
Besok adalah hari dimana masa depan Fina ditentukan, besok adalah dimulainya ujian atau ulangan semester akhir yang menentukan naik tidaknya murid kelas ke kelas lebih tinggi. Fina yang sedang mengerjakan tugas dari Haru selalu serius dengan latihan soalnya.
"Aku harus bisa, ini adalah kali terakhir aku latihan harus ada kemajuan dan harus bisa memperbaiki nilai ku yang sebelumnya, " gumam Fina dalam hati seraya mengepalkan tangan yang berisi bolpoin.
"Sekarang apalagi yang sedang ia fikirkan," Gumam Haru yang sedang duduk di sofa nya diiringi dengan senyum tipis di bibirnya menambah tampan diwajahnya.
Fina yang tetap fokus dengan kerjaannya tidak dasar bahwa suaminya dari tadi memandangi nya. Dengan hanya berbalut selimut Fina mengerjakan latihan soal diatas kasur. Jangan tanya kenapa ia hanya berbalut selimut.
"Besok ujian pertama dimulai, apa kamus udah siap?" tanya Haru tiba-tiba.
"Tentu saja harus siap," jawab Fina. Telfon Haru bergetar dilihatnya nama Tesa di layar ponselnya, Haru mematikan ponselnya kemudian fokus kembali kepada Fina.
"Yakin sekali," ucap Haru seraya memalingkan wajahnya melihat ke arah TV.
"Tentu saja harus yakin, karena selain kita bisa mengisi soal latihan yang kamu berikan, sudah dipastikan 89% soal ini akan keluar di buku soal.
" Benarkah, semoga saja ya," ucap Haru.
"Jadi itu cuman soal karangan saja ya, bukan kisi-kisinya?" tanya Fina dengan tampang polosnya.
. "Hemm," Haru seraya meminum segelas air putih dari meja.
"Ah...bagaimana ini, bagaimana jika soalnya tidak ada satupun yang muncul. Ah bagaimana ini?" gumam Fina dalam hati dengan panik sehingga raut wajah Fina menggambarkan jelas bahwa ia sedang depresi atas pernyataan suaminya itu sehingga Haru pun bisa membaca ekspresi istrinya itu.
"Sebagian soal akan ada di ujian besok, memangnya kau fikir aku ini bodoh apa. Jika aku bodoh bagaimana mungkin aku bisa menjadi guru sekaligus pewaris tunggal dari ayahku dan bisa mengelola puluhan perusahaan," dengan pedenya Haru menjelaskan.
"Sombongnya suamiku ini, iya iya aku percaya," ucap Fina seraya raut wajahnya berubah seketika menjadi bahagia.
"Kamu ini, gampang sekali ditebak," ucap Haru.
"Huh... maksudnya bagaimana?" tanya Fina.
"Jika orang salah yang kamu kenal, bisa-bisa kamu habis dimanfaatkan. Entah bagaimana nasibmu jika tidak bertemu denganku," Haru berdiri lalu menghampiri tempat istrinya duduk.
"Jika aku tidak bertemu denganmu, mungkin sampai sekarang pun aku akan tetap fokus dengan visi misi ku dan fokus mengejar cita-citaku untuk menjadi wanita karir," jawab Fina.
"Maksudmu, denganku kamu tidak bahagia begitu?" ucap Haru dengan wajah cemberut.
"Bu...bukam itu maksudku," Fina menundukkan kepala tanda menyesal dengan ucapannya tadi.
"Aku tahu, jadi jangan coba macam-macam denganku apalagi sampai bermain di belakangku," ucap Haru sambil membelai rambut istrinya itu.
Ponsel yang di genggam Haru berdering dan Fina melihat nama Tesa di layar ponsel suaminya itu. Haru menolak panggilan dari Tesa dan mematikan ponselnya.
"Kemarin, kamu pergi untuk menemui Tesa?" tanya tiba-tiba Fina ke Haru.
" Ya,"
"Apa yang Tesa mau?" tanya Fina sembari meremas bukunya sampai terlipat lipat, Haru melihatnya.
"Ini bukan urusanmu, sudah malam tidurlah besok kamu ujian harus berangkat pagi-pagi kesekolah," Haru seraya mencium kening Fina. Lalu Haru mengambil remot dan mematikan lampu dikamar lalu membaringkan tubuhnya. Fina yang masih diam duduk itu, kembali meremas bukunya.
__ADS_1
"Jangan merusak buku tidurlah, besok kamu ujian harus istirahat," Suasana hening tidak ada jawaban dari istrinya Fina terdiam mematung lalu Haru melanjutkan perkataannya.
