
" Lebih cantik kamu dari pada mamanya anakku." goda Diandra lagi.
" Sudahlah! Jangan macam- macam Diandra! Aku tidak berminat dengan laki-laki yang sudah beristri." ucap Kasandra.
" Hahaha!" Diandra terkekeh.
" Kok lama sekali sih, pak direktur ini! Belum datang- datang juga." keluh Kasandra sambil menatap pintu ruangan itu.
Tidak lama pintu ruangan itu diketuk dan masuklah seorang laki-laki. Dia adalah Herman.
" Nah itu pak Direktur sudah datang! Panjang umur sekali." kata Diandra sambil menjabat tangan Pak Herman dan Pak Herman hanya menatap Diandra penuh tanda tanya dan melongo saja.Diikuti oleh Kasandra yang ikut bersalaman dengan Pak Herman.
" Selamat pagi, Pak Direktur!" sapa Kasandra ramah. Diandra hanya tersenyum sambil memberikan kode kepada Pak Herman.
" Oh iya pagi! Maaf saya terlambat!" ucap Pak Herman setenang mungkin karena membohongi Kasandra atas permintaan Diandra karena kode yang tiba-tiba itu.
" Silahkan duduk!" ucap Pak Herman kembali.
" Terima kasih Pak!" sahut Kasandra.
Tiba-tiba dengan pikiran jahilnya Pak Herman hendak mengerjai Diandra. Ini kesempatan bagi Pak Herman untuk melakukan itu bukan? Senyuman nya tiba-tiba terukir karena muncul ide jahil itu yang akan di berikan untuk Diandra.
" Kamu mau minum yang segar- segar? Oh iya Diandra! Tolong pesankan minuman yang segar untuk nona Kasandra, bisa juz jeruk atau strawberry." kata Pak Hendra dengan datar. Namun matanya belum berani menatap Diandra yang sangat terkejut karena perintah dari Pak Herman itu terhadap dirinya.
Pak Herman menahan tawanya.
" Hanya itu saja, Pak? Tidak ada yang lain?" sahut Diandra sambil menahan kemarahan nya karena dirinya tadi sedang asyik sekali masuk dalam dunia lukisnya.
" Kalau bisa pisang coklat keju, yah Diandra. Dan satu lagi tidak pakai lama banget." tambah Pak Herman.
__ADS_1
Diandra dengan langkah berat akhirnya keluar dari ruangan kerjanya. Diandra langsung menghubungi OB nya. Lalu kembali ke ruang kerjanya.
Diandra kembali cuek menghadapi lukisannya sambil mendengarkan apa yang akan Pak Herman perintahkan untuk Kasandra.
" Jadi begini, non Kasandra! Kamu mulai besok menjadi asisten pribadi direkrut ini. Tugas kamu tidak berat, hanya mengatur jadwal sehari-hari dari Pak direktur ini. Dan mendampingi dia kalau ada tugas di lapangan atau bertemu dengan klien." jelas Pak Herman.
Kasandra hanya mengangguk saja tanda dirinya sudah mengerti akan tugas nya.
" Selain itu, tugas kamu juga menyiapkan Pak direktur makan dan minumnya selama jam kantor dan sesuai permintaan Pak direktur diluar jam kantor." terang Pak Herman.
" Kenapa saya seperti baby sitter Pak direktur, Pak? Apakah bapak ini hendak mengerjai saya?" sahut Kasandra dengan tegas.
" Bukan! Bukan seperti itu. Pak direktur ini memiliki penyakit dalam dan masalah dalam lambung nya. Karena kesibukannya Pak direktur terkadang lupa makan dan minum. Jadi tolong nona juga memperhatikan Pak direktur ini." jelas Pak Herman.
" Ah mana mungkin seperti itu! Yang saya lihat, seperti nya bapak tidak ada masalah dengan keluhan yang bapak jelaskan tadi. Pak, saya ini kerja tidak untuk main- main Pak." ucap Kasandra tegas.
Diandra tersenyum mendengar semua yang diucapkan oleh Kasandra.
" Lalu siapa lagi? Bukankah tadi Diandra dan juga anda mengakui kalau anda direktur pemilik ruangan ini kan?" sahut Kasandra sambil menatap Diandra minta penjelasan.
