
Pagi di hari senin menyapa dengan segudang kegiatan. Fina kewalahan dengan pekerjaan rumah, Karena kakak nya selalu membuat kekacauan, membuat rumah berantakkan.
"Ah..., aku kesiangan. Gara-gara kak Herman aku jadi kesiangan!" Fina bergegas keluar dengan berlari dan terhenti saat sudah sampai di tepi jalan. Dia melihat seseorang di dalam mobil, Haru menunggunya.
"Eh...,kenapa bisa ada disini?" ucap Fina seraya mengahmpiri Haru.
"Memangnya kalau suami menjemput isterinya tidak boleh?" jawab Haru ketus. Fina hanya membalas dengan senyuman lalu masuk ke dalam mobil.
Sepanjang perjalanan Fina masih memikirkan tentang semalam apa Haru bertemu dengan Tesa. Karena jika tidak lalu kenapa dia balik kerumahnya, seharusnya Haru langsung pulang saja kerumahnya. Apalah daya bertanyapun Fina tidak berani, jadi dia hanya diam membisu sambil memandang ke arah luar dari dalam jendela pintu mobil.
Haru mendekatkan dirinya ke tempat Fina. Lalu memegang tangan Fina membuat Fina kaget.
"Kenapa kamu diam saja?" tanya Haru.
"Tidak apa-apa,"
"Apa kamu tidak senang aku menjemputmu?"
"Bukan, aku hanya takut ada mata-mata pamanmu mengikuti," jawab Fina yang sebenarnya bukan itu yang ia fikirkan.
"Yang harus kamu takutkan adalah sopir di depan," tangan Haru mulai berselancar ke dada Fina. Haru mencium bibir Fina tanpa ada perlawanan dari Fina.
Har yang melihat mereka dari kaca depan langsung membalikkan spionnya dan berlanjut mengemudi.
"Jangan, kita hari ini harus kesekolah," ucap Fina setelah mendorong Haru yang sedang gesit menciumi Fina.
"Perjalanan kita sudah 10 menit, butuh 20 menit lagi untuk sampai ke sekolah. Jangan membuang waktu sia-sia, kamu tahu aku lelaki punya libido 2x lebih aktif di usiaku sekarang. Jadi jangan halangi aku karena percuma,"
Haru tidak memberi Fina kesempatan untuk bicara, dia langsung mencium bibir Fina. Mereka bermain lidah sementara tangan Haru dengan segit membuka satu demi satu kancing baju Fina menembus BH Fina memainkan buah empuk yang menggantung indah di dada Fina membuat Fina mengaduh. Ciuman Haru kini mendarat di leher Fina lalu ke bawah. Tangan Haru kini berpindah haluan ke bagian bawah Fina. Haru menyingkapkan rok yang Fina pakai, Fina berusaha menepiskan tangan Haru yang membuat dia risih karena takut pak Har melihat mereka.
Dengan cekatan Haru mengambil remote dan memijit remote. Ternyata diantara supir dan mereka duduk ada tirai tebal yang menjulur ke bawah. Haru meneruskan aksinya, kini Fina tanpa pelindung menghalangi tubuhnya. Haru memegang tangan Fina dan mengarahkan tangannya ke tempat Haru. Fina seketika itu kaget dan otomatis menarik kembali tangannya. Tapi Haru ttp keukeuh dan mereka menghabiskan sisa waktu 20 menit mereka di mobil.
*****
"Finaaaa....!" Lyla memanggil Fina dari arah samping.
"Ah, Lylaaa...," sahut Fina dembari sibuk merapihkan rambut nya yang acak-acakan karena pertempuran tadi.
Haru mengusap kepala Fina sambil berbisik.
" Thank you for letting me in you," dengan senyum sinis tampannya dia menggoda Fina. Membuat raut muka Fina menjadi kesal plus malu. Haru pergi berlalu ke kantornya sementara Fina menunggu Lyla yang sedang berjalan ke arahnya.
"Finaaa..., aku kangen sekali sama kamu. Kenapa kamu senang sekali membuat kami khawatir," ucap Lyla.
"Maaf, 3 hari ini aku ada urusan, hehehe" jawab Fina.
"Tunggu dulu, sepertinya ada yang beda denganmu hari ini,"
"Apa?" wajah Fina langsung pucat.
"Kamu semakin cantik, dan kelihatan dewasa,"
"Ah masa, kamu ini ada-ada aja," gelak Fina sembari melangkah lebih dulu.
__ADS_1
"Fin, jawab jujur yah. Apa kamu dengan pak Haru sudah...?" tanya Lyla penuh kode.
