
Sebuah mobil sudah berhenti di rumah kontrakan milik Kasandra. Laki-laki itu turun dari mobil itu dengan membawa buah tangan di satu tangannya. Dengan senyumnya yang lebar, laki-laki itu mendekati rumah kontrakan Kasandra dan mulai mengetuk nya.
Kasandra mengintip dibalik kaca rumah kontrakan itu. Dilihatnya laki-laki yang sudah sangat dirindukan nya beberapa hari ini. Kasandra tersenyum lalu membuka pintu rumah kontrakan itu.
" Mas Diandra!" sebut Kasandra. Lalu bersalaman. Punggung tangan milik Diandra pun diciumnya.
" Kangen aku ya?" tuduh Diandra. Kasandra merona wajahnya. Diandra memeluk Kasandra sesaat setelah oleh-oleh di tangannya diletakkan di bawah. Kasandra merasakan aliran darahnya menghangat. Pelukan Diandra sangat mendamaikan jiwanya. Kasandra tanpa sadar meneteskan air matanya.
" Woyy, kamu menangis yah, sayang?" ucap Diandra sesaat melepaskan pelukan itu lalu memperhatikan Kasandra yang terlihat berderai air matanya. Diandra mengusap air mata itu.
" Ayo duduk! Bukannya aku sudah datang kan, sayang? Sudah hapus air matanya, jangan cengeng! Nanti kalau Sifa tahu, akan ditertawakan olehnya." goda Diandra sambil merapikan rambut Kasandra yang menutupi matanya.
" Gak ada Sifa kok! Jadi dia gak akan tahu kalau, mas Diandra yang bercerita dengan nya." sahut Kasandra sambil mencubit lengan Diandra.
" Kita duduk di sini saja! Aku akan bercerita dengan kamu selama perjalanan bisnis ke luar negeri bersama papa." kata Diandra. Kasandra ikut duduk di atas karpet yang tidak ada kursinya itu.
Diandra bercerita dengan Kasandra selama perjalanan bisnisnya bersama papa nya selama hampir dua mingguan. Kasandra mendengarkan dengan serius. Sesekali Diandra membuat Kasandra tersenyum dan bahkan tertawa dengan ceritanya di negera orang itu.
Diandra mengambil buah tangan yang sudah dia bawa dan siapkan untuk Kasandra. Kasandra senang dengan oleh-oleh yang diberikan oleh Diandra. Bukanlah harga atau barangnya yang bagus, namun Kasandra merasa kalau Diandra selalu perhatian dengan dirinya walaupun sedang berjauhan.
" Kamu menyukainya bukan?" tanya Diandra sambil memasangnya kalung ke leher Kasandra. Kasandra mengangguk pelan.
" Pasti mahal yah, mas?" tebak Kasandra.
" Tidak kok!" sahut Diandra. Lalu Diandra mengambil bungkusan yang lebih besar. Satu buah tas selempang kesukaan Kasandra. Kasandra tersenyum lebar.
"Aku suka sekali modelnya, mas! Mas Diandra kok tahu model yang aku suka?" tanya Kasandra.
" Tahu dong!" sahut Diandra. Diandra mulai mencari keberadaan Gita yang tidak terlihat di rumah kontrakan itu. Kasandra mulai paham akan pikiran Diandra.
" Gita sudah pindah ke apartemen. Elzatta sudah membelikan apartemen itu untuk Gita." ucap Kasandra. Diandra mengerutkan dahinya.
" Jadi, sekarang kamu sendirian? Tidak takut?" tanya Diandra. Kasandra tersenyum.
" Baru tadi malam pindahan nya. Dan pagi ini baru merasakan sepi di rumah kontrakan ini. Untung saja kamu datang ke. mari, mas!" cerita Kasandra. Diandra diam saja.
" Kamu sudah makan, yank?" tanya Diandra.
__ADS_1
" Belum! Baru buat teh panas! Oh iya, sampai lupa. Kamu mau dibuatin minum apa nih?" tawar Kasandra.
" Kopi aja!" sahut Diandra.
" Baiklah, akan aku buatkan untuk kamu." kata Kasandra sambil beranjak membuatkan kopi untuk Diandra. Diandra malah mengikuti Kasandra dari belakang.
" Aku juga bisa membelikan apartemen untuk kamu, kalau kamu mau." kata Diandra.
" Tidak usah! Bukannya sebentar lagi kita menikah? Dan kamu akan memboyong kamu ke rumah kamu, kan mas?" kata Kasandra. Diandra tersenyum.
" Tentu saja! Ah, rasanya sudah tidak sabar menanti hari itu." sahut Diandra. Kasandra menghela nafasnya.
" Awal tahun sebentar lagi, kan mas? Akhir tahun kamu mengadakan pameran seni dan lukisan. Sedangkan aku mengadakan pertunjukan megah dan spektakuler pementasan teater." kata Kasandra menggebu-gebu.
