
Dihari kedua ujian ini, Fina sedikit menjadi beban. Karena Fina pintar dalam mata pelajaran hampir semuanya, hanya satu yang Fina tidak bisa yakni bahasa Inggris. Pelajaran yang begitu mudah bagi anak-anak lain tp cukup sulit untuk Fina, entah kenapa dan apa alasannya.
"Aku sedikit pusing dengan soal ini," Fina yang memangku wajahnya dengan kedua tangannya melemaskan badannya seraha membuang nafas yang sudah ia tahan sejak tadi.
"Pelajaran bahasa Inggris adalah satu-satunya pelajaran kesukaanku, selain sudah terbiasa dengan bahasa sehari-hari dirumah bersama keluarga bahsa Inggris juga mudah sekali di pahami," Lyla yang dengan antusias penuh dengan semangat menceritakan kebanggaan ya dengan bisa berbahasa Inggris.
"Aku bahkan tidak tahu, apakah jawabanku benar atau bahkan banyak yang salahnya. Aaaahhhh.... aku stres rasanya," Fina mengacak-acak rambutnya diakhiri dengan menghela nafas.
"Bahas Inggris adalah pelajaran yang basic di sekolah ini yang harus semua murid bisa dan mengerti. Jika kau sebegitu tidak sukanya dengan bahasa Inggris, bagaimana bisa kau lulus saat testing masuk ke sekolah Wijaya ini?" Tanya Heri dengan teliti.
Fina yang baru sadar dengan pertanyaan dari Heri itu terdiam sejenak dan mengerutkan dahinya seraya berfikir. Bahwa apa yang dikatakan Heri sangat masuk akal, bagaimana dia bisa lulus seleksi dengan masuk peringkat tertinggi?.
"Tentu saja itu semua karena pak Haru sadar bahwa Fina adalah wanita yang ia cari selama ini, bagaimana bisa seseorang yang sudah sekian lamanya mencari orang yang ia suka lalu secara tidak sengaja melihat kekasihnya dan di anggurin aja kan gak mungkin juga,Her" ucap Lyla menjelaskan.
"Jika memang itu alasannya berarti pak Haru sudah curang telah meloloskan orang yang belum Fasih dalam semua mata pelajaran tapi di loloskan. Malah diloloskan dengan nilai yang fantastis. " Ucapan Heri membuat Fina termenung dan menunduk, Lyla yang tahu temannya itu sedih langsung memukul lengan Hari.
"Kamu ini mulutnya jahat sekali gak kesiapa-siapa. Padahal kamu sendiri suka sama Fina kan, lalu kenapa kamu buat dia sedih, minimal dia bersemangat akan pengerjaannya tadi tentang bahasa Inggris," ucap Lyla.
"Bukan itu maksudnya, aku hanya mengatakan apa yang ingin aku katakan," jawab Haru.
"Heri memang benar, apa yang ia katakan tentang diriku maupun pak Haru. Aku sekarang baru sadar," Senyuman tulus Fina terpancar dari Fina.
"Yang penting sekarang, kamu benar-benar belajar dan berusaha dengan baik untuk memperbaiki nilaimu, Semangat...!" Lyla mengepalkan kedua tangannya seraya mengankatnya.
"Iya semangat," jawab Fina.
Waktu istirahat pun selesai kini Fina dan murid-murid lain tinggal mengerjakan soal terakhir mereka lalu pulang. Merekapun dengan tertib pergi ke kelas masing-masing.
*****
"Nanti malam aku akan berangkat ke Australia," ucap Rere kepada Haru. Mendengar itu Haru tidak bergeming, hanya terdiam menatap kaca transparan yang menyuguhkan keindahan taman buatan yang menjadi salah satu fasilitas
yang dimiliki SMA Wijaya ini.
"Kenapa kamu tidak berkata apa-apa, setidaknya kau mengatakan selamat tinggal kepadaku karena akan ditinggalkan sepupu tersayangmu ini," Kata Rere.
__ADS_1
"Aku juga akan kesana sehari setelah kau pulang," ucap Haru yang masih menikmati pemandangan di depan matanya itu lewat balik kaca.
"Huh, Kenapa?" tanya Rere heran.
"Ada yang ingin aku bereskan disana," Haru berbalik dan duduk di sofa yang tersedia di sisi dekat pintu masuk.
"Jangan-jangan kau...? " ucap Rere.
"Hari mengatakan semua laporan sudah rampung bukti tertulis serta bukti fisik sudah tersedia, karena itu aku rasa aku harus memberikannya segera," Haru seraya mengepalkan tangannya. Rere yang melihat kepalan tangan Haru dan tatapannya seketika membuat bulu kuduknya merinding.
"Lalu bagaimana dengan istrimu Fina, bukankah kau bilang akan membawanya ke Australia. Sedangkan sekarang dia sedang fokus melaksanakan Ujian kenaikan kelas," jelas Rere.
"Aku sendiri yang akan pergi, Fina dirumah saja. Akan sedikit berbahaya disana jika dia ikut," ucap Haru.
Rere sedikit lama berdiri sambil menatap tajam sepupunya itu, dari depan sofa yang Haru duduki. Ada perasaan takut di hati Rere mendengar penjelasan dari Haru, Rere takut akan terjadi pertengkaran hebat di keluarganya yang melibatkan banyak pihak khusus nya pengkhianat.
