GURUKU ADALAH TUAN MUDA

GURUKU ADALAH TUAN MUDA
Ancaman 2


__ADS_3

Sudah 1 minggu lamanya dan Haru pun masih belum pulang juga.


Besok para siswa siswi SMA wijaya khususnya kelas 1 dan 2 wajib mengikuti kemping, sekaligus lomba untuk merayakan hari pramuka.


*****


Sudah 1 minggu tuan Haru tidak pulang, entah apa yang dia kerjakan. Selalu saja seperti ini, ditinggal pergi,Fina dalam hati


"Apa aku coba sms dia yah, apa kira-kira jawabannya, apa dia akan membalas pesan dariku?" Fina sambil mengetuk-ngetuk dagunya tanda berfikir.


"Ah aku coba sms saja ya," tanpa fikir panjang Fina mengetik pesan.


"Tuan...."


Ah bukan gitu Fina menghapus kata tuan yang baru dia ketik.


"Tuan apa kabar?"


bukan... bukan... bukan..., Fina menghapus kembali ketikannya.


"Tuan kapan anda pulang...?"


Jangan... Jangan... Jangan..., Finaemegang kepalanya pusing apa yang harus dia ketik, tapi dia penasaran dengan keadaan Haru. Sampai akhirnya dia rebahan di atas kasur.


Sejenak hening, Fina kembali terbangun duduk dan meraih ponselnya.


" Aku coba telfon saja kali ya?" Ucap Fina.


"Tapi aku tidak bisa....,hiks"


Tidak lama telfon Fina berdering...


"Siapa yang menelponku?" Mata Fina melotot kaget kalau yang menelpon nya Haru sampai ponsel Fina mau jatuh, buru-buru dia angkat.


"Ha...halo tuan," ucap Fina.


"Bagaimana keadaanmu di sana?" kata Haru.


"Ba.., baik tuan," jawab Fina.


"Besok kamu pergi kamping, sudah siap semuanya?" tanya Haru.


"Sudah tuan, semuanya sudah saya siapkan," Fina sambil. Menggigit bibirnya gerogi.


"Baiklah kalau begitu, hati-hati," ucap Haru.


"Tu, tuan.."


"Hemm...," jawab Haru.


"Besok apakah tuan pulang?" tanya Fina.


"Belum tau, sudah aku serahkan semuanya pada Rere, kenapa?" ucap Haru.


"Ti, tidak apa-apa" Fina.

__ADS_1


"Aku tidak bisa janji besok pulang atau tidak, banyak yang harus uku uruskan disini. Jaga dirimu baik-baik, jika ada sesuatu yang tidka beres, katakan pada Rere," Ucap Haru.


"Oh.. Baiklah kalau begitu," jawab Fina.


"Hemm...," Haru menutup telponnya.


"Dia menelponku, benarkah ini, ini bukan mimpikan?" Fina sambil menepuk nepuk pipinya tanda tidak percaya. Karena selama mereka berhubungan tidak pernah Haru menelpon dan langsung berbicara dengan Fina, pernah pun waktu itu saat Fina kabur, itupun Fina matikan ponselnya.


****


Waktu kamping sudah tiba.


"Para siswa siswi SMA wijaya, diharap berbaris yang rapi karena akan di absen, jangan lupa untuk tetap berhati-hati, " wakil kepala sekolah, beserta guru wali kelas ikut serta untuk mengamati dan menjaga para mirid mereka.


"Butuh bantuan?" Heri menawarkan bantuan karena Fina kesusahan menancapkan paku tenda nya.


"Boleh, maaf merepotkan," ucap Fina dan mempersilahkan.


"Kamu masih belum baikan dengan Lyla?" tanya Heri.


"Belum, setiap aku memulai percakapan dia selalu langsung pergi," Fina mengeluh.


"Anak miskin minggir...!" ucap Tesa sambil mendorong Fina, hingga makanan yang di bawa Fina jatuh.


"Apa yang kamu lakukan..!" jawab Fina saat mau mengambil makanan.


"Oh apa ya?" dengan nada meledek. "Ups..., maaf aku tidak sengaja, tidak apa-apa kamu ambil lagi saja makanan itu, sayang sekali bukan kalau di buang-buang. Lagi pula itu sudah hal biasa untuk orang miskin memulung makanan di tempat sampah. Aku yakin itulah kerjaan ibumu, saat menghidupimu. Hahhahahhah," Ucap Tesa.


Seketika itu juga Fina langsung bangun dan marah.


"Kenapa, bukankah benar kau memang seorang yang miskin, hidup diantara kekayaan Haru tak ubahnya seperti parasit yang suka menempel, numpang hidup, menjijikan...!" ucap Tesa.


