GODAAN- GODAAN LIAR PELUKIS PROFESIONAL

GODAAN- GODAAN LIAR PELUKIS PROFESIONAL
PENERUS


__ADS_3

" Ah ini tidak benar! Laki-laki itu sudah berkeluarga. Aku tidak boleh menjadi perusak rumah tangga nya." pikir Kasandra.


" Aku akan memblokir nya!" pikir Kasandra.


Setelah memblokir nomer Diandra, Kasandra kembali memejamkan matanya. Namun Kasandra belum bisa tertidur setelah mimpi itu. Kasandra menjadi uring-uringan sendiri.


" Ah aku jangan sampai gila soal mimpi itu! Itu tidak benar! Aku tidak ingin menjalin hubungan dengan laki-laki yang beristri." pikir Kasandra kemudian.


*******


Di tempat lain. Diandra masih sibuk menyelesaikan lukisan yang ke 13. Diandra terlihat bersemangat menggarap karya lukisnya itu. Akhir tahun dirinya harus menampilkan karya- karyanya yang berpotensi itu.


Sesaat Diandra duduk sambil menatap hasil lukisannya. Matanya menatap lukisan yang menjadi favoritnya. Sosok wanita yang cantik dan lemah gemulai itu. Kini ingatannya kembali ke wajah Kasandra yang kemarin ia jumpai ketika pementasan teater bersama Sifa putrinya.


" Sepertinya aku akan melukis kembali wajah kamu Kasandra. Kamu yang meliuk-liuk ketika memerankan pertunjukan teater dalam penokohan itu. Kamu terlihat sangat bersinar diantara yang lainnya." pikir Diandra sambil menyalakan batang rokoknya kembali.


Kini Diandra mencari ponselnya. Diandra mencari nomer kontak wanita yang dia kagumi itu. Diandra menuliskan sesuatu di sana. Lalu dengan cepat mengirimkan ke nomer Kasandra.


" Ehh? Dia memblokir aku?" gumam Diandra.


Diandra seketika lemas.. Raut wajahnya terlihat sangat sedih. Betapa tidak, wanita yang semalam mengirim chat kepadanya begitu manis, kenapa sekarang jadi memblokir nya. Apakah balasannya membuat wanita itu menjadi tersinggung.


" Mungkin saat ini dia tidak ingin diganggu oleh aku." pikir Diandra.


Setelah ponsel itu diletakkan di atas meja, kembali ponsel Diandra berbunyi. Diandra menatap layar ponselnya yang menunjukkan siapa yang menghubungi dirinya. Papa nya telah menghubungi dirinya. Diandra lalu membuka layar ponselnya.


" Iya, halo pa!" sapa Diandra.


" Tapi aku masih harus menyelesaikan lukisanku dulu, pa." protes Diandra.


" Baiklah kalau begitu! Di kantor?" tanya Diandra masih bertanya dengan papa nya di seberang sana.


" Iya.. iya,.. pa! Aku segera ke sana! Aku akan bersiap- siap!" ucap Diandra akhirnya.


Diandra menghela nafasnya. Papa nya menyuruhnya segera datang ke kantor. Perusahaan bidang konstruksi itu mulai berkembang pesat. Proyek- proyek banyak yang mempercayai kerja sama dengan perusahaan konstruksi milik keluarga Diandra itu, tepat nya saham kepemilikan terbesar adalah empunya papa nya, selain berapa persen milik om dan juga tante nya. Namun hampir tujuh puluh persen kepemilikan saham adalah milik papa Diandra. Dari dulu, papa Diandra ingin melibatkan Diandra dalam perusahaan konstruksi tersebut. Namun Diandra masih saja menolaknya. Padahal Diandra sudah diberi sedikit pembagiannya sekitar sepuluh persen. Jadi walaupun Diandra masih belum turun dan terjun ikut mengembangkan perusahaan konstruksi tersebut, Diandra sebenarnya mendapatkan penghasilan dari pembagian sesuai saham yang dimiliki.

__ADS_1


" Kenapa papa selalu menginginkan aku masuk ke dunia bisnis itu sih?" keluh Diandra sambil keluar dari ruangan melukis nya.


Diandra mulai menuju kamarnya dan mulai membersihkan dirinya. Diandra mulai berpenampilan selayaknya bos eksekutif yang mengenakan setelan jas rapi dengan sepatu yang mengkilap. Diandra melihat pantulan dirinya di cermin kamarnya yang lumayan besar.


" Ini seperti bukan diriku. Aku terlalu rapi sekali. Hehe." pikir Diandra yang melihat dirinya seperti Antonio Banderas.


Diandra saat ini berambut sedikit panjang. Rambutnya kini ia rapikan dan ikat kebelakang. Jidatnya yang sedikit lebar menambah kesan cowok maco yang bikin wanita-wanita klepek-klepek. Apalagi badan bidang Diandra yang sangat atletik jika dibuka akan terlihat sixpack. Wanita manapun akan tergila-gila jika melihat penampilan Diandra yang seperti pria mapan, dewasa dan cool.