"Jantung ayah sudah lemah, dan aku tidak bisa melarang apa yang sudah kamu rencanakan. Tapi, tolong bicaralah baik-baik dengan ayah walau bagaimanapun dia telah mengurusmu dan mendidik ku sampai seperti ini. Ayah menyayangimu melebihi sayangnya terhadap abak-anaknya. Dia berambisius mengalahkan semua penisnis-pebisnis yang telah sukses sekarang dengan cara mengkhianati paman atau almarhum ayahmu." Rere menundukan kepalanya.
"Aku tahu kalau aku keras dan juga tidak. bisa diatur, tapi paman adalah paman. Dia adalah guru sekaligus pengganti ayahku" Percakapan mereka usai dengan suara lonceng yang berbunyi menandakan bahwa ujian sudah selesai dan sudah waktunya pulang.
"Semua akan aku urus dan membereskannya," Harupun pergi dan meninggalkan Rere sendiri diruannya.
*****
Mobil terparkir di depan rumah Haru. Har, membukakan pintu mobil dan mempersilahkan tuan dan nona nya untuk turun. Seperti biasa di balik pintu masuk ada ketua pengurus rumah tangga yang sudah berdiri menunggu kami dan melaporkan hidangan makan malamnya sudah siap. Kamipun kembali ke kamar dan bersiap membersihkan diri sebelum turun untuk makan. malam. Fina dan Haru telah sampai di Kamar mereka, lalu Haru membuka dasi serta kemejanya sehingga terlihat dada bidangnya lalu duduk di sofa. Haru mengambil remote TV dan menyalakan Tv. Fina mengambil remote AC dan menyalakannya. Fina melihat suaminya itu terlihat sangat lelah, beda dari. biasanya.
"Aku pergi mandi dulu," ucap Fina.
"Hmm...," jawab Haru datar.
Ingin sekali rasanya Fina menanyakan apa yang sedang terjadi sehingga suaminya itu terlihat sangat kelelahan, apakah semalam dia begadang lagi fikirnya Karena selama ini Fina tahu kalau suaminya itu keluar tengah malam saat Fina sudah tertidur dan menuju ruang kerjanya. Tapi sebuah pertanyaan yangengganjal dihati Fina dia tepis kan lalu pergi menuju kamar mandi. Selesai Fina mandi, kini Haru yang melangkah pergi untuk membersihkan diri.
*****
Hening bak di kuburan mungkin itu yang bisa digambarkan saat ini oleh Fina, biasanya saat makan mereka sedikit mengobrol. Ada perasaan tidak nyaman yang Fina rasakan, kursi terasa panas, pantatpun terasa nyeri padahal duduk di kursi yang empuk. Lapar tidak lapar yang dirasakan Fina kini, jika tidak dimakan tentu Haru suaminya akan marah, dimakan pun terasa susah untuk masuk ke tenggorokan.
__ADS_1
"Sudah selesai makannya? " ucap Haru yang tengah berdiri.
"Sudah," Fina pun berdiri dan mengikuti suaminya kembali ke kamar.
Dikamar Haru mengatakan kepada Fina bahwa dia akan pergi ke Australia untuk beberapa hari.
"Apakah ada urusan?" Fina pun membenarkan duduknya di atas kasur.
"Hmm..., " ucap Haru
"Baiklah," jawab Fina walau berat hati ditinggal suaminya itu padahal. hanya beberapa hari.
"Bagaimana ujian bahasa inggrisnya?" tanya Haru tiba-tiba.
"Eh..., itu anu sedikit sulit aku tidak tahu benar atau tidaknya cara penulisannya," Jawab Fina bingung.
"Hmm, begitu" ucap Haru yang membenahi duduknya juga.
"Apa urusanmu begitu penting sampai harus menginap beberapa hari?" Fina yang dari ingin bertanya akhirnya memberanikan diri.
"Ada urusan yang tidak bisa aku ceritakan kepadamu, dan juga keadaan paman sedang tidak begitu baik. Jadi aku butuh beberapa hari tinggal disana"
"Paman sakit...?" kepanikan terpancar diwajah Fina dan Haru melihatnya.
"Tidak terlalu parah, hanya saja ada urusan sekaligus jenguk paman, besok Kamu diantar sopir lainnya yah, Haripun akan aku ajak, " tanya Haru.
"Ah iya tidak apa-apa" senyuman yang Fina keluarkan terlihat dibuat-buat. Fina memposisikan dirinya terlentang dan membalikan badannya ke arah yang berlawanan dari suaminya.
"Kamu sudah ingin tidur?" ucap Haru.
"Iya, aku ngantuk sekali, karena telah berfikir keras hari ini" jawab Fina. Dan Harupun merapikan diri memposisikan nya untuk tidur.
Fina tidak tahu apa yang terjadi dengan suaminya, malam ini terlihat sangat dingin. Fina berusaha mencerna sikap suaminya itu, tapi tidak menemukan jawaban. Biasanya jika tidur Haru suaminya akan memeluk erat tubuhnya dan tertidur bersama. Ada pertanyaan yang terbesit difikirannya, tentu saja soal Tesa. Tapi buru-buru ia tepis kan. Malam ini dilihatnya suaminya begitu dingin bak saat pertama dia bertemu dulu. Fina berusaha menutup matanya dan tidur.
Bersambung.......
__ADS_1