GURUKU ADALAH TUAN MUDA

GURUKU ADALAH TUAN MUDA
Meninggalkan Haru


__ADS_3

Matahari sudah mulai menampakan wajahnya, pagi ini Haru bangun agak kesiangan. Tentu saja, karena kemarin mereka pulang sangat larut.


"Ah, dia sudah lebih dulu kesekolah rupanya, rajin sekali" gumam Haru.


Lalu Haru pergi bersiap membersihkan diri, sesampainya di kamar mandi saat dia mau menggosok gigi. Satu sikat gigi hilang entah kemana, itu milik Fina. Jaru mencari-cari sikat gigi milik Fina.


"Ah sial...!" Haru buru-buru keluar dari kamar mandi dan menyingkatpan selimut tidak menemukan apa-apa, lalu bantalpun dia lemparkan ke lantai. Alangkah kagetnya Haru menlihat amplop warna coklat dan secarik kertas.


Dibukanya kertas itu dan di baca Haru.


" Sampai hari ini, masih teringat sekali permohonan kakakku untuk mau dinikahi olehmu. Aku menangis tersedu-sedu karena tidak mau, aku datang ke kota hanya untuk menuntut ilmu. Aku merasa Tuhan tidak adil atas hidupku. Bahkan kakakku tega menyodorkan adiknya hanya untuk pelunasan hutangnya. Pertama kali aku dipersunting oleh pewaris tunggal wijaya group yang tampan dan sombong, bagai sebuah malapetaka bagiku bisa mengenal pria arogan sepertimu. Lambat laun batu dalam hati ini melembut, karenamu aku bisa merasakan diriku terlindungi, karenamu aku tidak merasakan takut, karenamu aku tahu bagaimama rasanya mempunyai sahabat seperti Lyla dan Heri. Tapi, sungguh aku tidak bisa melanjutkan semua ini. Aku ingin bisa terbang seperti yang lain, maafkan aku selama ini yang selalu merepotkanmu. Terima kasih untuk semuanya,


cinta yang pernah terukir ini tidak akan pernah aku lupakan.


Fina....


Bgitulah kira-kira isi suratnya, Fina pun sudah tidak ada dikamar, meninggalkan Haru sendiri dalam sepi. Haru hanya bisa meremas kertas itu dengan sekuat tenaga. Padahal dia tahu kalau itu semua kertas rapuh.


Cukup lama Haru terdiam merasakan heningnya kamar. Tidak ada yang tahu atas kejadian ini, Fina pergi meninggalkannya dengan memakai pakaian sekolah agar tidak dicurigai para pelayan termasuk Har sekertaris kepercayaannya. Tak terasa air mata mengalir dari pelipis mata Haru, membasahi pipi putih mulusnya. Ada perasaan ingin marah, tapi terhalang oleh keadaanya. Fina wanita yang ia cintai, bahkan belum sempat ia bahagiakan telah pergi meninggalkan Haru sendiri. Tentu Haru berfikir pasti ada alasannya Fina yang begitu takut melakukan tindakan gegbaha karena sering diancam Haru, sampai berani pergi meninggalkannya. Haru menahan kekesalan dengan mengepalkan tangan kuatnya itu, lalu mengambil ponsel dan menelpon seseorang.


*****

__ADS_1


Tok...tok...tok..., "Kak, buka"


Setelah terderngar suara kunci membuka pintu, pintu pun di bukanya. Ada raut wajah kaget yang terpancar di wajah kakak Fina Herman.


"Fina..., kenapa bisa kesini sepagi ini. Kamu tidak sekolah?" tanya kakaknya heran.


"Aku kabur dari rumah" jawab fina melengos masuk ke dalam kontrakan kakaknya. Dilihat isi rumah kakaknya sangat berantakan penuh dengan botol alkohol dan juga sampah makanan berserakan, tak ubahnya seperti gudang sampah. Fina memilih-milih temoat yang akan dia duduki dampai menemuka satu kursi di pojokan lalu duduk.


"Rumah mana?" tanya kak Herman serius.


"Tentu rumah Haru,"


"Apa kamu melakukan kesalahan sampai kamu nekad kabur seperti ini?" tanya lagi kah Herman sambil duudk di bawah dekat tempat duduk Fina.


Sebuah toyoran kuat di kepala Fina meluncur sampai Fina sendiri hampir tersungkur.


"Apa maksud kamu?" jawab kak Herman masih bingung.


"Aku pergi sari rumah itu, karena tidak ingin membuat Haru susah lagi," jawab Fina berusaha menahan air matanya.


