GURUKU ADALAH TUAN MUDA

GURUKU ADALAH TUAN MUDA
Festival, ibu dan Heri 2


__ADS_3

#Guruku_adalah_tuan_muda


#Gatam


Part 21


Festival, ibu dan Heri 2


****


Kemana tuan Haru, kenapa dia belum terlihat sama sekali, Fina terus-menerus menunggu Haru.


"Hey, gadis kecil, kenapa kamu melamun terus bukannya kerja," Tanya Rere yang tiba-tiba muncul.


"Bukan apa-apa, permisi," Fina berlalu mengacuhkan Rere.


"Hmm..., anak ini benar-benar mengacuhkanku, kata Rere sambil tersenyum.


" Acaranya sungguh meriah ya Fin, lelah tapi senang sekali rasanya," kata Lyla sambil membereskan kekacauan bekas festival.


" Fin..., " Heri memanggil.


" Ada apa? Fina menghampiri Heri, lalu Heri menyuruh Fina mengikutinya. Dan sampai di belakang sekolah.


"Ada apa Her," tanya Fina heran Heri mengajaknya ke belakamg sekolah, tiba-tiba.


"Kakak...!" kedua adik Fina berlari menghampiri Fina di lanjutkan dengan ibunya.


Bukan maen kagetnya Fina melihat mereka berada disini melihat Fina.


"Ibu, Ray, Roy....," Fina menghampiri mereka lalu memeluk mereka.


Bukan main senangnya Fina melihat ibu dan kedua adiknya itu, tak terasa air mata Fina keluar begitu pula dengan ibu dan adik-adiknya.


"Ibu, bagaimana kalian bisa kesini," tanya Fina heran, karena ibunya tidak pernah tau sekolah Fina dimana.


"Suruhan nak Heri yang menjemput ibu, nak" jawab ibu Fina. "Ibu juga menginap di hotel mewah bersama adik-adikmu," ibu Fina menjelaskan sambil matanya melihat ke arah Heri sesekali.


"Benarkah itu Her?" tanya Fina tidak percaya.


"Hemm...," Jawab Heri.


Fina tidak bisa berkata apa-apa dia langsung memeluk Heri tanpa fikir panjang dan mengucapkan terima kasih banyak-banyak kepada Heri, dengan senyum bahagianya. Heripun tersenyum melihat Fina bahagia atas kedatangan ibunya itu.


"Dengan ibu Fina, perkenalkan nama saya Lyla, teman baik Fina," Lyla memperkenalkan diri sambil mengusap-usap rambut kedua adik Fina.


"Lucu sekali kedua adikmu ini Fin," kata Lyla.


"Maaf tante anda bisa ke sekolah sekarang, para murid sudah tidak ada begitu juga orang tua murid, hanya tersisa panitia saja," Jelas Heri sambil mengajak mereka untuk ke kelas.


"Wah...., kakak sekolahan kakak besar sekali," kedua adiknya takjub.

__ADS_1


"Nak, ibu senang dan bangga kamu bisa dapat beasiswa dan sekolah, di sekolahan megah ini," ibunya meneteskan air mata.


"Bu, jangan menangis, aku jadi ikut menangis," Jelas Fina.


Mereka duduk di bangku dan di sediakan cemilan-cemilan kecil untuk mereka makan, sementara Heri dan Lyla pamit pergi untuk membantu teman-teman lain memebereskan kekacuan bekas festival.


"Fina dan ibunya, berbincang-bincang dengan serius, sesekali mereka menangis, sesekali mereka tertawa," Fina sangat senang saat itu tidak bisa diucapkan dengan kata-kata.


****


Tring..., sebuah pesan dan Haru membukanya. Alangkah kagetnya yang dia lihat foto seorang wanita memeluk laki-laki. Ya, Fina memeluk Heri, Haru tidak tau sebab apa yang membuat Heri di peluk Fina.


Tring...,


"Aku tidak bisa membawa ibu Fina kesekolah, saat dijemput dia sudah tidak ada dirumahnya, lalu tiba-tiba aku melihat anak ini membawa ibu gadis itu, sepertinya kamu kalah satu langkah," jelas Rere.


"Brakk....," ponsel di banting Haru, sampai terpencar rusak. Haru benar-benar marah saat itu, tangannya dikepal karena kesal. Ingin rasanya dia kembali menemui Fina dan menonjok anak didiknya itu, tapi apa daya dia baru sampai dan juga ada hal yang ingin dia sampaikan kepada pamannya itu.


"Nomer yang anda tuju berada diluar jangkauan silahkan menyampaikan pesan setelah bunyi tut...tut...tut,"sebuah voice call dari call center.


" Cih..., anak itu pasti merusak ponselnya, "Gumam Rere.


Sementara ibunya kembali pulang, diantar oleh suruhannya Heri, beberapa kali meminta ibunya untuk menginap di kontrakannya Fina. Tapi, Fina tidak mengijinkannya karna ibunya tidak tau keadaan sebenarnya bisa-bisa ibunya syok. Lyla pun sudah pulang duluan.


