
2 Hari sudah Fina terbaring tak berdaya di rumah sakit pasca orperasi. Selama itu juga Haru tidak beranjak dari tempat duduknya untuk menemani Fina. Kini Fina mulai tersadar, dokter mengatakan, butuh 3 bulan untuk bener-bener pulih.
Anak yang terlibat tentang perencanaan menyakiti Fina, sudah Haru keluarkan secara sepihak. Dan di urusi oleh pihak yang berwajib.
Saat ini Fina dibantu kursi roda dan tongkat untuk berjalan.
Tok...tok...tok...
"Masuklah...," Haru mempersilahkan.
Lyla dan Heri datang menjenguk Fina.
"Lyla, Heri...," Fina begitu kaget melihat Lyla juga ikut menjenguk.
"Fin, a...aku datang kesini karena... Ingin baikkan denganmu... Maafkan aku karena tidak yakin dengan mu...," Lyla menghentikan pembicaraannya lalu melirik ke arah Haru dan Heri.
"Tidak apa-apa..., justru aku yang seharusnya minta maaf karena dari awal tidak memberi tahumu tentang pernikahanku dengan tuan Haru," ucap Fina.
Haru kaget mendengar itu dia tidak tahu kalau Lyla juga mengetahuinya.
"Apa..., jadi kalian sudah tau?" tanya Haru dengan heran. "Hey gadis bodoh, kenapa kamu tidak bisa mengunci mulutmu," Haru sambil meremas-remas rambut Fina.
"Ma...maafkan saya tuan, saya tidak tahu kalau Fina mendengar pembicaraan saya dengan Heri di aula," ucap Fina menjelaskan.
"Memangnya apa yang kalian lakukan di aula berdua, huh.." Muka Haru dengab curiga.
"Aku kira kalian pacaran dengan Heri sembunyi-sembunyi, aku maklum karena si bodoh Heri ini memang orangnya pemalu. Eh,, tahunya dengan pak Haru," kata Lyla sambil menyikut Heri.
"Siapa yang pacaran dengan siapa huh?"ucap Haru.
Lyla pun menghanpiri Fina dan mereka saling berpelukan, lalu Heri nemberikan bunga dan buah tangan untuk Fina.
" Kenapa kamu membawa bunga segala bocah ingusan," tanya Haru kesal.
" Aku bukan homo yang memberikan bunga kepada laki-laki, " jawab Heri.
"Cih..., Memangnya siapa yang mau kau beri bunga," kata Haru kesal.
Tak lama dokterpun datang, dan memeriksa keadaan Fina. Menyuruh Fina rawat inap sampai 1 bulan paling tidak sampai bekas luka operasinya sembuh. Tapi Fina tidak mau, dia lebih baik pulang. Awalnya Haru tidak mengijinkan, tapi sesuai saran Rere Fina dirumah lebih aman dan ada para pelayan yang akan membantu merawat Fina, masalah dokter pun bisa dipanggil khusus kerumah.
Setelah selesai mereka ngobrol, kadang diselingi bercanda dan godaan Lyla ke Fina mengenai Haru, mereka ijin pamit.
"Fin..., apa kamu pernah berciuman dengan pak Haru," Lyla berbisik. Sontak membuat Fina kaget dan menepuk tangan Lyla.
"Apa yang kamu bicarakan," wajah Fina memerah sambil melirik ke arah Haru. Haru dan Heri yang melihat Fina bertingkah seperti itu merasa aneh dan membiarkan para wanita dengan dunia mereka. Sementara Heri dan Haru tetap dengan pertengkaran kecil mereka.
"Aku tidak akan membiarkanmu menyakiti Fina lagi, jika tahu biarkan aku yang menjaganya," begitulah ucapan Heri kepada Haru dengan nada mengancam.
Membuat Haru geli sendiri.
"Kamu fikir aku akan membiarkan dia jatuh ke tanganmu, jangan bermimpi bocah tengik," jawab Haru membuat Heri tidak berkutik.
"Tentu saja dia harus bisa menangis untuk latihan saatnya nanti," Bisik Haru menggoda.
"Cih..., memang kamu fikir aku hanya sebatas melihatnya?" ucap Heri membalas.
"A..apa maksudmu dengan tidak hanya melihat nya, apa yang sudah kamu lakukan kepadanya?" tanya Haru. Di balas dengan senyuman sinis Heri dan mereka berdua pamit pergi.
__ADS_1
Haru mendekati Fina dan melihat apa saja yang di bawa Heri dan Lyla tadi. Dia tertuju pada bunga yang di bawa Heri bunga mawar lalu memegangnya sambil memutar-mutarnya.
" Cih..., apa-apaan dia segala memberi ini pada Fina. Memang dia Fikir dia itu siapa, dasar bocah ingusan," sambil membuang bunga itu ke tong sampah.
"Ah tuan kenapa di buang, itu pemberian dari Heri kan," tanya Fina.
"Bunga jelek itu menghalangi pemandangan saja, kamu tidka lihat, bunganya sudah mau layu. Dia memang tidak pandai memilih, selera yang buruk," ucap Haru sebal.
"Tapinaku menyukai bunga itu,..." Fina memasang muka sediah.
"Itu bunga tidak baik untuk kesehatanmu, kalau kamu su... Suka, nanti akan aku belikan yang ba....banyak," Haru menghibur.