" Direktur pasti sangat pemalu, Kasandra! Sudahlah ikuti saja tugas-tugas itu. Di sini nanti bisa berjumlah dengan aku setiap hari disini." ucap Diandra.
" Lagipula, gaji kamu pasti akan dinaikkan seperti biasanya." tambah Diandra kembali.
" Baiklah kalau begitu!" sahut Kasandra.
" Kalau begitu, silahkan tanda tangani surat kontrak perjanjian ini, nona!" kata Pak Herman sambil menyodorkan kertas yang berjumlah lima lembar itu.
Kasandra sekilas membacanya dan terakhir menandatangani kontrak di bawahnya. Di sana tertulis pihak satu dan pihak kedua serta saksi. Pihak pertama adalah Diandra Adityawarman dan pihak kedua adalah Kasandra Ratnasari serta saksi adalah Herman Su Lambang.
__ADS_1
" What??? Ini? Jadi direktur nya adalah kamu Diandra? Diandra Adityawarman, direktur di perusahaan ini setelah wakil presdir? Kamu??" kata Kasandra mulai mendekati Diandra.
" Ini maksudnya apa, Diandra Adityawarman?" ucap Kasandra sambil mendekatkan kertas kontrak itu di dekat wajah Diandra.
" Itu kertas kontrak, sayang!" jawab Diandra masih saja cuek sambil tetap fokus dengan lukisannya.
" Jadi, saya tidak ikut campur yah, pak Diandra!" kata Pak Herman bergegas hendak meninggal ruangan itu.
" Hai kamu, Pak Herman! Tolong minuman segar dan pisang coklat kejunya, segera diantar kemari!" perintah Diandra. Pak Herman yang mendengar perintah itu jadi cekikikan.
" Maaf Pak Diandra! Saya tadi hanya mengikuti alur cerita saja yah!" ucap Pak Herman lalu keluar dari pintu ruangan kerja itu.
Kasandra masih sangat kesal karena dibohongi oleh Diandra beserta sekretaris nya yaitu Pak Herman. Kasandra berdiri di samping Diandra yang masih sibuk melukis. Betapa sangat terkejut dirinya, ternyata sedari tadi Diandra telah melukis dirinya dengan latar warung soto yang sering ia singgahi kalau jam istirahat hanya untuk membeli soto dan jeruk panas.
" Kamu?" Kasandra ingin marah namun melihat hasil lukisan dari Diandra membuat Kasandra tersenyum.
" Aku kenapa? Aku mahir dalam melukis wajah kamu kan? Kamu dalam posisi apa saja selalu cantik. Aku menyukai itu." ucap Diandra. Kasandra tersenyum melihat tingkah konyol Diandra.
" Lumayan! Pelukis amatir seperti kamu ini, lumayan juga kalau dilihat dari hasil karya kamu ini." kata Kasandra yang enggan sekali memuji hasil karya dari Diandra.
" Aku suka kamu yang apa adanya. Dari ucapan dan penilaian kamu akan membuat aku semakin berbenah dan tidak akan puas dengan karya ini. Bukankah seperti itu kan, yank?" ucap Diandra akhirnya menyudahi kegiatan melukis nya setelah ketukan pintu ruangan kerja nya kembali terdengar. Pak Herman datang dengan membawa minuman menyegarkan dan pisang coklat keju sesuai yang dimintanya.
" Terimakasih pak Herman! Nanti sampaikan ke papa kalau saya sudah mendapatkan asisten pribadi. Dan sampaikan kepada om Dedy juga, anak angkatnya sekarang sudah naik posisi nya menjadi asisten saya." jelas Diandra.
" Pak Dedy?" tanya Pak Herman.
" Iya, wakil presdir di perusahaan ini. Kasandra ini yang bawa ke perusahaan ini adalah Pak Dedy." terang Diandra sambil melirik Kasandra. Kasandra dengan cepat mencubit pinggang Diandra.
" Masa harus kamu jelaskan ke Pak Herman sih, kalau aku nepotisme masuk ke perusahaan ini." sahut Kasandra malu.
__ADS_1
" Hahaha! Sudahlah! Ayo kita minum dulu, nanti aku ada sedikit tugas untuk kamu, Kasandra." kata Diandra akhirnya.