"Apapun itu, percayalah aku tidak akan meninggalkan mu dan aku menemuinya untuk kebaikan kita, tidurlah," tangan Haru menggenggam tangan istrinya dan menariknya untuk tidur. Fina meletakan buku di samping meja tempat tidurnya dan membaringkan tubuhnya di dekapan Haru.
"Aku takut kehilangan lagi Haru, aku tidak ingin terjadi untuk yang kedua kalinya berpisah dari Haru," ucap Fina.
"Ehem..., apa kamu sedang menggombal, dasar nakal," ucap Haru.
"Tentu saja, aku tidak akan meninggalkanmu lagi, karena itu aku membawamu kembali kerumah ini," ucap Haru. Fina tersipu malu dan membenamkan wajahnya di dada Haru.
*****
Jarum jam sudah menunjukkan pukul 07.25, 5 menit lagi semua murid di kelas mulai mengerjakan soal ujian sesuai waktu yang ditentukan.
" Rasanya deg-degan, Fin bagaimana ini?" ucap Lyla.
"Sama akupun berdebar rasanya," balas Fina.
"Semangat, kau pasti bisa," ucap Lyla.
"Iya."
Seorang pengawas masuk dan mulai membagikan kertas ujiannya. Lembar per lembar kertas itu di bagikan ke setiap murid yang terdapat di kelas. Ada perasaan berdebar di ruangan itu, terlihat tampak hening ruangan itu tapi perasaan tegang pada wajah setiap murid terpancar. Tentu saja karena hari ini adalah hari di tentukan nya nasib mereka apakah akan menetap di kelas atau naik kelas. Karena di sekolah terkenal elit ini tidak pernah pilih kasih da tidak menerima suap menyuap, ketika beberapa murid tidak mampu dan nilai di bawah rata-rata jangan harap bisa naik kelas. Disogok berapapun tidak akan diterima, begitulah aturan yang di terapkan di sekolah hasil kerja keras ayahnya Haru. Kejujuran, disiplin, berkopenten dan mampu bersaing dengan yang lain, itulah yang akan di ambil dan memiliki kesempatan untuk bekerja di salah satu perusahaan Wijaya group. Jadi tidak heran kalau lulusan dari SMA Wijaya tidak banyak karena hanya org yang berpotensi dan cerdas serta jujur yang dicari untuk bergabung dengan salah satu perusahaan Wijaya group.
"Baiklah anak-anak sebelum dimulai harap membaca doa dulu sesuai kepercayaan masing-masing. Setelah selesai silahkan kerjakan waktu kalian hanya 45 menit, kerjakan dengan baik dan hati-hati" ucap pengawas menjelaskan, murid di kelas hanya mengangguk tanda mengiyakan.
"Aku harus bisa, baiklah aku akan mulai mengerjakan" ucap Fina dalam hati.
"Aku tahu kamu pasti bisa," Lalu Haru berlalu meninggalkan istrinya mengerjakan soal ujian dan kembali ke kantornya.
*****
Jam istirahat sudah tiba dan para murid semua keluar menyegarkan fikiran mereka, tak terkecuali Fina dan teman-temannya.
"Ah segar sekali rasanya bisa menghirup udara luar," ucap Fina lalu duduk. Heri yang melihat Fina seperti itu hanya tersenyum.
"Bagaimana bisa kamu setenang itu, aku saja sampai sekarang jantungku berdebar, " kata Lyla yang juga ikut duduk di sebelah Fina.
"Orang bodoh memang seperti itu, terlalu banyak khawatir, " ucap Heri pada Lyla.
"Memangnya kenapa kalau aku masih seperti itu, namanya ujian semua orang juga pasti merasakan berdebar-debar, " gerutu Lyla jengkel. Heri tidak menghiraukan nya dan lanjut meminum minuman yang ia beli tadi di kantin.
"Eh fin, kalau kamu naik kelas nanti apa yang akan pak Haru berikan untukmu?" tanya Lyla.
"Aku tidak tahu, lagipula dengan aku lulus saja rasanya pasti bahagia sekali," jawab Fina.
"Hmm..., memangnya gk ada niatan pak Haru untuk ngajak kamu Honyemoon, kan setelah ujian ini akan ada libur selama 1 minggu," uca0 Lyla.
Fina dan Heri mendengar ucapan Lyla serentak tiba-tiba tersedak bersamaan, kebetulan mereka sedang meminum minuman mereka sambil mendengarkan Lyla bicara.
"Apa kau sudah gila, memang kau fikir Fina wanita murahan apa, " jawab Heri sedikit kesal.