" Aku pasti datang menyaksikannya seperti dulu." sahut Diandra. Kasandra menghela nafas lega.
" Apakah kamu tidak repot? Pementasan teater itu akan ditayangkan secara live di salah satu stasiun televisi swasta. Dan juga dipromotori oleh produser dan rumah produksi film." jelas Kasandra.
" Benarkah?" sahut Diandra.
" Syukurlah! Pameran seni itu mulai dibuka dari tanggal 10- 24 Desember nanti." Diandra tersenyum lega. Kasandra ikut senang mendengar nya.
" Akhirnya jadwalnya tidak bentrok kan, mas? Aku bahagia banget jika kamu duduk di depan bersama Sifa seperti dulu itu." kata Kasandra.
" Awal perjumpaan kita kembali setelah sekian lama kita tidak berjumpa yah? Kamu pasti tidak ingat aku saat itu, kan yank?" tuduh Diandra.
" Maaf, karena kamu tambah tampan dan maco." sahut Kasandra. Diandra terkekeh mendengar rayuan Kasandra.
" Kita keluar yuk!" ajak Diandra.
" Kemana?" tanya Kasandra.
" Makan diluar dan setelah itu ke Timezone dan nonton." sahut Diandra.
" Jemput Sifa dulu gak?" tanya Kasandra.
" Kamu yakin ingin mengajak Sifa?" ucap Diandra.
__ADS_1
" Huum! Kenapa? Sudah lama gak main bersama Sifa anak kita." kata Kasandra. Diandra terkekeh mendengar nya.
" Anakku bukan anak kamu!" protes Diandra memancing jawabannya Kasandra.
" Anak kamu, anak aku juga mas!" sahut Kasandra. Diandra merengkuh tubuh mungil Kasandra. Diandra bahagia banget rasanya bisa berjumpa dengan Kasandra kembali setelah dua minggu ini tidak Menjahili wanita nya.
" Boleh cium gak?" ijin Diandra. Kasandra malah mengalungkan tangannya ke leher Diandra. Kasandra seperti membuka kesempatan bagi Diandra untuk melakukan ciuman nya. Diandra pelan mengecup dahi Kasandra. Kasandra sesaat memejamkan matanya. Mata keduanya saling beradu dan menatap.
" Boleh turun gak?" ijin Diandra kembali. Kasandra langsung memejamkan matanya tanda pasrah dan menunggu ciuman dari Diandra mendarat di bibirnya yang sedikit membuka. Namun Diandra yang jahil dan suka menggoda malah memasukkan permen ke dalam mulut Kasandra. Kasandra membuka matanya. Diandra melepaskan pelukan itu.
" Permen nya asem banget!" kata Kasandra. Diandra tersenyum.
" Tapi banyak kandungan vitamin C nya." sahut Diandra.
" Kalau begitu aku ganti baju dulu yah, mas!" kata Kasandra. Diandra menganggukkan kepala.
*******
" Kamu yakin, berani di rumah kontrakan ini sendiri?" tanya Diandra kembali.
" Berani kok!" sahut Kasandra.
" Kamu bisa tinggal di rumah aku dan bobok bersama aku." goda Diandra. Kasandra dengan cepat memukuli lengan Diandra.
" Bukannya kamu nanti akan lebih sering kemari, menemaniku?" tanya Kasandra seolah malah menyuruh Diandra lebih intens mengunjungi dirinya.
" Ogah, malas sekali!" sahut Diandra sambil menunggu reaksi dari Kasandra. Benar saja dengan cepat cubitan itu melayang di pinggangnya. Diandra menangkap tangan Kasandra dan mendorongnya ke dadanya. Diandra mulai menatap manik mata Kasandra sesaat. Wajah itu begitu dekat dan sangat dekat. Namun Kasandra tidak ingin terperangkap kembali. Karena Diandra masih suka jahil dan menggoda nya. Namun ketika Kasandra tidak siap dengan ciuman itu Diandra malah meraup bibir tipis Kasandra. Kasandra seketika membulat matanya. Diandra cukup lama menciumi Kasandra. Aliran hangat mulai menjalar dikedua tubuh mereka. Mereka sesaat melepaskan kerinduan yang membuncah.
" Cukup, mas!" tegur Kasandra. Diandra mengusap bibir Kasandra setelah melakukan ciuman nya. Kasandra tersenyum lega. Mereka bersama mengatur nafasnya.
" Manis bibir kamu!" kata Diandra pelan.
" Bibir kamu bau rokok dan kopi." sahut Kasandra sambil tertunduk malu.
" Kamu suka?" tanya Diandra. Kasandra tersenyum saja.
Diandra mulai menjalankan mobilnya setelah keduanya masuk kedalam mobil itu. Kali ini mereka akan menjemput Sifa terlebih dahulu untuk diajak jalan- jalan dan makan bersama.
__ADS_1