GODAAN- GODAAN LIAR PELUKIS PROFESIONAL

GODAAN- GODAAN LIAR PELUKIS PROFESIONAL
SUDAH DEWASA


__ADS_3

Akhirnya antara papa Gladis dan Dika mulai bermain catur sampai beberapa kali. Mbak Tutik sedari tadi sampai beberapa kali membuatkan minuman kopi hitam yang panas kepada kedua laki-laki yang beda usia dan beda generasi tersebut. Sedangkan Gladis sudah tertidur sangat lelap di kursi sofa di ruangan itu. Mama Gladis? Dia masih bertahan duduk menemani suami nya disana. Namun mama Gladis duduk di sana dengan kesibukannya di depan laptop.


Sampai tengah malam, akhirnya Dika pamit pulang. Sebelum benar-benar pulang, Dika melihat ke arah Gladis yang masih tidur di sofa. Dika rasanya ingin menggendong dan mengangkat nya pindah ke ranjang kamar Gladis. Namun dia tidak cukup keberanian untuk melakukan itu karena ada orang tua Gladis yang masih di situ.


Lagi-lagi mama Gladis menatap wajah Dika yang mulai gelisah dan bimbang.


" Gladis sudah tidur. Apakah tante harus membangunkan dia supaya kamu bisa pamit pulang kepadanya?" pancing mama Gladis.


" Eh? Tidak perlu, tante! Kasihan kalau harus dibangunkan. Besok saja saya menghubungi Gladis." sahut Dika akhirnya.


" Hem?? Apakah saya boleh memindahkan Gladis di kamarnya?" ijin Dika yang takut- takut.


" Tidak apa!" sahut mama Gladis cepat yang mendapatkan mata suaminya melotot ke arahnya.

__ADS_1


Dika bergegas membopong Gladis ke kasur kamar Gladis. Kedua orang tua Gladis menatap gerak- gerik Dika itu dengan penuh ketelitian dan kewaspadaan.


Setelah memindahkan Gladis ke kasur empuk nya, Dika benar-benar pamit pulang dari rumah itu.


" Menurut mama, Dika orangnya bagaimana, ma?" tanya papa Gladis.


" Hampir sempurna! Namun tidak menjamin dia setia." jawab mama Gladis spontan.


" Iya benar, papa! Dengan ketampanannya dan kesuksesan yang dia miliki, Dika akan dikelilingi oleh banyak wanita yang selalu saja ingin mendapatkan nya. Dan Dika mungkin tidak cukup dengan satu saja yaitu Gladis. Mungkin saja masih ada wanita lain yang menunggu Dika di rumah pribadinya." mama Gladis berusaha menganalisa.


" Mama selalu saja menilai buruk seseorang." sahut papa Gladis.


" Itu kan penilaian mama saja. Benar tidaknya hanya Dika dan Tuhan yang tahu." sahut mama Gladis.

__ADS_1


Papa Gladis mulai berpikir dan merenung jika putri nya itu benar-benar menjadi istri dari pemuda yang sudah bermain catur bersamanya tadi.


" Mereka sudah cukup dewasa, pa! Mereka akan menentukan jalan hidupnya sendiri. Langkah dan perbuatan yang dilakukan mereka harus dipertanggungjawabkan." ucap mama Gladis kembali.


" Apakah sejauh itu hubungan mereka?" tanya papa Gladis menebak ke arah hubungan suami istri.


" Kalau mama melihat nya seperti itu. Dan itu sudah terjadi berulang-ulang. Usia Gladis sudah 28 tahun, yang artinya sudah sangat matang. Ditambah Dika, yang mungkin usianya beda dua atau tiga tahun dari Gladis. Usia keduanya sangat bergejolak akan hal itu. Sepantasnya mereka harus segera menikah. Makanya setelah ini, kalau papa sudah semakin dekat dengan Dika. Tanyakan saja akan keseriusannya dengan putri kita pa. Jangan sampai mereka hanya mencari enaknya saja. Lalu Gladis yang dirugikan akan hal. ini." nilai mama Gladis yang prihatin.


" Iya, mama sayang!" sahut papa Gladis.


" Dan sekarang, saatnya papa minta hak papa kepada mama. Dan mama berkewajiban memberikan itu semua." ucap papa Gladis dengan mata yang nakal.


" Terserah! Ayo!" sahut mama Gladis dengan berjalan yang sudah menggoda mata bagi papa Gladis.

__ADS_1


__ADS_2