GURUKU ADALAH TUAN MUDA

GURUKU ADALAH TUAN MUDA
Ancaman Ayah Tesa


__ADS_3

Asap rokok terkepul diantara langit-langit yang memenuhi ruang kamar Haru. Ya, Haru merokok entah darimana dia dapat, setelah sekian lama Haru berhenti merokok kini dia mulai menghisap nikotin itu lagi. Fikiran Haru saat ini kacau, disisi lain Haru memikirkan tentang perusahaan yang sudah ayahnya bangun dengan susah payah, penuh penderitaan bahkan harga diri ayahnya pun ikut terinjak-injak demi perusahaan yang sudah berdiri. Tapi disisi lain, Haru mempunyai tanggung jawab kepada Fina wanita yang ia cintai, wanita yang ia cari selama ini. Kemudian, karena ego pamannya sendiri kini Haru harus memilih diantara dua pilihan.


Suasana hening tercipta di kamar Haru. Haru mengambil minuman beralkohol dan menyicikannya ke dalam gelas kecil, lalu Haru berjalan membukakan pintu kaca balkon dan menumpangkan kedua tangannya diatas pagar. Fikiran Haru sudah tak karuan, di minumnya minuman beralkohol itu lalu di hirupnya rokok itu.


Haru menghela nafas panjang, memikirkan apa yang harus ia lakukan. Dilihatnya sekitaran pemandangan taman, mata Haru tertuju pada Har yang sedang berdiri di ikuti Rere di belakang. Entah apa yang Rere bicarakan dengan Har, Haru hanya mengerenyitkan dahinya dan bertanya-tanya. Tapi fikiran itu segera di tepisnya dan Haru fokus kembali memikirkan cara tentang penawaran pamannya itu.


****


tok...tok...tok


"Kakak...!" suara adik pertama Fina memanggil dari balik pintu sambil mengetuk-ngetuk pintu kamar nya.


Fina menggeliat dilihatnya pukul 05:00.Fina kembali tidur dan menyelinuti tubuhnya,


"Apa sih, pagi sekali sudah ketuk pintu" gumam Fina dan kembali terlelap.


Perlahan di buka nya matanya, betapa kaget saat dilihatnya Haru berada di sisi Fina.


"Sejak kapan dia berada disini, kapan dia pulang?" beberapa pertanyaan seketika nyangkut di otak Fina. Dilihat suaminya itu tidur lelap sekali sampai Fina tidak berani membangunkannya. Saat Fina hendak beranjak bangun, tangan Haru menarik Fina. Sehingga Fina kembali terduduk dengan posisi tidur.


"Mau kemana kamu," tanya Haru seraya melingkarkan tangannya di tubuh Fina.


"Maaf, aku kira Haru belum bangun." posisi Fina kini tepat disamping Haru di dalam pelukannya.


"Aku memang belum bangun, hmm" jawab Haru seraya mengeratkan tubuhnya dengan tubuh Fina.


"Ah aku tidak bisa bernafas. Eh, inikan baru 5 Hari tp kenapa kamu sudah pulang, tidak bilang dulu lagi" tanya Fina.


"Aku ingin pulang saja" jawab Haru singkat yang masih tidak ingin melepaskan pelukannya kepada Fina.


"Boleh aku bertanya?" ucap Fina.


"Hmm"


"Ada apa sebenarnya, kenapa tiba-tiba saja aku dibawa kerumah ini. Apa ada sesuatu, lalu kenapa tiba-tiba kita tidak bisa berhubungan. Bahkan aku panggil aku kirim pesan tetap saja tidak di read ataupun aktif. Tiba-tiba saja kamu sudah ada disini,dan juga mana janjimu saat kamu pulang nanti" pertanyaan Fina dengan bertubi-tubi.


"Memangnya aku janji apa?" jawab Haru singkat tanpa mengindahkan pertanyaan lainnya dari Fina.


Fina yang kesal mengerutkan wajahnya seperti anak SD yang marah, dia berusaha melepaskan diri dari pelukan Haru.


