
Papa dan mama Gladis sudah duduk berhadapan dengan Dika dan Gladis. Sepasang kekasih itu seolah sedang diinterogasi oleh kedua orang tua Gladis. Mata tajam milik mama Gladis seperti menusuk ke arah jantung milik Gladis dan Dika. Walaupun tidak banyak bicara dan bertanya-tanya, mama Gladis sungguh pandai menilai body linguistik dari putri nya dan juga Dika. Dalam hal ini memang papa Gladis yang sering bertanya dan banyak bertanya tentang berbagai hal. Bukan hanya soal bisnis, namun juga hobi dari Dika.
Papa Gladis tidak membahas soal hubungan mereka maupun keseriusan diantara mereka. Dan Dika pun masih basa- basi dan belum membicarakan soal keseriusan nya ingin menikahi Gladis. Gladis sudah mulai bosan ikut nimbrung duduk di ruang tamu itu. Namun terlihat mama Gladis masih sangat setia menemani papanya Gladis yang mulai tertarik berbicara masalah bisnis.
" Mama, papa, saya masuk ke kamar boleh gak?" tanya Gladis kepada kedua orang tuanya itu. Alhasil malah mendapatkan mata yang membesar dan membulat dari mata Dika. Hal itu bukan tidak dilihat oleh mama Gladis. Mama Gladis spontan saja tersenyum melihat gerak- gerik dari pemuda- pemudi di dekatnya itu.
" Kamu ngapain buru- buru masuk ke dalam, Adis? Bukankah kawanmu Dika masih disini? Masak kamu tega meninggalkan dia sendirian bersama mama, papa?" kata papa Gladis yang suka memanggil Gladis dengan Adis saja.
__ADS_1
" Bukannya ada mama, papa? Jadi Dika sudah ada yang menemani yaitu mama dan papa." alasan Gladis.
Gladis akhirnya tidak bisa beralasan lagi. Padahal saat ini dirinya sudah begitu lelah karena dari kemarin melakukan pertempuran seru melawan Dika. Dan Dika seperti tidak pernah cukup dan lelah akan semua itu. Apa yang dikonsumsi dan dimakan Dika sehingga staminanya begitu kuat dan tidak mudah lelah.
Mama Gladis sekilas menatap mata letih putri nya itu. Namun ada sedikit kekhawatiran akan semua di dalamnya. Bukan tidak paham dan tidak tahu akan perubahan yang terjadi pada fisik putri nya. Mata seorang ibu itu mudah memahami semuanya. Dan memang Gladis dan Dika sama-sama sudah sangat dewasa untuk memilah dan memilih semua langkah. Namun jika melakukan semua, mereka harus menanggung segala konsekuensi nya dan harus berani bertanggung jawab atas semua yang sudah diperbuat nya.
Gladis hanya menganggukkan kepala pelan.
__ADS_1
" Ya sudah! Bobok di sini saja!" tambah mama Gladis bijak. Hal itu membuat Dika menyunggingkan senyumannya. Gladis akhirnya tidur di kursi sofa panjang yang tidak jauh dari mereka yang sedang duduk.
" Nak Dika! Kamu bisa bermain catur bukan? Tentu bisa dong?" ucap papa Gladis uang tidak menghendaki alasan atau penolakan dari Dika.
" Akan saya coba, om!" sahut Dika bijak.
" Oke! Kita bermain catur yah! Aku akan mengambilnya." ucap papa Gladis sambil melangkah mengambil permainan catur yang sudah ia simpan.
__ADS_1
Akhirnya antara papa Gladis dan Dika mulai bermain catur sampai beberapa kali. Mbak Tutik sedari tadi sampai beberapa kali membuatkan minuman kopi hitam yang panas kepada kedua laki-laki yang beda usia dan beda generasi tersebut. Sedangkan Gladis sudah tertidur sangat lelap di kursi sofa di ruangan itu. Mama Gladis? Dia masih bertahan duduk menemani suami nya disana. Namun mama Gladis duduk di sana dengan kesibukannya di depan laptop nya.