
"lonceng berbunyi, ayo masuk kelas," ucap Heri.
"Aku tidak mau ke kelas," jawab Fina.
Bagaimana bisa aku menghadapi dua keadaan sekaligus, wanita itu dan sekarang di tambah Lyla yang marah padaku, ucap Fina dalam hati.
Akhirnya Fina pun menurut kepada Heri dan mengikuti Heri berjalan menuju kelas.
Dilihat anak baru itu sedang memamerkan yang dia punya dan berbincang dengan anak dikelas. Lalu Fina melihat Lyla yang duduk mengarahkan mukanya ke jendela tidak mau melihat Fina.
"Lyla...," belom selesai Fina ngomong Lyla langsung membalas dengan kata sinisnya.
"Berhentilah bicara denganku, sekarang aku bahkan tidak mau melihat wajahmu," begitulah balasan Lyla.
*****
Jam sekolah sudah usai, seperti biasa Fina harus mengantarkan semua buku paket ke kantor masin-masing guru.
Srett...., mata Fina langsung tertuju pada 2 manusia didepannya. Tesa sedang memeluk Haru, dan Fina melihatnya, bukan hanya itu Haru hanya diam saja.
"Ah maafkan saya, saya hanya ingin mengantarkan buku ini ke meja," Fina sambil meletakan buku diatas meja.
"Mengganggu saja..!" Tesa mengerutu.
Fina berlalu pergi, tapi langkahnya terhenti saat tangannya di genggam Rere.
"Kenapa kamu pergi gadis kecil, katakanlah kepada anak. tidak tahu diri ini," ucap Rere. Fina berusaha melepaskan tangan Rere tapi tidak bisa.
"Katakanlah bahwa kamu adalah istri sah nya Haru," Ucapan Rere membuat semua kaget tak terkecuali Tesa lebih kaget mendengarnya.
"Apa yang baru saja kamu bicarakan, kamu pasti bercanda, iyakan Haru," tanya Tesa tidak percaya.
__ADS_1
"Ya dia istriku, istri sah ku," jawab Haru.
Berasa di sambar petir Tesa tercengang kaget, atas apa yang baru saja dia dengar langsung dari Haru.
"hah..., hahhahahahah..., kalian benar-benar lucu, lawakan apa yang sedang kalian mainkan sungguh tidak lucu," Tesa sambil melihat ke wajah Haru, tapi Haru tidak bereaksi menandakan bahwa apa yang di katakan Rere itu benar adanya.
"Kalian, apa-apaan kalian ini, kalian fikir aku akan mundur semudah itu hah?, maaf aku harus bisa mendapatkan apa yang aku inginkan," Tegas Tesa.
"Coba saja kalau berani," jawab Rere, membuat Tesa tersentak.
Rere memanglah tidak menyukai Tesa dari dulu, dia merasa Tesa tidak pantas bersama Haru dan hanya memanfaatkan situasi lewat perjanjian perusahaan Haru dan ayah Tesa.
Tesa pergi dengan muka masamnya meninggalkan mereka diikuti dengan Rere juga meninggalkan mereka berdua.
"Ka.., kalau begitu saya pulang dulu..," Fina memulai percakapan.
"Tunggu di parkiran," Perintah Haru.
"tapi sepedanya,"
Fina menunggu di parkiran sampai Haru datang.
"Masuklah," Haru menyuruh Fina duduk di depan karena dia sudah tidak memakai supir.
"Baik," Fina naik.
Tidak ada sepatah katapun yang keluar dari mereka berdua hanya hening dan diiringi suara mesin mobil.
Cukup lama mereka tidak berbicara sampai Haru memutuskan memulai pembicaraan.
"Kamu lapar?" tanya Haru.
__ADS_1
"Saya tidak lapar tuan," Fina menjawab sambil menahan tangis nya, dan haru melihat itu.
"Kita cari restoran, aku tidak melihatmu makan tadi," jawab Haru sambil membelokan mobilnya ke arah berlainan.
Mobil terpakir di hotel Haru, lalu mereka masuk. Haru tidak mau membawanya ke restoran karna Fina tidak berhenti mengeluarkan air matanya. Dia benar-benar tidak tahu harus berbuat apa.
Makanan telah tersedia di kamar hotel, di meja makan.
"Makanlah, kamu pasti lapar," perintah Haru.
Bukannya makan Fina malah sibuk mengelap air mata dimukanya yang tidak mau berhenti keluar.
"Ma.., maafkan saya, saya tidak tau kenapa air mata ini keluar terus, saya tidak lapar sungguh, saya hanya ingin istirahat rasanya lelah sekali hanya itu, sungguh," dengan tetap menahan tangis Fina berkata, tapi apa boleh buat bagaimanapun dia berusaha menahan tangisnya, air matanya jatuh tanpa bisa ditahan.
Haru melihat hal itu sungguh merasa sakit lalu memeluk Fina.
" menangislah jika memang itu membuatmu lebih baik," Ucap Haru.
Bukan malah membuat Fina berhenti, tangisannya semakin menjadi jadi, kali ini tangisan Fina diiringi dengan suara segukan.
"Maafkan aku tuan, tapi aku tidak bisa menahannya sungguh. Rasanya dada ini sakit sekali, dan sesak," Fina sambil menepuk-nepuk dadanya.
Haru hanya bisa terdiam dan membiarkan Fina menangis. Hingga Fina tertidur pulas di pelukan Haru dan membaringkannya.
" Maafkan aku," ucap Haru.
" Maaf sudah membuatmu seperti ini," ucap Haru memperjelas di iringi dengan kecupan hangat di kening Fina, Haru terus membelai wajah Fina yang terlelap dan menyelimutinya.
"Segera bereskan semuanya atau akan ku bunuh kau...!" Ucap Haru dalam telfonnya.
"Besok aku tidak masuk," Ucap lagi Haru lewat telfon kali ini kepada Rere.
__ADS_1
Lalu Haru membaringkan tubuhnya disamping Fina dan memeluk Fina dengan erat.
Bersambung.....