"Memangnya apa yang membuat tuan Haru susah?"

__ADS_1


Belum di jawab Fina, dia melengos berdiri meninggalkan kakaknya menuju satu kamar dan dibukanya pintu, banyak sekali sampah makanan dikamar iru. Membuat Fina semakin emosi.


"Memangnya apa saja yang kamu kerjakan selama ini selain judi...! Setidaknya kamu harus tahu tentang membereskan rumah, bukan?" Jelas Fina sambil memindah-mindahkan sampah dimamar itu ke dalam plastik dan menyodorkannya ke tangan kakaknya dan membanting pintu kamar lalu menguncinya.


" Hey...Ini kamar kakak, jangan pake kamar kakak. Kamu bisa memakai kamar satu lagi di dekat dapur," tidak ada sama sekali jawaban dari adiknya lalu Herman kakaknya pergi membuang sampah plastik tadi.


Beberapa kali ponsel Fina berdering, dilihatnya nama Lyla di layar ponselnya. Pasti menanyakan perihal Fina tidak masuk sekolah. Fina membiarkannya dan tidak mengangkat, ada butiran air mata yang jatuh membasahi pipi Fina. Ia menangis tersedu-sedu di atas kasur yang ia duduki. Fina tidak percaya dengan apa yang baru saja dia lakukan, meninggalkan Haru sendiri tanpa memberitahu alasan kepergiannya.


Dua hari sudah sejak kepergian Fina dari rumah Haru, sekalipun Haru tidak pernah menelpon atau mengirim pesan, sekedar untuk menanyakan kabar. Fina pun selama itu tidak pernah memasuki area sekolah. Biarlah ujian tetap ujian, aku lebih baik pergi dari tempat itu dan meninggalkan semua kenangan. Kakaknya pun sudah tidak ingin menanyakan lagi perihal kekaburannya dari rumah Haru. Saat ini Fina hanya Fokus untuk mencari kerja sampingan. Walau bagaimanapun keadaanya, ibunya tidak boleh tahu dan kekurangan uang untuk biaya adik-adiknya di sekolah. Dilihatnya kartu ATM yang Haru berikan dulu di dompetnya. Fina pergi ke atm terdekat dan memutuskan mengambil uang.


"Aku butuh uang untuk biaya hidupku sehari-hari selama belum mendapatkan kerja," gumam Fina dalam hati.


Dia pergi ke pasar dan membeli kebutuhan untuk dimasaknya kontrakan. Setelah selesai Fina berbelanja, ia melihat satu sosok berdiri di depan mobil, Har.


Ah...pak Har, mau apa dia kesini. Apa dia mau menemuiku, atau ada pekerjaan lain? Gumam Fina dalam hati sambil melangkah ragu ke depan, Fina memutuskan menyapa pak Har.


"pak Har," segera Har bukakan pintu mobil dan dilihatnya sosok yang tidak ingin dia lihat di dalam mobil. Haru berada di sana duduk dan melihat ke arah Fina. Fina hanya diam tertegun ke arah Haru, dilihatnya pria yang selama dua hari ini yang ingin dia temui, tapi tidak bisa.


"Masuklah," perintah Haru. Har dengan cekatan mengambil semua belanjaan yang Fina beli di pasar tadi. Lalu dengan ragu Fina masuk ke dalam mobil, dan kini duduk bersebelahan dengan Haru.


Ditutupnya pintu mobil lalu pak Har melajukan mobil ke arah jalan raya. Sepanjang perjalanan hanya hening tercipta, Fina yang gugup menggenggam tangannya dengan erat. Tak sepatah katapun terlontar dari mulut Haru. Sementara mobil terus melaju entah kemana, sesekali Fina melirik ke arah Haru lalu buru-buru memalingkan matanya ke arah jalanan. Dilihatnya mobil melaju ke jalan yang tidak Fina kenal sebelumnya, memisahkan diri dari jalan raya. Seperti masuk ke area pegunungan atau puncak.

__ADS_1


"Kita mau kemana?" tanya Fina. Tapi tak ada satupun jawaban dari Haru maupun pak Har. Selama 2,5 jam perjalanan tidak ada satu patah katapun keluar dari mulut Haru ataupun Har. Tak lama terpakir mobil di depan gerbang sebuah rumah. Har turun lalu menggeserkan pintu gerbang agar terbuka celah untuk mobil masuk. Lalu mobilpun dimasukkan dan terparkir di depan rumah itu. Pintu mobil terbuka, Har mempersilahkan Fina dan Haru keluar.


Bersambung....


__ADS_2