GURUKU ADALAH TUAN MUDA

GURUKU ADALAH TUAN MUDA
Dirumah Lyla


__ADS_3

Tak banyak kata yang terucap dari bibir Fina, fikiran dan hatinya bercampur aduk saat ini. Entah sikap apa yang harus Fina tunjukkan kepada Haru, ingin menjerit tapi tak bisa. Fina hanya fokus melihat ke arah luar kaca mobil berusaha menahan air mata yang memaksa ingin keluar dari pelupuk matanya.


sekertaris Har yang sedari tadi melirik ke arah Fina, tahu apa yang sebenarnya terjadi tadi. Hanya sekertaris Har tidak ingin mengatakannya kepada tuannya. "Biarlah nona Fina sendiri yang mengatakannya, tuan Haru sudah cukup banyak beban yang harus ia selesaikan di 3 bulan ini" gumam Har dalam hati, lalu ia kembali fokus mengemudikan mobil.


Sedangkan, Haru yang sedari tadi sibuk akan laptopnya baru tersadar akan Fina yang dari tadi tidak menanyainya.


"Sayang, kamu lapar?" tanya Haru memulai percakapan.


"Tidak"


"Tapi aku lapar, sepertinya kita perlu mampir ke restoran" ucap Haru dan dibalas oleh Har dengan mengangguk.


"Bagaimana dengan ulangan tadi?" tanya Haru.


"Ya, aku bisa mengerjakannya" jawab Fina.


"Bisakah kau melihat ke arah sini, kenapa melihat keluar terus,"tanya Haru heran.


" Aku ada perlu dengan Lyla, bolehkan aku menginap dirumahnya?" ucap Fina dan menatap wajah Haru.


"Tidak boleh...! " balas Haru.


"Kenapa...?"


"Kenapa mendadak sekali, tidak boleh ya tidak boleh" jawab Haru yang nadanya meninggi. Suasana hening sesaat, dilihatnya air mata Fina berjatuhan. Fina terisak tangis seperti anak kecil yang di bentak orang tuanya.


"Kau ini kenapa, kenapa menangis" ucap Haru yang kebingungan melihat istrinya menangis. "Ada apa sebenarnya?" tanya Haru lagi.


"Aku hanya ingin sekali saja menginap dirumah temanku Lyla dan dia bukan cowok, kenapa tidak boleh, huhuhu...!" Ucap Fina sambil tersedu sedu.


"Aku hanya ingin merasakan menginap dirumah teman lagi, kenapa kau bilang tidak boleh dan membentak ku, huhuhu" ucap lagi Fina.


"A, aku tidak membentakmu, sayang. Bukankah biasanya aku seperti ini, dan kau tidak pernah menangis seperti ini" ucap Haru sambil mengusap rambut Fina dan memeluk istri tercintanya itu dengan perasaan bingung.


"Ba, baiklah kalau kamu mau menginap dirumah Lyla. Biar aku yang mengantarkanmu nanti. Tapi, temani aku makan dulu pulang dulu ganti baju baru kerumah Lyla, yah?" ajak Haru. Lalu Fina mengangguk tanpa megeluarkan sepatah katapun.


"Kalau begitu, jangan menangis lagi. Aku bingung melihatmu menangis seperti ini. Sudah yah istriku tersayang" Bukannya malah mereda, tangis Fina malah menjadi saat mendengar ucapan tersayang dari mulut suaminya itu.


Haru yang kebingungan tidak banyak bicara, dia hanya bisa memeluk istrinya itu.

__ADS_1


****


Selesai mandi ganti baju, Fina menuju kerumah Lyla yang sudah di beri tahu tentang kebohongannya kepada Haru suaminya.


Diperjalanan, Fina menangis sejadi-jadinya di dalam mobil. Har tidak bertanya sedikitpun tentang tangisan Fina. Hanya saja, dia sesekali melirik kepada nona muda nya itu.


"Tuan muda saja bingung melihat istrinya menangis, apalagi aku sendiri" gumam sekertaris Har dalam hatinya. Kemudian teringan akan kisahnya dengan Rere dulu saat menangis dan tiba-tiba memeluk Har di dalam apartemen Har dan terjadi sesuatu yang disebut dengan nikmatnya surga dunia, hehehe.


Sesampainya di depan gerbang rumah Lyla, Fina turun dan Lyla sudah berada di depan gerbang rumahnya menyambut kedatangan Fina. Setelah dirasa aman nonanya masuk ke dalam, Har pergi kembali kepada tuannya.


****


"Ah, Heri...! kenapa kau ada disini?" tanya Fina.


"Aku sendiri tidak tahu kenapa. berada disini. Lyla bilang ada sesuatu hal yang berbahaya menimpamu" ucap Heri. Fina yang diberi tahu Heri langsung melirik ka arah Lyla.


"Kalau tidak bilang begitu, mana mau dia datang kemari, eh tapi matamu merah dan sembab apa kamu sudah menangis? tuh kan benar apa ayng aku bilang ada sesuatu yang menimpa Fina". Ucap Lyla yang merasa ada benarnya berbohong..


" Tidak ada, aku hanya merengek ingin menginap dirumah mu, hehheh" sanggah Fina berusaha menyembunyikan.


"Ya sudah ayo ke kamarku, orang tuaku sedang tidak ada dirumah mereka pergi honeymoon kedua. Memang merepotkan sekali orang tuaku ini" Merekapun pergi kekamar Lyla yang besar bak kamar seorang putri raja.