"Benarkah?" tanya Fina dengan mata yang berbinar - binar.
Apa itu, kenapa dia memasang muka seperti itu, kenaoa dengan matanya seoerti kucing saja gemes. Ucap Haru dalam hati
"U... Uhuk... Uhuk...," Haru pura-pura batuk.
"Hmm... Baiklah istirahat kembali, aku akan pergi sebentar," ucap Haru sambil pergi setelah menguyel-uyel rambut Fina.
"Bagaimana, sudah kalian temukan?"..
"Hmm... Baiklah," jawab Haru di telpon.
"Bagaimana Fina," tanya kakaknya yang baru saja datang.
"Kamu bisa masuk dna melihatnya," Lalu Haru membiarkan kakaknya masuk dan ngobrol dengan Fina.
Ibu Fina tidak tahu kalau Fina celaka, dia minta kakaknya untuk tidak memberi tahu ibunya itu.
*****
"Apa terasa sakit?" tanya Haru.
"Hmm sekarang sedikit mendingan," jawab Fina.
"Siapkan air untuk mandi, siapkan juga semua perban dan kebutuhan untuk mengganri perbannya," ucap Haru.
Haru keluar sebentar dan ngobrol dengan Har sekertarisnya. Entah apa yang mereka bicarakan.
"Baik tuan...," Har mengangguk.
"Baiklah semua sudah siap?" kata Haru yang baru kembali lagi.
"Kalian boleh pergi," ucap Haru di barengi para pelayan pergi.
Dan Haru memangku Fina ke kamar mandi.
"Eh..., tuan kenapa para pelayan disuruh pergi, bukankah aku akan mandi?" tanya Fina dengan polosnya.
"Aku yang akan melakukannya," ucap Haru datar.
"Ehh...tu...tunggu dulu tuan, mana bisa anda memandikan saya," kata Fina.
"Memangnya kenapa, kamu sedang terluka kan, biar aku yang membantu sebagai penebus kesalahanku membiarkanmu terluka seperti ini," kata Haru sambil membuka kancing baju Fina satu persatu.
"Ti...tidak perlu merasa bersalah tuan, itu hanya kecelakaan saja," Fina dengan wajah gugupnya menahan Haru membuka kancing bajunya.
__ADS_1
"Bi...biarkan saya sendiri yang melakukannya" ucap Fina.
"Memangnya kamu bisa, untuk sekedar ngambil minuman saja tidak bisa," ucap Haru yang masih berisi keras menepiskan tangan Fina yang menghalanginya membuka kancing.
"Lepaskan...," Kata Haru.
"Tidak mau," jawab Fina.
Tangan mereka saling berusaha satu sama lain. Yang satu berusaha mempertahankan, yang satu lagi berusaha membuka kancing baju, hingga akhirnya Haru berdiri, membuat Fina menghela nafas tanda lega. Tapi...
Byur.....! Haru menyiram Fina dengan shower, membuat seluruh tubuh Fina basah.
"Ah.., tuan...! Ucap Fina Kaget.
" Sekarang sudah basah, ayo mandi" ucap Haru tanpa merasa bersalah sambil menggendong Fina ke bed tube, perlahan Fina di taroh dan kaki Fina yang terlukan di angkat ke atas pinggiran bed tube.
Perlahan Haru membuka kancing Fina yang tersisa tadi.
"Tuan...," ucap Fina.
"Panggil aku Haru," ucap Haru.
"Bagaimana bisa ak..." kalimat Fina terhenti dengan ciuman hangat dari Haru. Bibir mereka saling bersentuhan.
"Katakan," ucap Haru sambil terus menciumi Fina, kali ini ke leher Fina.
"Tuan...,"
"Katkan Haaru..." ucap Haru yang tidak peduli melihat Fina menahan nafas.
"Ha...ru,"ucap Fina terbata bata.
" Tidak dengar, "Kata Haru yang terus fokus dengan mainan barunya.
" Haru..., "ucap Fina.
" Lebih keras... " Haru menggoda.
" Haru...! Sudah Haru, saya katakan Haru, " kata Fina sambil menahan Haru yang sedang asyik dengan dunianya.
" Hmm..., bagus. Sekarang kita selesaikan membersihkan mu, jangan melawan yah, "ucap Haru mengintimidasi Fina.
" Apa..., " ucap Fina.
" Kalau melawan aku akan berbuat lebih dari itu, " jawab Haru langsung membuat Fina diam seketika, dan pasrah dimandikan Haru.
Sepanjang dimandikan, Haru sangat santai sedang Fina, entah apa yang dia rasakan. Jantungnya seakan mau copot nafasnya tidak beraturan, sampai dia sendiri pingsan. Heee
" Bodoh, malah pingsan," kata Haru.
"Pakaikan dia baju," perintah Haru pada pelayan yang sudah ada.
"Baik tuan," ucap pelayan tadi sambil menggantikan Fina pakaian dna menggantinperban di kakinya. Haru berlalu pergi dan menutup pintu kamarnya.
"Ahh..., hampir saja, kenapa aku berani melakukan itu, gara-gara si bocah tengik itu (Heri) aku jadi terpancing. Untung jantungku masih aman" ucap Haru di balim pintu.
bisa-bisanya sok cool di hadapan Fina padahal sama berdebarnya, untung gak sampe pingsan heheheh
__ADS_1
Bersambung....