ayo kita pacaran!" ujar Elzatta. Kasandra seketika menggeleng pelan.
" Maaf Elzatta! Aku belum bisa!" sahut Kasandra. Elzatta tetap bersikeras supaya Kasandra mau menerima dirinya untuk jadian. Tangan itu masih berpegangan. Elzatta masih enggan untuk melepaskan nya.
Jauh di sana, ada sepasang mata yang menyaksikan adegan itu juga. Seorang laki-laki yang saat ini mengendarai motor gedhe nya. Sorot laki-laki itu mengisyaratkan kecemburuan dan juga kemarahan nya ketika melihat adegan itu. Tanpa tahu bagaimana keadaan sebenarnya, laki-laki itu hanya melihat dari jauh kalau antara Kasandra dengan Elzatta itu seperti sedang berpacaran. Apalagi Elzatta begitu sangat dekat jaraknya dengan Kasandra. Akhirnya laki-laki itu mulai meninggalkan tempat itu dan tidak ingin melihat adegan mesra diantara Kasandra dengan Elzatta.
" Maaf Elzatta, aku belum bisa!" ucap Kasandra kembali. Kini Kasandra telah menarik tangannya dengan paksa.
" Tapi kenapa? Bukankah kamu juga menyukai aku, Kasandra?" ujar Elzatta yang begitu percaya diri. Kasandra menggelengkan kepalanya.
" Maaf Elzatta! Lebih baik kita berkawan saja. Aku sudah menganggap kamu sebagai teman aku. Kau sungguh-sungguh tidak bisa menerima kamu sebagai pacar atau kekasih. Jadi kita tidak mungkin berpacaran." ucap Kasandra. Elzatta seketika lemas badannya.
Kasandra sesaat melihat Elzatta yang berubah menjadi sedih. Hal ini seperti yang Kasandra lihat ketika melihat wajah Gita yang sedih.
" Kenapa malam ini semuanya menjadi bersedih?" tanya Kasandra pelan.
" Gita sedih kamu juga demikian." tambah Kasandra.
" Kalau kamu ingin melihat aku tidak bersedih, Terima aku jadi pacar kamu, Kasandra." desak Elzatta. Kasandra menarik nafasnya pelan.
" Elzatta! Maaf, aku tidak bisa!" sahut Kasandra.
" Apakah kamu sudah memiliki kekasih?" tanya Elzatta. Kasandra terkejut dengan pertanyaan itu. Kasandra masih diam belum menjawab nya.
" Aku memang menyukai seorang laki-laki itu. Namun aku juga belum yakin, apakah laki-laki itu juga serius dan menyukai aku. Apakah laki-laki itu hanya mempermainkan aku saja. Namun nyatanya laki-laki itu dengan terang- terangan bilang mengangumi aku." pikir Kasandra.
" Diandra? Apakah dia serius dengan aku?" batin Kasandra.
__ADS_1
" Kalau kamu diam! Berarti benar kata Gita, kalau kamu sudah mempunyai gebetan bukan?" tuduh Elzatta. Kasandra malah menjadi sedih kali ini.
" Maaf, Elzatta! Apakah kita tidak bisa berteman saja?" ucap Kasandra lagi. Elzatta akhirnya memaksa diri nya untuk tersenyum walaupun hatinya sangat sedih dengan penolakan halus dari Kasandra.