GURUKU ADALAH TUAN MUDA

GURUKU ADALAH TUAN MUDA
Haru tak datang, paman Haru marah


__ADS_3

Malampun datang....


“Apa Haru sudah pulang?” Tanya paman.


“Sepertinya belum, tentu saja dia tidak akan datang apa ayah bercanda” Sindir Rere.


“Panggilkan aku sekertaris Har,” Perintah paman.


“Baik tuan besar, “ Salah satu pelayan pergi setelah menundukkan kepalanya dan mencari Har.


“Ayah, apa ayah serius dengan semua ini, bagaimana bisa ayah melakukan hal seperti ini kepada Haru?” Ucap Rere.


“Diam...,! Jangan ikut campur urusanku. Lagipula Haru tidak akan mungkin membangkang perintahku. Sekeras kepala apapun anak itu, tetap saja pada akhirnya tidak akan bisa membantah ku, “ ucap paman Haru. Rere hanya bisa terdiam dengan perasaan kecewa karena ulah ayahnya, baginya melawan bahkan hanya membantah saja adalah sesuatu hal yang mustahil baginya.


Semua sudah di persiapkan para pelayan, penataan ruangan, penataan meja makan, makanan apa yang akan dihidangkan dengan nuansa berkelas dan romantis seperti restoran-restoran mahal. Di setiap tempat duduk, di siapkan satu pelayan untuk nantinya melayani para tamu dan tuan rumah. Jam sudah menunjukkan pukul 19.30 terisa setengah jam lagi semuanya akan segera dimulai. Di acara makan malam nanti Hanya terdapat keluarga Tesa,yakni ayah Tesa dan juga ibunya lalu keluarga tuan rumah yang mengundang. Keluarga Tesa sudah datang sementara Haru masih belum kelihatan batang hidungnya.


“Dimana tuanmu itu,” tanya paman Haru.


“Saya kurang tahu tuan besar, “ ucap Har.


“Jangan bohong...! periksa ponselnya” perintah paman Haru kepada satu bodyguard nya.


“Baik, tuan besar” lalu bodyguard itu memeriksa ponsel Har. Tidak ditemukan tanda-tanda Haru menelpon atau bahkan memberikan informasi kepada Har.


“Tidak ada tuan, “ ucap bodyguard nya.


“Anak sialan, berani sekali kau membantah ku. Baiklah, kelemahanmu hanya perempuan miskin itu kan, akan kusingkirkan dia,” gumam paman Haru. Kemudian Har pamit pergi dari ruangan panas itu setelah menundukkan dan mohon ijin keluar, lalu dibalik pintu Har berbicara.


“Tuan...,” ucap Har.


“Ya aku mendengarnya,” terdengar ucapan Haru dari jauh lewat micro headset. Headset kecil yang di tempelkan di belakang telinga selain berfungsi untuk saling menghubungi jarak jauh, juga berfungsi sebagai penangkap suara.


“Bagaimana dengan nona muda, tuan?” ucap Har.


“Aku sudah memerintahkan yang lainnya untuk mengamankan Fina, aku tidak akan bisa menghubungi istriku dulu, karena itu aku mematikan ponsel untuk sementara waktu.


“Baik, tuan” Har pun pergi.


“Temui aku besok di xxx” ucap Haru.


“Sepertinya akan ada yang mengikuti, tuan” balas Har kepada tuannya itu.


“Aku tahu, biarkan saja aku hanya ingin mendinginkan kepala dulu. Karena itu sekarang aku berada disini.” Jelas Haru.


“Baik, tuan” lalu Har mematikan micro headset nya.


***********

__ADS_1


Haru sedang asyik melamun sambil memandang foto-foto istrinya itu,setelah usai berbicara dengan sekertarisnya. Haru sedang berada di sebuah penginapan, kali ini dia bukan berada di hotel mewah milik Wijaya group, tapi di sebuah penginapan kecil yang sederhana. Dia menyenderkan tubuhnya di atas kasur melihat ke langit-langit dan sesekali menghela nafas panjang.


