
Di bukanya pintu kamar, hening dan kosong.
"Ternyata dia lebih memilih pergi ," gumam Haru di kamar yang kini sepi.
Diambilnya kertas putih semalam yang berada di lantai, dibaca nya kembali dan dilihatnya ada tanda tangan Fina disana. Tangan Haru sedikit bergetar, dia terdiam lama menatap kertas yang sudah ditanda tangani oleh Fina. Diremas remasnya lertas putih itu dan di bantingkannya ke lantai.
"Tuan muda, sarapan anda sudah siap. Silahkan," kepala pelayan mempersilahkan Haru untuk menuju meja makannya. Diliriknya oleh kepala pelayan kamar itu.
"Kenapa diam disitu, cepat kebawah dan pergi dari sana." Suara Haru memecah lamunan kepala pelayan tadi, segera kepala payan mengikuti tuannya dari belakang.
"Tuan, nona muda...?" pelayan itu tidak meneruskan pertanyaannya karena dia tahu, suasana hati tuan mudanya sedang tidak baik. Langkah kaki Haru terhenti seraya berkata.
" Dia sudah bukan istriku lagi," ucap Haru menegaskan.
Mata kepala pelayan sedikit melotot, tapi tak berani menatap ke arah tuan nya. Dia masih dengan posisinya menundukkan kepalanya. Haru berjalan kembali menuju meja makannya untuk sarapan.
" Panggil Har, " Perintah Haru dan langsung kepala pelayan memanggil kan Har untuk menemui tuannya.
"Tuan," ucap Har.
"Urus semuanya," tanpa bertanya Har meng iyakan perintah tuannya itu.
"Aku akan membawa mobilku sendiri," kata Haru setelah selesai sarapan lalu pergi berangkat mengendarai mobil.
Saat Har ingin bergegas pergi, kepala pelayan sedikit menyenggol tangan Har, dan ia pun seketika berhenti membalikkan tubuhnya.
__ADS_1
"Ada apa?" tanya Har.
"Mohon maaf,tuan. Apakah benar bahwa Tuan muda dan Nona sudah...," kepala pelayan tiaak sanggup meneruskan kalimatnya. Tapi, Har mengerti dengan apa yang ia katakan lalu berkata kepada kepala pelayan.
"Apapun yang diputuskan dan dikatakan tuan muda, tidak pernah bercanda. Kau tau itu bukan?" tegas Har kepada kepala pelayan. Seketika raut wajah kepala pelayan tidak bisa disembunyikan. Bagaimana tidak, Fina adalah satu-satunya orang yang ramah dan menghormati orang tua serta profesi pelayan yang ada disana. Bahkan tak jarang Fina diam-diam memberikan hadiah-hadiah kecil untuk para pekerja dirumah itu.
***
Suara lonceng sekolah sudah berbunyi tanda semua murid yang berada diluar harus segera mengikuti jam pelajaran.
" Kemana anak itu," ucap Rian tiba-tiba.
Heri yang sedari tadi juga menunggu kedatangan Fina disekolah merasa heran. Dia bahkan sudah mencoba chat Fina, tapi tidak ada balasan bahkan ponsel Fina mati saat Heri coba menelponnya.
"Aku rasa Fina bersama pak Haru,karena jam pertamaku harusnya pak Haru yang mengajar, tapi dia tidak ada," ucap Lyla dari pesan yang ia kirim kepada Heri baru saja.
"Hey, ketua osis. Kamu tahu dimana perempuan itu?" tanya Rian.
Heri tak mengindahkan pertanyaan dari Rian, membuat Rian sedikit kesal terlihat dari wajah yang masam lalu memalingkannya.
***
"Aku bahkan tidak tahu harus kemana, kalau pergi ke tempat ibu, selain jaraknya jauh juga ibu pasti akan menanyaiku kenapa tidak dengan Haru," Gumam Fina yang kini sedang mengisi kontrakan barunya.
" Kalau begitu pergilah, kau bahkan berani berbohong kepadaku, saat itu ingin sekali aku memukul anak itu." Tiba-tiba teringat kembali kata-kata yang Haru lontarkan saat malam.
__ADS_1
"Aku sudah bukan istri Haru lagi, pria yang selama ini selalu berada disampingku, berkorban untukku." Tak terasa air mata jatuh mengalir diantara pipi Fina yang halus.
"Kenapa dada ini sesak sekali, kenapa terasa sakit hu...hu...hu...," Tangis Fina pecah dikeheningan pagi saat kontrakan itu sudah ditinggal oleh para penghuni nya.
"Sreet..," Pintu ruang guru terbuka. Haru yang baru saja tiba disekolah melirik ke arah pintu itu, Heri berdiri disana tak didampingi oleh Lyla bahkan Rian.
"Kenapa hari ini Fina tidak masuk," sambil melihat sekeliling ruang kantor Haru dan melangkah masuk mendekati meja Haru. Haru tidak menjawab dan tetap fokus dengan map yang sedang ia buka lembar per lembar nya. Heri yang sedikit kesal menanyakan hal yang sama kepada Haru dan mendekat ke sisi Haru, lalu Haru berdiri.
"Pergilah, aku sedang tidak ingin bicara dengan siapapun." Perintah Haru agar Heri pergi meninggalkannya.
"Aku hanya bertanya mengenai Fina, apakah dia sakit, atau ada urusan, sehingga tidak masuk sekolah?"
Tangan Haru meraih kerah baju Heri dan mendorongnya ka dinding dengan rasa kesalnya.
"Kau, kalau saja waktu itu aku tidak memikirkan perasaan istriku. Akan kubunuh kau saat itu juga, berani sekali kau mencium istriku dihadapanku. Bbuk...!" sebuah tonjokkan Haru menumbangkan anak didiknya itu.
Heri mendengar itu langsung tersungkur ke lantai dan terdiam dengan apa yang baru saja dia dengar dari Haru. Haru mengangkat anak itu dengan menarik bahunya. Dilihatnya Heri terdiam dan membalaa tatapan benci pada Haru.
"Kau bahkan tidak mampu memukulku saat kejadian itu, aku tahu kau sedang memperhatikan kami dari bawah. Aku bahkan mencium Fina karena tidak ingin dia melihatmu ada disana, dia sudah cukup sakit dengan tekanan dari pamanmu itu. Kau yang tahu bahkan hanya bisa diam dengan kedatangan pamanmu menemui Fina," jelas Heri.
Ternyata saat itu Heri yang cemas akan Fina karena lama ke toilet, diam-diam mencarinya sampai dia menemukan Haru yang sedang berdiri mendengarkan orang berbicara yang ternyata paman Haru dan Fina. Haru yang mendengar pernyataan Heri terdiam, tidak menyangka ternyata Heri juga tahu mengenai ini.
"Cuih...!, jangan pernah berfikir untuk bisa kembali dengan Fina. Karena mulai saat ini akulah yang akan selalu menjaganya," ucap Heri sambil berlalu pergi meninggalkan Haru yang masih terdiam.
Bersambung...
__ADS_1