"Bisakah kau diam sa, yang" kata Haru dengan memalingkan wajahnya dan sontak membuat Fina melongo kaget melihat ke arah suaminya.


"Ap, apa barusan, apa yang kamu katakan?" tanya Fina yang masih tidak percaya dengan ucapannya.


"Aku bilang, sayang" wajah Haru semakin memerah seperti tomat matang sambil memalingkan wajahnya dari Fina.


"Coba katakan sekali lagi, dan lihat aku" ucap Fina berharap. Lama Fina menunggu Haru agar menuruti permintaannya.


"Sa...yang, sudahlah aku mau tidur" ucap Haru. Tak lama Haru membuka matanya lagi dan bertanya.


"Lalu apa yang kamu lakukan kenapa tidak menyebutku sayang?" balas Haru.


"Eh, iya sayang, sayang..." wajah Haru langsung memerah ketika mendengar sebutan itu dari istrinya.

__ADS_1


"Sial, kenapa aku jadi malu begini," ucap Haru dalam hatinya.


"Tadi adikmu mengetuk pintu kenapa tidak kamu buka, untung ada kunci cadangannya" ucap Haru.


"Aku kira bukan sayang yang datang, jadi aku tidur lagi" jawab Fina. Lagi-lagi wajah Haru memerah mendengar kata sayang.


"Memangnya apa yang kamu lakukan semalaman sampai-sampai tidak ingin dibangunkan, hah?" tanya Haru. Wajah Fina cemberut ketika Haru tidak mendengar kata sayang dari mulut Haru.


"Maksudku sayang" ucap Haru. "Ah, kenapa kata sayang terasa lebay bagiku. Tapi sudahlah yang penting dia senang, melihat wajahnya seperti itu saja seperti anak kecil." gumam Haru dalam hatinya.


"Semalaman aku menonton film sampai jam 2 malam baru tidur," jawab Fina. Padahal semalaman Fina memikirkan Haru dan menyendiri duduk di balkon kamarnya.


"Benarkah?" ciuman Haru mendarat di kening Fina, kemudian ******* bibir kecil Fina, tangan Haru mulai bergerilya pada dua gunung kembar Fina.


"Ah...sa, yang... " Fina mendesah nikmat. Tangan Haru berpindah ke dalam celana tidur Fina membuat Fina menggeliat.


Tok...tok...tok di bukanya pintu kamar Fina.


"Kakak...! ayo bangun, kata ibu sarapan sudah siap nanti keburu dingin" ucap salah satu adik Fina.


Haru dan Fina kaget, sontak Haru menarik tangannya keluar dari celana Fina lalu Fina menutupi tubuhnya dengan selimut.


"Ah kak Haru juga sudah bangun yah, ayo kita sarapan sama-sama" tanpa rasa bersalah adik Fina pergi meninggalkan kedua kakaknya yang masih bengong.


"Kita turun dan sarapan" ucap Haru.


"Ba, baik" jawab Fina. Setelah membersihkan diri, merekapun turun untuk sarapan.


****


"iya bu, selamat pagi" balas Haru sambil menuruni tangga.


"Iya bu, tadi aku kekamar kakak ternyata kakak ipar juga sudah bangun" jawab Reza adik pertama Fina.


"Memangnya kakak iparmu tidak akan bangun apa, mendengar kau mengetuk pintu sekeras itu dan berteriak-teriak" gumam Fina.


"Salah sendiri kenapa kakak ipar bangun, wew" jawab adik Fina, membuat Fina memelototi adik pertamanya itu.


"Sudahlah pagi-pagi jangan beradu mulut, kasian nak Haru maaf yah, nak." ucap Ibu Fina.


"Tidak apa-apa, ayo sarapan" kata Haru menggeser kursi supaya istrinya cepat duduk.


Merekapun sarapan dengan tentram. Ada perasaan tersentuh dalam hati Haru bisa sarapan dari masakan seorang ibu, apalagi ibu Fina adalah orang yang sudah menolongnya.


****


"Kakak ipar...!" panggilan Reza memkakan telinga Haru.