"Kamu senang?" tanya Heri.


"Tentu saja, terima kasih banyak Her, aku tidak tau apa yang harus aku lakukan untuk membalas kebaikanmu," Jelas Fina dengan hati yang berbunga-bunga.


"Benarkah, kamu ingin membalas kebaikanku?" tanya Heri.


" semasa dia (ibu Fina) hidup, tidak pernah merasakan kota, dia selalu hidup dengan segala penderitaannya merawat kami. Ketika senang dia selalu berbagi dengan anak-anaknya. Tapi, ketika dia sedang sedih, sedang ada masalah, dia hanya bisa memendam nya sendiri. Aku ingat melihat ibu menangis di dalam kamar sendiri setelah anak-anaknya tidur, hanya aku yang terbangun dan melihat ibu menangis," tak terasa air mata Fina berjatuhan dan menangis dan semakin kencang tangisannya.


Heri melihatnya, lalu memeluk Fina. Entah kenapa Fina pun tidak menolak, dia hanya bisa menangis sesegukan di pelukan Heri. Dari tadi diapun tidak melihat Haru, seolah pecah semuanya campur aduk jadi satu dalam satu tangisan, Fina tidak memikirkan bahwa sekarang dia punya suami, dia hanya butuh pundak untuk mengeluarkan tangisan itu. Cukup lama Fina menangis sampai sedikit mereda.


"Ah, maaf," kata Fina.


"Kenapa harus meminta maaf," jawab Heri.


"bukan apa-apa, tapi bajumu ada ingusku," Kata Fina sambil masih sesegukan.


"zzzz," Heri tidak bisa berkata apa-apa.


"Terima kasih Her, aku beruntung punya sahabat seperti dirimu, entah aku harus berbuat apa untuk membalas semuanya," kata Fina.


"Kalau begitu, jadilah pacarku," tanpa basa-basi Heri mengatakannya lalu Sebuah ciuman mendarat di bibir Fina.


Deg..., Fina tersentak dan refleks mendorong Heri.


"Ap.. Apa yang kamu lakukan, apa yang kamu bicarakan Her," Fina menyentuh bibirnya kaget atas apa yang baru saja Heri lakukan.


"Kenapa, kamu tidak mau?" tanya Heri.

__ADS_1


"Apa kamu suda gila...! Aku sudah menikah, dan kamu tau itu," tegas Fina.


"Lalu, apa kamu mencintainya?" Heri mendekati Fina, tapi Fina mematung dengan pertanyaan yang dilontarkan Heri kepadanya.


"Oh, dramatic sekali, aku benci kisah dramatic," Rere melihatnya dari kejauhan.


"Hmm..., bagaimana jika Haru tau ya, sepertinya akan seru," Rere sambil berlalu.


*****


"Selamat datang nona," pelayan dirumah Haru menyambut.


"Selamat malam juga pak," Fina menyapa.


"Wah... Wah..., bagaimana bisa seorang murid bisa pulang selarut ini, apa saja yang kamu lakukan diluaran sana huh," tanya Rere.


Fina mengerutkan dahinya dan kaget kenapa Rere bisa disini.


"Ibu, kenapa bisa disini," tanya Fina.


"Memangnya kenapa kalau aku disini, lancang sekali kamu jam segini baru pulang, apa kamu tidak takut Haru marah?" Rere sambil berlalu meninggalkan Fina melongo.


"mohon maaf nona, beliau nona muda disini, dia adalah sepupunya tuan Haru, mereka sudah dari kecil bersama-sama sampai-sampai yang mrlihat menyangka mereka adalah sepadang kekasih,"Jelas pelayan itu.


"A... Apa pak, sepupu?" tanya Fina.


Jadi selama ini ibu Rere sepupuan dengan tuan muda.


Fina benar-benar kaget dengan yang baru saja dia dengar.


****


Buk...,Fina merebahkan diri di kasur setelah membersihkan diri.


"penat sekali Hari ini," Tiba-tiba dia ingat perkataan Heri tadi,Fina pun terus kepikiram tentang Haru.


"Nona permisi, ini. Makanannya," pelayan itu. Meletakkannya di meja.


"Ah, pak kenapa tuan Haru belum pulang juga ya," tanya Fina.


"Tuan Haru ada urusan, beliau harus pergi saat itu juga untuk mengurus tentang perusahaan" pembantu itu menjelaskan.


"Kemana?" tanya Fina.


"Ke Australi nona," jawab pelayan itu. Saya permisi nona," pembantu itu sambil berlalu.


.


****


"Kenapa tuan Haru tidak memberi tahuku kalau dia mau pergi ke Australi, apa artinya diriku bagimu sebenarnya?" Gumam Fina.

__ADS_1


Bersambung.....


.


__ADS_2