"Iya, aku bosan dengan kamarku yang dulu. Jadi, aku minta kedua orang tuaku menyuruh orang untuk merenovasi nya" kata Lyla.


"Bisanya hanya merengek kepada orang tua," ucap Heri yang segera duduk di sofa dekat jendela balkon nya.


"Sirik aja, ya sudah kalian berdua tunggu aku dulu. Aku mau mandi belum mandi sepulang sekolah tadi, hehhehe" Lyla pun pergi mandi. Tak lama 2 pelayana Lyla masuk dan menghidangkan makan malam mereka dan cemilan lainnya.


Fina membuka pintu kaca balkon dan berdiri menyilangkan kedua tangannya di pagar balkon kamar Lyla. Menatap langit dan lingkungan sekitar, sambil sesekali menghela nafas berusaha menguatkan diri akan kejadian hari ini.


"Ada sesuatu yang kau sembunyikan, katakanlah" ucap Heri yang tiba-tiba sudah berdiri disamping Lyla.


"Eh, tidak ada apa-apa" jawab Lyla singkat dengan tanpa menatap wajah Heri.


"Jangan samakan aku dengan si Haru, yang tidak bisa peka terhadap istrinya sendiri" kata Heri.


Mendengar ucapan Heri, air mata kembali terjatuh membasahi pipinya yang mulus. Melihat hal itu Heri memeluk Fina dan menenangkannya.


"Menangislah dipelukanku sepuasnya jika dirasa dihadapaannya kau tidak harus memperlihatkan tangisanmu itu" ucap Heri.

__ADS_1


"Lepaskan aku, Her. Aku tidak mau kalau suamiku salah paham nantinya dan Lyla marah" kata Fina sambil berusaha melepaskan diri dari pelukan Heri.


Fina berusaha melepaskan diri, tapi pelukan Heri semakin erat.


"Her, lepaskan sakit," ucap Fina yang berusaha melepaskan diri lalu menatap Heri melas. Kemudian sebuah ciuman lembut mendarat di bibir tipis Fina. Heri menahan punggung Fina yang berusaha menjauh dan lepas dari ciuman Heri. Kali ini Heri sedikit agresif mencium bibir Fina. Dia mengulum dan memasukkan lidah nya ke dalam mulut Fina. Fina yang sadar langsung menggigit lidah Heri.


"Aw...! " ucap Heri yang kesakitan lidahnya digigit oleh Fina.


"Apa yang kamu lakukan, apa kamu sudah gila...! " amarah Fina tidak terbendung atas perlakuan Heri terhadapnya.


"Tamparlah jika kau mau. Setidaknya aku inginku sudah terlaksana kan," Fina yang mendengar ucapan Heri tercengang kaget atas apa yang temannya katakan.


Plak...! sebuah tamparan keras mendarat di pipi putih Heri. Lyla menampar Heri dengan keras kemudian menghampiri Fina dan memegang tubuh temannya itu. Entah sejak kapan lyla sudah berada di kamarnya dan melihat pemandangan itu.


"Dasar bajingan, apa kau sudah gila...!" ucap Lyla. "Bagaimana kalau tuan Haru tahu apa yang kau lakukan terhadap istrinya, bodoh...!"


"Ya aku sudah gila, memangnya kenapa kalau si Haru tahu tentang ini. Apa dia akan membunuhmu, cih..., matipun aku tidak takut" ucap Heri.


"Kau, sebaiknya kau pergi dari sini" ucap Lyla. Sesaat Heri terdiam menatap wajah Fina yang ketakukan.


"Maaf," begitulah kata-kata yang keluar dari mulut Heri sebelum ia pergi dari kamar Lyla.


"Fin, kau tidak apa-apa kan. Maaf kan aku, seharusnya aku tidak ajak Heri kesini" ucap Lyla.


"Tidak apa-apa Lyla, aku justru meminta maaf atas apa yang terjadi. Sungguh aku tidak bermaksud seperti ini, sungguh. Maafkan aku Lyl" ucap Fina meminta maaf karena dia tahu bahwa Lyla temannya sudah lama menyukai Heri.


"Aku tahu kau meminta maaf karena tahu aku menyukai Heri. Ya, aku memang menyimpan rasa kepada Heri sudah lama sekali. Tapi, tidak dengannya, dia masih tetap memilih menyimpan wajahmu dihatinya. Jadi, jangan khawatir, lagipula aku sudah ada pengganti Heri" kata Lyla sembari menghapus air mata Fina yang terus-terusan keluar.


"Be, benarkah" tanya Fina yang tidak percaya.


"Iya, sekarang kamu jangan menangis cerita ada apa sebenarnya kamu dengan tuan Haru. Soal kejadian tadi kita labrak saja besok si Heri tak tahu diri itu" tangan Lyla mengepal dan meninju-ninju ke arah berlainan.


"Lyl..."


"Ya... "


"Janji yah, jangan pernah katakan kejadian ini kepada Haru. Aku takut dia..." Fina meremas remas kedua tangannya karena gugup.


" Seorang teman tidak akan mungkin mencelakai teman terbaiknya" Senyum Lyla membuat hati Fina sedikit lega. Fina mulai menceritakan semuanya kepada Lyla dan Lyla menjadi pendengar yang baik. Sesekali ia memasang wajah kaget dan terheran-heran akan kisah Fina, apalagi saat dia mendengar kejadian tadi siang saat dia ditemui oleh pamannya Haru.

__ADS_1


Bersambung.....


__ADS_2