"Hmm," jawab Haru.


"Kakak ipar kenapa ganteng banget apa rahasianya?" tanya Reza. adik kedua Fina yakni Silvia hanya mengangguk.


"Kalian jangan ganggu kakak ipar, awas." ucap Fina sambil meletakkan buah semangka dan apel yang sudah di kupas di meja depan mereka duduk.

__ADS_1


"Tidak apa-apa, mereka adikku juga kan?" jawab Haru.


"Iya nih, kakak pelit sekali" jawab Reza di barengi dengan anggukkan Silvia.


Lalu mereka pergi.


"Ada apa ke sini, mengganggu saja tidak lihat mereka sedang memuji ketampananku?" jawab Haru.


"Aku takut mereka mengganggumu, sayang" jawab Fina.


"Hmm, bagaimana dengan rumah ini apakah kamu nyaman? " tanya Haru.


"Iya sayang, nyaman sekali" Jawab Fina dengan wajah berbinar-binar di jawab dengan senyum dari Haru.


"Nak Haru, ada yang ingin bertemu dengan nak Haru" ucap Ibu Fina.


"Tuan," seseorang masuk dan menundukkan kepalanya. Lalu Haru bangun dari duduknya dan memerintahkan untuk masuk ke ruang kerjanya.


Fina mengikuti Haru ke ruang kerjanya sambil membawa buah yang sudah di kupas tadi beserta air putih untuk cemilan di dalam. Dia tahu suaminya itu suka sekali dengan buah-buahan. Setelah selesai menyimpan makanan Fina pamit keluar dan Haru dengan tamunya mulai mengobrol.


*****


"Tuan, saya perwakilan dariKantor pusat Wijaya group yang sudah ayah tuan bangun. Dalam waktu dekat kantor pusat akan di tutup." ucap orang itu.


"Apa kau bilang...! bagaimana bisa," ucap Haru yang baru di awal perbincangan di bikin memuncak emosinya.


"Tuan besar atau paman anda menyerahkan kantor pusat kepada tuan Renaldi ayahnya tunangan tuan."


"Lalu bagaimana dengan para karyawan yang sudah mengabdi disana?" tanya Har dengan menahan emosinya yang sempat memuncak tadi.


"Semua karyawan akan di berhentikan secara sepihak, tuan. Lalu akan diganti dengan karyawan pilihan tuan Renaldi. Bagaimana ini , tuan, bagaimana dengan nasib kami?" ucap orang itu.


Haru mengepalkan tangannya menahan rasa emosi yang memuncak. Baru saja dia sampai, pamannya sudah membuat onar. Haru menyuruh orang tadi untuk pulang, tanpa fikir lama Haru menelpon pamannya.


"Apa yang paman lakukan!" teriak. Haru lewat telfon.


"Bukan inginku, sudah ku bilang perusahaan ayahmu akan bangkrut. Satu-satunya jalan adalah kau harus menikahi Tesa" jawab paman Haru.


"Tidak bisakah kau berbicara dengan bedebah itu. Bagaimana nasib para pekerja disini" kata Haru lalu menutup telfonnya.


Di telfonnya ayahnya Fina, karena pamannya memberi nomer telfon ayahnya kepada Fina.


"Dasar ********! apa yang sudah kau lakukan" teriak Haru.


"Kau tinggal pilih wanita tidak berguna itu, atau perusahaan yang sudah ayahmu bangun dengan susah payah. Kau hanya perlu menikahi anakku dan perusahaanmu akan terselamatkan termasuk para karyawan yang sudah mengabdi disana" jawab ayah Fina.


"Bukankah waktuku 1 bulan, kenapa kau sudah buat onar" tanya Haru.


"Maaf sekali tapi anakku tidak ingin menunggu lebih lama lagi, waktumu hanya 2 minggu untuk memikirkannya" jawab Renaldi.


"*******!" Haru menutup telfonnya.


****

__ADS_1


"Kita lihat siapa yang akan menang," ucap Renaldi ayah Tesa.


Bersambung....


__ADS_2