Tok...tok...tok, Sebuah pintu diketuk.


“Permisi...”


Haru terbangun dari lamunannya dan pergi untuk menanyakan siapa yang datang. Memang ditempat penginapan sederhana ini semua masih menggunakan perlatan manual, jauh dari kata modern atau canggih.


“Siapa?” tanya Haru.


“Saya dari go food tuan, pesanan anda sudah datang” ucapnya.


“Baiklah, simpan di balik pintu nanti aku ambil sendiri” perintah Haru. Lalu kurir itu meletakkan pesanan Haru dan pergi setelah mohon pamit. Har pun mengambil pesanannya lalu membuka makanannya dengan menu steak dan makanan lain lalu melahap nya.


*********


Suasana rumah semakin mencekam karena paman Haru sedang sangat marah saat ini. Sampai tibanya waktu Haru tidak kunjung datang, wanita yang ingin dia ancam yang akan menjadi salah satu gertakan mulus untuk membuat Haru tunduk pun sudah tidak ada dirumah Haru.


Kring...kring..., suara telpon berdering lalu diangkat oleh salah satu pelayanan dan menyerahkannya kepada paman Haru.


“Ya, kenapa?” ucap paman Haru.


“....... “


Entah siapa dan apa yang sedang paman Haru bicarakan, paman Haru langsung berdiri dan mematikan ponselnya lalu memerintahkan para bodyguard menuju sebuah tempat.


“Baik, tuan besar”ucap salah satu pemimpin bodyguard disana lalu memerintahkan 2 orang untuk mempersiapkan diri.


Mobil melaju dengan cepat lalu berhenti di sebuah penginapan. Setelah mereka bertanya dan meminta kunci cadangan dengan paksa mereka pergi menuju salah satu nomer kama. Sesaat setelah tiba mereka di depan pintu, mereka membuka pintu kamar dengan nomer 203. Tak didapatinya seseorang disana, kemudian mereka menelpon pemimpin mereka.


“Disini tidak ada tuan muda tuan, mohon maaf” ucap salah satu orang yang berada di kamar penginapan itu.


“..... “


“Baik, tuan saya akan kembali” lalu orang itu menutup telfonnya dan menyuruh kawannya juga pergi.


Sementara di kamar 205 Haru keluar sesaat setelah para orang suruhan pamannya itu pergi.


“Huff...., untung saja. Terima kasih tuan, mohon maaf saya mengganggu anda untuk masuk keruangan anda sebentar” ucap Haru meminta maaf pada salah satu penghuni kamar 205 itu.


“Apa mereka polisi, atau kamu penjahat?” Tanya penghuni kamar sebelah.


“Bukan, itu orang suruhan pamanku, “ lalu Haru pergi dan kembali kamarnya.


Ternyata sesaat setelah Haru menyembunyikan mobilnya dari parkiran, Haru melihat ada 2 orang laki-laki yang ia kenali kalau mereka adalah suruhan pamannya. Bergegas Haru naik ke kamarnya lalu membereskan dan mengambil pakaiannya. Sempat Haru bingung harus kemana, beruntung ada 1 orang yang habis belanja membuka kamar 205 lalu Haru meminta izin untuk numpang sebentar disana sampai orang suruhan pamannya itu pergi.


Haru kembali ke kamarnya dan memakan makanan yang ia pesan tadi dari go food. Sembari duduk di atas kursi klasik yang tersedia di sisi tempat tidurnya.

__ADS_1


*******


"Apa kalian tidak becus mengurus 1 orang saja...! dasar bodoh," teriak paman Haru kepada pelayannya.


Mereka terdiam dan menundukkan kepala mereka. Hanya diwakilkan oleh ketua dari mereka.


"Maaf tuan besar, kami akan berusaha mencari dan melacak kembali keberadaan tuan muda" ucap pemimpin mereka.


