GURUKU ADALAH TUAN MUDA

GURUKU ADALAH TUAN MUDA
Perkenalan Rere


__ADS_3

***.


Istirahat telah tiba, Fina lebih memilih istirahat dan duduk di belakang sekolah, Kalau tidak Fina akan memilih di atas gedung sekolah.


Fina masih tetap saja heran, padahal semalam dia bertengkar hebat, dan Haru marah besar kepadanya. Tapi tak ada satu patah katapun terlontar dari bibir Haru untuk menghukum nya


" Dasar tak punya perasaan, masih saja tetep dingin, suami seharusnya melihat istrinya menangis bukannya dipeluk atau di cium kek," Kesal Fina. "Tapi, kenapa wanita itu disini?. Walau bagaimanapun juga tuan Haru sudah memiliki kekasih, aku harus bisa menerima semuanya bahwa memang aku hanyalah seseorang yang dijadikan budak, Fina melamun.


" Nih..., Heri memberikan sandwich ke Fina.


"Ah terima kasih," jawab Fina. "dimana Lyla?"


"Dia di kantor pak xxx mengerjakan tugas jadi dia tidak istirahat, anak itu bodoh sekali memang,"


"Kamu menyukai Lyla yah Her," tanya Fina membuat Heri kaget.


"Kenapa kamu bisa bertanya pertanyaan bodoh seperti itu," jawab Haru.


"Tapi, sepertinya kamu menyukai Lyla karna perhatian sekali sama dia," Fina menggoda.


Yang aku sukai itu kamu bodoh, bukan Lyla, jawab Heri dalam hati.


"Terserah," akhirnya dia mengatakan kata itu karna dijelaskan pun tidak memungkinkan.


"Rambutmu tergerai berantakan sekali," Heri sambil mengacak-acak rambut Fina. "Sini, aku bantu merapihkannya."


"Ah,biar aku sendiri yang merapihkan," Fina bergegas mau bangun, tapi Heri menekan bahu Fina sehingga Fina kembali duduk. Dan membiarkan Heri mengikat rambutnya.


Sementara di koridor, Haru melihat pemandangan itu dan berhenti sejenak lalu pergi berlalu.


" Cih...!" Gumam Haru sambil berjalan.


"Sebentar lagi akan ada pesta tahunan disekolah ini, pasti sangat berisik," Heri memulai obrolan.


"Bagus kan sekolah akan ramai, dan banyak orang tua murid yang datang kesini,"


"Aku tidak terlalu suka keramaian," Heri.

__ADS_1


"Begitu, tapi kamu kan ketua kelas sekaligus ketua osis, pasti akan banyak sekali hal yang harus dilakukan," Fina berkata sambil memakan roti nya.


"Aku akan bolos saja," jawab Heri.


"Kenapa bolos, aku saja antusias mengikuti festival ini, pasti menyenangkan sekali," jawaban Fina dengan antusias


"Kalau kamu ikut aku juga akan ikut," jelas Heri


"Huh, kenapa harus ada aku dulu baru ikut," tanya Fina. Heri memilih tidak menjawab dan sibuk memakan jajanannya.


****


Dikamar Haru sedang memegangi tangan Fina, dan Fina berusaha melepaskan diri tapi tidak bisa. Semakin dekat jarak mereka dan hampir menempel, mereka bisa merasakan nafas mereka masing-masing.


"Lepaskan saya tuan," Tubuh Fina terdesak ke tembok.


"Begitu, kamu ingin aku melepaskanmu, tidak suka aku sentuh, tapi kamu membiarkan laki-laki lain menyentuhmu," Semakin dekat wajah mereka.


"Berani sekali kamu ya, kira-kira hukuman apa yang ingin kamu terima dariku," Goda Haru.


Haru mendesak lalu mendarstkan ciuman ke Fina dan tangan Haru mulai berjalan menyusuri pinggang Fina. Haru tersadar dengan apa yang dia lakukan lalu buru-buru melepaskan Fina dari dekapannya.


"a, apa itu tadi, kenapa ciuman nya berbeda dari sebelumnya, dadaku sesak sekali, jantungku masih amankah?" Fina dengan panik tidak percaya.