__ADS_1
"Memang kamu lupa kau Fina dan pak Haru sudah menikah?" balas Lyla kesal. Heri yang baru sadar kalau Fina sudah menjadi istri Haru hanya mendehem dan memalingkan muka ke arah sembarang dan menegak minuman kaleng nya itu. Jam istirahat sudah selesai dan para murid pun kembali ke kelas mereka masing-masing dengan tertib untuk mengerjakan soal ujian berikutnya.
*****
"Bagaimana dengan ujiannya?" tanya Haru.
"Sedikit susah, tapi untungnya kisi-kisinya yang diberikan saat kita latihan ada disana," jawab Fina dengan senangnya.
"Benarkah, bagus kalau begitu," ucap Haru.
Mereka sedang mengobrol dengan asyik,Haru yang mendengarkan istrinya menceritakan kejadian di sekolahnya tersenyum melihat wajah istrinya yang serius dengan diiringi tawa dari istrinya.
"Besok kamu ujian Bahasa Inggris apa kamu sudah siap, karena..." ucapan Haru terpotong oleh Fina.
"Karena aku tidak mahir dalam pelajaran bahasa kan. Memang benar tapi aku akan berusaha. Bagaimanapun juga aku ingin lulus" jawab Fina.
"Wah, wah ternyata istriku punya semangat yang membara yah," ucap Haru sembari tangannya mengelus rambut Fina.
"Seandainya aku naik kelas apa yang akan di berikan seorang suami kepada istrinya?" ucap Fina.
"Huh, kenapa?" Haru memastikan apa yang baru ia dengar.
"Aku tidak mau mengulanginya lagi," gerutu Fina kesal.
"Memangnya apa yang kamu mau dariku?" tanya Haru dengan tawa kecilnya membuat Fina istrinya tersipu malu.
"Aku tidak akan bertanya kalau begitu," ucap manja Fina pada Haru. Mereka sejenak terdiam hanya suasana hening dan belaian lembut di rambut istrinya sambil sesekali mencium kening istrinya.
"Aku tidak tahu apa yang kamu mau dan apa yang harus aku berikan, yang jelas sekarang dan nanti perasaanku sama saja terhadap istriku ini. Perasaan yang hanya ingin selalu didekatmu setiap waktu, bahkan aku rela menaruhkan nyawaku untukmu,apa yang kamu mau katakanlah. " ucap Haru yang seketika ia menutup mulutnya seolah tidak percaya dengan apa yang baru saja ia katakan. Karena selama ini dia hanya bersikap seadanya terhadap istrinya itu, jarang sekali mengeluarkan kata-kata yang manis seperti ini, bahkan kebanyakan menjailinya.
Fina terdiam mendengar perkataan dari suaminya itu, ada buliran air mata yang mau keluar yang ia tahan. Fina sedikit menundukkan kepalanya, lalu kembali menegakkannya dan melihat ke arah suaminya itu secara tiba-tiba membuat Haru sedikit kaget.
"Ada apa, kenapa tiba-tiba kamu melihatku seperti itu?" tanya Haru yang kaget.
"Aku..., tidak akan memintamu apapun karena dengan rasa cinta yang aku dapat darimu itu sudah cukup membuatku bahagia. Tapi, bolehkah aku memintamu 2 hal?" ucap Fina dengan mata yang ia kedip kan beberapa kali bakal anak kecil yang sedang merayu orang tuanya karena ingin jajan es krim.
"Heh..., ada apa dengan matamu itu, katakanlah" ucap Haru. Wajah Harun yang sudah memerah dari tadi berusaha ia palingkan dari hadapan istrinya itu, tapi Fina sepertinya menikmatinya.
"Pertama, aku ingin sekali saat nanti jika aku lulus kamu bisa mengajakku ke vila itu, vila tempat ayah dan ibumu berjuang dari awal, dan kedua, aku ingin mulai nanti panggilan kita dirubah," ucap Fina malu-malu.
"Maksud kamu?" tanya Haru.
"Aku ingin panggilan kita dirubah, jangan memanggil satu sama lain dengan sebutan kamu dan aku. Tapi, panggilannya jadi sayang, " Suara Fina yang merendah karena malu lagi-lagi memalingkan muka dari Haru.
"A...apa, sa...sayang? apa kamu bercanda?" ucap Haru.
"Aku serius, orang lain kalau sudah menikah mereka memanggil satu sama lain sayang, atau suamiku, bahkan saat mereka sudah punya anak, panggilan mereka menjadi ayah nama atau bahkan papa mama" ucapan Fina membuat muka Haru memerah.
"Akan aku coba sekarang tidur lah, " ucap Haru. Fina pun tidur sambil memeluk Haru.
"Sayang? bagaimana bisa aku mengucapkannya," gumam Haru dalam hati.
__ADS_1
Bersambung.....