*******


Dengan mobil sport nya, Diandra memasuki gedung bertingkat itu. Diandra langsung menuju ruangan dimana papa dan beberapa keluarga dekat menunggu. Keluarga dekat dari ayah, tante dan om nya, ke dua adik dari papa nya.


Diandra masuk ke ruangan yang cukup luas, mewah dan megah. Di sana sudah duduk papa Diandra, tante Fina dan om Dedy.


" Hai anak badung! Akhirnya kamu ke sini juga!" sapa om Dedy yang umurnya sekitar empat puluhan. Om Dedy terlihat masih muda sekali, apalagi wajah gantengnya masih saja menggoda bagi wanita- wanita. Tante Fina hanya tersenyum melihat keponakan nya yang ganteng itu datang lalu duduk bergabung dengan mereka.


" Lagi kumpul ini, pa?" tanya Diandra setelah menjabat tangan seniornya alias sesepuh nya.


" Lagi kumpul apa toh, nak? Kita hampir setiap hari yah begini. Kecuali weekend saja kita libur." sahut Tante Fina.


" Diandra! Kamu lagi mengerjakan proyek apaan sih? Sampai tidak mau datang ke kantor loh! Ini perusahaan juga milik kamu juga! Kamu seperti tidak perduli." protes om Dedy.


" Akhir tahun aku akan ikut pameran lukisan om! Aku saat ini sedang mengoleksi hasil lukisanku. Ini sudah terkumpul 13 lebih. Itupun sebenarnya sudah lebih dari itu, namun ada beberapa relasi yang tertarik lalu mengambilnya. Jadi sedikit kejar tayang, aku om Dedy." cerita Diandra semangat.


" Tapi mbok ya, jangan lupa perusahaan ini to nak? Kami sudah senior dan kamu sewaktu- waktu yang akan turun ke lapangan. Tenaga kami sudah mulai lemah." sahut om Dedy sambil terkekeh.


" Om Dedy masih terlihat muda loh! Mau cari 10 istri lagi masih mampu." goda Diandra.


" Apa? Om bisa dimutasi hidup- hidup sama tante kamu, kalau om nyari istri lagi. Ini anak kok sembrono sih? Mas Aditya, ini anak kamu kok kelewat rusaknya sih? Hahaha." kata Om Dedy dan yang lain ikut tertawa.


" Bagaimanapun kabar istri kamu, Diana?" tanya tante Fina.


" Diana? Masih gitu- gitu aja. Masih cantik, dan yang terpenting masih menggoda tante." sahut Diandra dan kembali membuat papa, om dan tante nya tertawa.


" Diandra ini nakalnya mirip sama mas Aditya loh!" ucap Om Dedy.

__ADS_1


" Papa aku paling kalem, om Dedy! Aku juga sebenarnya kalem, apalagi waktu tidur." sahut Diandra sambil tersenyum.


" Apa di sini lagi kemarau yah, tante?" tambah Diandra sambil memegangi tenggorokan nya. Tante Fina jadi tersenyum.


" Kamu mau apa? Jus atau kopi?" tanya Tante Fina kepada Diandra.


" Aku juz mangga saja, tante." pinta Diandra.


" Oke, tante pesan kan dulu yah! papa kamu dan om Dedy sudah pasti kopi hitam." kata Tante Fina sambil membuka layar ponselnya dam menghubungi asisten pribadinya yang sedang di luar.


" Diandra! Kamu masih ingat ruangan kerja kamu kan, nak?" tanya Papa Diandra, papa Aditya.


" Ingat pa!" sahut Diandra.


" Mulai besok kamu harus disiplin yah, nak! Nanti setelah ini pelajari beberapa berkas kerja sama yang bertumpuk di atas meja kerja papa itu. Papa sekarang mengandalkan kamu. Tolonglah nak!" kata papa Diandra dengan suara agak lemah.


" Tapi, papa tidak apa- apa kan? Papa harus menjaga kesehatan." sahut Diandra sudah mulai cemas.


" Aku hanya kangen dengan kamu saja, nak!" ucap Papa Diandra. Om Dedy dan Tante Fina seketika langsung mencibir bibir nya.


" Memang yah kalau urusan merayu, mas Aditya tidak ada lawannya." sahut Om Dedy.


Mereka seketika tertawa renyah.


" Tapi, apakah aku mampu, pa? Om Dedy? Tante Fina?" tanya Diandra seolah meragukan potensi dirinya.


" Kamu tidak perlu beralasan yah, nak!" sahut Tante Fina.


" Kami akan membimbing kamu, anakku!" ucap Papa Diandra, bapak Aditya.


" Tapi aku bisa membawa kanvas aku ke kantor kan, pa?" rengek Diandra dengan mata yang lucu.


" Haha terserah! Kalau itu yang membuat kamu senang! Mainkan saja! Asal pekerjaan kamu disini beres! Oke, ponakan ku yang ganteng!" ucap Tante Fina.


" Tante Fina memang paling cantik dan selalu memahami ponakan nya." sahut Diandra sambil memainkan matanya.

__ADS_1


__ADS_2