"Aku tidak pernah marah kamu menghinaku, tapi jangan pernah menghina ibuku" Fina memperingatkan. "Atau..."


"Atau apa hah?" Tesa memotong.


"Kekuatan apa yang kamu punya, kau hanya sampah masyarakat dikalangan orang-orang elit seperti kami," Ucap lagi Tesa, sambil melepaskan tangan Fina yang mencengkram bajunya tadi.


*****


"Baiklah anak-anak, karena hari sudah sore sebaiknya kita istirahat dulu, kegiatan akan dimulai pada besok pagi," pak wakil mengumumkan.


Malam pun tiba, suasana begitu indah apalagi saat Fina mendongakan kepala ke atas, banyak bintang bersinar.


"Sedang apa kamu disini, kenapa tidak pergi tidur, hari sudah semakin larut dan kamu belum masuk ke tendamu," Ucap Heri.


"Aku belum mau masuk, aku sedang menikmati pemandangan langit, indah bukan?" tanya Fina dengan muka berbinar-binar bahagia.


"Apanya yang indah, jika kamu tau bintang yang sevenarnya itu tidak seperti itu, samahalnya seperti bulan yang kamu anggap indah sebenarnya sangat jelek, bundaran yang penuh dengan bopeng," Goda Heri.


"Memangnya kamu benar-benar tidak bisa menikmati hidup gitu sekali saja, jangan menjelek-jelekan bintang dan bulan nanti mereka marah," balas Fina menggoda.


Mereka tersenyum berdua di bawah langit yang cerah. Malam itu, entah apa yang bisa menggambarkan hati Heri bisa melihat Fina seharian bahkan pada malam haripun.


" Semakin mapam suasana semakin dingin saja," Kata Fina.

__ADS_1


" Kamu tidak masuk untuk tidur Her?"


"Aku kebagian jaga bersama wakil kepala, tapi entah kemana dia masih belum keluar, dasar orang tua itu," Heri kesal.


"Kenapa kamu tidak pergi tidur saja," perintah Heri.


"Aku juga belum ngantuk," jawab Fina.


"Fin..," Heri memanggil.


"Hmm...," jawab Fina.


"Apa dia menyukaimu?" tanya Heri tiba-tiba.


"Siapa?" tanya Fina.


"Siapa lagi memang kalau bukan tuan mudamu itu" ucap Heri ketus.


"Aku..., entahlah aku sendiri tidak tau," jawab Fina.


Suasana menghening sesaat, hanya angin malam yang terasa menusuk, Fina maupun Heri tidak berbicara. Lalu Heri memulai kembali percakapan.


"Apa yang kamu harapkan darinya?" tanya Heri.


"Aku tidak tahu, aku hanya seperti orang bodoh saja hidup disekitar orang-orang kaya seperti kalian, bodohnya aku tetap bertahan," Ucap Fina sambil sedikit tersenyum menyembunyikan rasa sedihnya.


Heri ingat apa yang tadi sore terjadi antara Fina dan Tesa, dia melihat semuanya.


" Sudah sangat larut, sebaiknya aku pergi tidur, " ucap Fina.


" Iya, sebaiknya kamu istirahat, "Jawab Heri.


Fina pun pergi dan masuk ke dalam tenda.


" Keluarlah, aku tau kamu menguping," Ucap Heri. Dia tahu kalau dari tadi Tesa menguping dia dan Fina ngobrol.


" Wah ketahuan yah, kau sangat jeli ternyata," Tesa sambil mendekati Heri.


" Ternyata seleramu sama seperti Haru, rendahan."


"Jaga ucapanmu," Heri kesal.


"Kenapa, memang benar adanya, bukan?. Obat apa yang sudah si miskin berikan kepada kalian hingga kalian sebuta ini," ucap Tesa.


"Apa yang sudah dia ajarkan sehingga kalian seolah-olah tidak melihat wanita cantik seperti kami," ucap lagi Tesa.


"Ya, Fina telah memberiku obat agar tersadar bahwa orang yang memandnag mereka kaya adalah orang rendahan sesungguhnya. Dia mengajarkanku untuk tahu bahwa ornag yang mengaku dirinya cantik ternyata otaknya kosong," jawab Heri dengan senyum sinisnya.


"Apa...!" Tesa kesal.


"Dan ingat satu hal, jangan pernah mengganggunya lagi, atau kamu akan tahu akibatnya. Dan kamu tahu sebenarnya Haru orang seperti apa bukan? Aku rasa kamu masih sayang kepada nyawamu sendiri," Ucap Heri lalu pergi meninggalkan Tesa sendiri.


Tesa hanya diam mematung dan mengepalkan tangannya.


" Awas kau...!" gerutu Tesa.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2