"Dasar tidak becus kalian semua...!" ucap paman Haru lalu menyuruh mereka semua meninggalkan ruangan kerja nya.


Sementara di taman, Har sedang duduk di teras yang di sediakan. Lalu Rere menghampiri Har.


"Apa kau sudah makan? " tanya Rere. Har melirik kan matanya ke arah suara tadi.


"Kenapa anda belum tidur, sudah larut malam" tanya Har.


"Terserah aku mau tidur kapan kan?" jawab Rere.


"Baik, nona" ucap Har.


"Apa kau yang memberitahu Haru untuk pergi dari ruangannya sehingga tidak bisa ditangkap oleh orang suruhan ayah?" tanya Rere.


"Apa maksud nona?" tanya Har yang tidak tahu.


"Heh..., jadi kau tidak tahu kalau tuanmu tadi hampir ditangkap. oleh orang suruhan ayah?" tanya lagi Rere. Dilihatnya wajah Har yang tidak mengetahui tentang kejadian tadi, lalu Rere melanjutkan bicaranya


"Ayahku marah atas tidak datangnya Haru di pertemuan makan malam tadi, sepertinya masalah ini kau sudah tahu. Lalu ayah menyuruh mereka untuk mencari tahu keberadaan Haru, kemudian salah satu diantara mereka melacak dan menemukan keberadaan Haru di sebuah penginapan. Tapi saat mereka sampai dan membuka pintu kamar Haru, dikamar itu kosong tidak ada satupun orang. Sepertinya Haru sudah pergi meninggalkan tempat itu sebelum suruhan ayah sampai, kukira kau yang memberitahunya ternyata sama sekali tidak tahu," kata Rere menjelaskan.


Terlihat sekali wajah Har yang panik. Tapi tidak bisa berbuat apa-apa karena Rere masih didepannya.


"Aku bisa melihat rasa panik tergambar diwajahmu itu. Har bukanlah laki-laki yang bodoh dan sembrono, dia tidak seperti istrinya yang polos dan juga menyebalkan" ucap Rere. Dilihatnya wajah Har tidak setegang dan sehawatir tadi, Rere pun tersenyum.


"Sebaiknya nona cepat kembali ke ruang nona, jika ada yang mengetahui nona disini lalu ada yang melaporkannya ke tuan besar nona yang akan kesulitan nantinya" ucap Har.


"Jadi tidak mungkin yah, sampai kapanpun kita tidak akan mungkin bisa," ucap Rere dengan senyum sedikit tergambar di wajahnya dan tersirat rasa kecewa.


Dilihatnya Har yang masih memandang lurus kedepan, tak sekalipun pandangannya gentar berganti ke arah Rere.


"Nona, saya mohon kembalilah dan usahakan untuk tidur. Tidak akan baik bagi anda jam segini masih terbangun, anda harus menjaga kesehatan" Kata Har dengan pandangan yang masih ke depan.


"Aku akan pergi jika pandangan mu itu kau alihkan kepadaku dan menjawab pertanyaanku tadi. Apakah kau sudah makan?" kata Rere dengan sedikit harapan. Sempat hening tercipta diantara mereka dan tak lama Har pun berganti posisienghadap no nanya, Rere.


"Saya akan makan nanti, nona. Sekarang anda bisa istirahat" lalu Har menundukkan kepalanya.


"Kau tahu rasanya, sesakit apa diri ini ketika orang yang ia suka begitu dingin dan tidak pernah mengindahkan perhatiannya? selamat malam," Lalu Rere pergi berlalu meninggalkan Har sendiri ditaman tadi.


"Apa kau tahu, seberat dan sesakit apa ketika dirinya tahu bahwa orang yang ia suka adalah orang yang tidak pernah mungkin bisa terjangkau karena perbedaan kasta?" ucap Har sesaat setelah Rere pergi. Lalu Har memandang ke arah langit dan menghela nafasnya. Tak lama Har teringat akan tuannya lalu bergegas menelpon tuannya untuk menanyakan kabar tuannya itu.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2