"Sial...! hampir saja aku kelepasan," Haru sambil menyenderkan punggungnya di balik pintu kamarnya.


Tring... Pesan masuk.


"Har aku tunggu di tempat biasa, sudah kupesankan minuman kesukaanmu, " pesan dari Rere.


"Hemm...," balas Haru.


*****


"Kenapa lama sekali, kamu tau aku menunggumu hampir 1jam, aku paling benci menunggu sama sepertimu," tegas Rere. " Dan kamu hanya membalas Hemm, apa itu maksudnya" tanya Rere.


"Katakan," sambung Haru sembari mengambil minumannya.

__ADS_1


"Kekasih ku ini memang sangat tampan," sambil memegang wajah Haru Rere menggoda.


"Hentikan, kamu bahkan bukan pacarku," Haru.


"Kenapa kamu marah sayang," melihat mata Haru melirik menyeramkan Rere langsung urung menggoda Haru. "Cih, kau tidak seasyik dulu, tapi aku tetap menyayangimu bagaimanapun juga kamu adalah keponakanku tercinta," Jelas Rere.


"Kamu takut istrimu itu cemburu dan kabur lagi dari rumah, duh sebegitu cintanya kamu dengan dia," Rere tidak bisa tidak menggoda keponakan kesayangannya itu. Lalu menjelaskan maksud pertemuan mereka.


"Perusahaan di Australi wijaya Group, mereka ingin menghancurkannya, kita perlu beberapa orang yang kuat untuk bisa mempertahankannya, jika tidak akan direbut dengan negara sebelah," Rere menjelaskan panjang lebar.


"Sudah ku kirimkan Haries untuk mengurus para pecundang itu, kamu tenang saja."


Di Australia perusahaan Wijaya group memang sangat berkembang pesat terutama perkebunan anggur terbaik, untuk memproduksi minuman beralkohol yang terkenal akan kualitasnyaa, perusahan-perusahaan yang ingin menghancurkan wijaya Group, apalagi setelah pemilik wijaya Group yakni Handoko Wijaya meninggal dalam kecelakaan kapal laut bersama istrinya, hanya Haru yang selamat saat itu. Haru di besarkan dan dididik oleh pamannya untuk menjadi Pewaris tunggal yang tak terkalahkan menggantikan ayahnya.


Karena itulah Haru begitu patuh pada pamannya. Paman Haru adalah orang tua Rere, jadi sejak kecil Haru selalu bersama Rere. Bahkan Haru pernah menjadi ketua gengster, bisa dilihat dari tato api yang ada di pundak Haru. Tapi, sekarang mereka sudah pensiun.


Tring..., sebuah pesan masuk lalu Haru membukanya.


"Tuan muda, saya telah membereskan mereka yang bermasalah di sini, tinggal menyusun strategi tentang penggebrakan pasar kita," jelas Haries melaporkan. Lalu Haru menutup ponselnya.


" Bagaimana keadaan paman di australi," tanya Haru.


" Tentu saja ayahku baik-baik saja, dia ingin bertemu denganmu, datanglah temui dia. Ayah sudah mengetahui tentang pernikahanmu dengan gadis itu, jadi dia minta kamu menemuinya atau dia yang akan kemari," Rere.


" Jika keadaan membaik, aku akan menemuinya," jawab Haru.


" Oh yah, bagaimana dengan istrimu itu, aku dengar kalian tinggal serumah? " Tanya Rere.


" Apa kamu sudah melakukannya dengan gadis itu?, cih... Dasar pedofil,"


" Aku pergi dulu, " Haru berdiri bersiap-siap pergi.


" Tunggu dulu bodoh, kenapa tidak menjawab pertanyaanku? Tidak mungkin sekali kamu tidak menyentuh gadis itukan, aku tidak percaya, hahahaha," Rere menggoda. Sedangkan Haru pergi begitu saja.


" Cih, dasar Haru dari dulu tidak berubah sangat dingin terhadap wanita, bagaimana bisa dia berfikir untuk menikahi gadis ini?" berbagai pertanyaan muncul di fikiran Rere penasaran.


" Apa aku harus mencari tahunya sendiri?" Rere dengan senyuman kecilnya.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2