
Diandra pergi bersama putrinya Sifa ke pusat perbelanjaan di kota. Bahan- bahan yang digunakan untuk melukisnya sudah mulai habis. Diandra memang saat ini harus mengumpulkan banyak koleksi hasil lukisannya yang akan dipamerkan nanti di acara akhir tahun bersama beberapa pelukis- pelukis lainnya di pameran seni nanti. Diandra dengan akrab bersama putrinya berjalan- jalan menikmati suasana sore itu di pusat kota.
Banyak bahan yang harus Diandra beli, sekalian juga mengajak putrinya keliling kota. Sudah sangat lama kebersamaan dengan putri nya itu tidak Diandra lakukan semenjak perceraian nya dengan Dina. Sifa, putrinya memang sering dijemput Diana akhir- akhir ini hanya sekedar makan bersama dan shoping membelikan baju, sepatu, tas untuk Sifa. Namun berdua dengan putri semata wayangnya ini sangat jarang Diandra lakukan, apalagi Diandra lebih sering berkutat dengan coretan nya dan lebih sering mengurung diri di kamar yang dijadikan untuk melukisnya.
Hingga Diandra melihat poster terpampang jelas dan besar berada di depan kios dalam pusat perbelanjaan itu. Di sana pun ada beberapa orang, entah mahasiswa atau bukan mereka membagi- bagikan brosur-brosur kepada pengunjung mall yang berdatangan. Diandra mulai mendekati beberapa orang yang membagikan brosur tersebut dan mengambil satu lembar brosur itu yang dibagikan oleh orang tersebut. Diandra mulai membaca bahwasanya brosur itu adalah pertunjukan teater yanga akan diadakan malam minggu di gedung teater dan seni yang berada di pusat kota. Tampak nama- nama yang tertera di brosur itu. Betapa jantung Diandra seketika berdetak begitu kencang ketika melihat nama Kasandra di sana. Namun bukankah di dunia ini banyak nama Kasandra?
Diandra mulai mengamati poster yang ada gambar wajah beberapa yang akan mementaskan pertunjukan teater tersebut. Diandra mulai terkejut bukan main. Hatinya pun ikut bahagia bisa menemukan wajah Kasandra di sana. Ini benar! Diandra tidak akan salah lagi. Kasandra ada di kota ini saat ini. Jadi, apakah dirinya jarang keluar rumah dan banyak dikamar sehingga untuk mencari sosok Kasandra pun tidak dapat.
" Ayah!" panggil Sifa yang melihat Diandra, ayahnya menatap poster itu sampai mengusap gambar poster tersebut.
" Eh, iya nak!" sahut Diandra terkejut.
" Apakah ayah mengenali tokoh-tokoh yang akan memerankan pertunjukan teater itu?" tanya Sifa penuh selidik.
" Sepertinya dia memang kawan kuliah ayah saat itu." jawab Diandra jujur.
__ADS_1
" Hem? Tapi masih sangat muda sekali! Sedangkan ayah terlihat sudah tidak sesegar dan seumuran dengan gambar di poster itu." kata Sifa jujur
Diandra menjadi terkekeh mendengar Sifa,putri nya berkata begitu. Memang kenyataannya dirinya kurang mengurus dirinya. Apalagi rambut lurus nya mulai dibiarkan panjang. Dengan sedikit kumis dibiarkan agak tebal belum dicukurnya.
" Tapi, ayah akan terlihat muda jika ini kumis, brewok nya dicukur habis." nilai Sifa jujur.
" Benarkah?" sahut Diandra polos mempercayai penilaian putrinya.
" Apakah wanita ini, yang sering ayah lukis dan banyak menjadi obyek di lukisan ayah? Semua ada wajah nya loh. Sifa tidak akan salah lihat." goda Sifa.
" Kalau begitu, Sifa akan bertanya kepada mereka. Dimana untuk membeli tiketnya masuknya. Ini jangan sampai kehabisan dan terlewatkan. Ayah, ini kesempatan ayah untuk bisa berjumpa dengan wanita yang ayah kagumi selama ini. Betul kan, ayah?" ucap Sifa lalu bergegas mendatangi salah satu wanita yang sedang membagi- bagikan brosur kepada pengunjung.
*******
" Ayah! Kata wanita itu, disini juga melayani tiket masuk untuk menyaksikan pertunjukan teaterikal itu." kata Sifa dengan mata bersinar.
__ADS_1
Diandra ikut berbinar matanya. Hatinya sangat bahagia mendengar Sifa memberitahu akan hal ini.
" Ayah! Beli langsung disini kan? Aku juga mau lihat juga deh pertunjukan teater itu." kata Sifa bersemangat.
Diandra tanpa berucap menarik dompetnya yang diletakkan disaku celananya dan menyerahkannya pada Sifa. Sifa mengambil dompet yang diberikan oleh ayahnya lalu bergegas ke wanita yang sudah siap melayani pembelian tiket masuk melihat pertunjukan teater itu.
" Alhamdulillah ya Tuhan! Aku akan melihat kamu Kasandra!" gumam Diandra sambil tersenyum.
*******
Betapa cinta ini bisa pelan- pelan membunuh aku ketika kerinduan tidak berujung temu. Ketika rasa semakin menumpuk memendam rindu. Aku dalam penantian akan harap temu. Hadirmu yang kan membasuh setiap kering ragaku akan sentuhan kamu.
Betapa cinta ini merusak akal sehatku. Ketika bayangan selalu melintasi perjalanan ku. Dalam mimpi- mimpi yang berharap temu. Akan kehadiran kamu yang mengobati aku. Merongrong jiwa yang beku. Ah... semoga hadirmu akan mengobati harapan ku untuk meraih kamu dalam kenyataan yang tak membuat resah hatiku. (Cinta yang lebay)
__ADS_1