"Sudah apa kamu ini, ngomong dengan lancar jangan pakai kode-kode," Fina menyaut.
"Apa kamu dan pak Haru sudah ehem ehem?" tanya Lyla lagi kali ini Fina cukup paham dengan yang dimaksud Lyla.
"Kamu ini apaan sih, ayo ah sudah telat nanti kita dimarahi" Fina menghindar.
"Jangan menghindar, jawab dulu. Okelah kalau tidak di jawab berarti kita bukan teman," Lyla sedikit kesal karena Fina enggan menjawab pertanyaannya.
"Kalau sudah tahu sebaiknya diem, ayo masuk kelas," jawab Fina.
"Aaahhh..., jadi benar yah. Wah selamat yah Fina. Akhirnya kamu bisa merasakannya sepertiku," Lyla dengan senangnya berbicara.
"Sssst..., jangan berisik kamu mau semua ornag tahu ya. Ayo masuk kelas," Fina berjalan lebih dulu karena dia tahu kalau terus berdiri gak akan habisnya pertanyaan Lyla, dan Lyla pun mengikutinya.
Smua murid terlihat sedang berkerumun di papan pengumuman, ternyata mereka sedang melihat hasil tes soal latihan mereka. Fina dan Lyla pun bergabung untuk melihat hasil tes mereka. Dilihatnya Heri di kerumunan paling belakang memerhatikan Fina lalu menundukkan kepalanya ke Fina dan Fina membalasnya.
"Bagaimana dengan nilaiku," tanya Lyla ke Heri.
"Nilaimu sudah dipastikan bukan, sama saja" jaeab Jeri datar.
"Kamu ini, sebenci apa sih kamu terhadapku,"Jawab Lyla kesal sambil mengepalkan tangannya ke arah Heri.
"Bagaimnaa dengan nilaiku," tanya Fina ke Heri.
"Kamu lihat saja,"
"Giliran sama Fina ngomongnya lemah lembut sekali," ketus Lyla.
Bagaimana ini, bagaimana bisa nilaiku seperti ini. Kalau begini bisa-bisa aku kena hukuman. Gumam Fina dalam hati.
"Fina, kamu tidak apa-apa?" pertanyaan yang sama ditujukan oleh Heri dan Lyla kepada Fina. Bahkan nilainyapun lebih rendah dari Lyla.
Teng...teng...teng...suara bel berbunyi menandakan sudah mulai masuk dan pelajaran akan segera dimulai. Para murid membubarkan diri dengan tertib kembali ke kelasnya masing-masing.
*****
"Hahahahhaha..." gelak tawa Rere tidak bisa disembunyikan saat memasuki ruangan Haru.
"Apa kamu sudah gila, tertawa sampai seperti itu," kata Haru sebal.
"Kamu tidak tahu bagaimana ekspresi muka yang Fina keluarkan saat nilainya buruk," ucap Rere.
"Hei Haru bagaimana bisa kamu membuat gadis polos itu seperti ini," goda Rere lagi.
******
Waktu istirahat sudah tiba, para murid membubarkan diri tertib. Menuju kantin dan tempat-tempat favorit mereka.
"Fina, kamu Fina kan? Pak Haru menyuruhmu ke ruang kantornya," ucap salah satu murid suruhan Haru. Fina pun pergi menemui Haru walaupun dia tahu kalau Haru akan menghukumnya.
Sementara Lyla pergi lebih dulu menunggu Fina. Dia tahu apa yang akan terjadi karena itu tidak marah saat Fina diperintah Haru untuk menemuinya.
__ADS_1
"Disini," Rere memanggil Fina untuk ke ruangan UKS.
Fina melihat tangan Haru berdarah sedang di perban perawat sekolah.
"Ada apa ini, bagaimana bisa jadi seperti ini. Apa kamu tidak apa-apa?" ucap Fina panik.
"Dia hanya terkena semburan bisa Tesa," Rere menjelaskan.
Rere memberi kode perawat itu untuk pergi dari ruangan diikuti Rere.
"Apa, Tesa kemari?"
"Hmm...," jawab Haru singkat.
"Apa yang dia mau, apa dia memaksamu untuk kembali dengannya?" tanya Fina dengan suara lemah. Haru memegang tangan Fina.
"Aku tidak akan pernah meninggalkanmu," jawab Haru.
"Lagipula, aku ingin tahu pertanggung jawabanmu tentang nilai yang kamu dapat dari hasil latihan soal," ucap Haru membuat bulu kudug Fina merinding seketika.
"Ma...maaf aku akan belajar lagi, masih ada waktu 1 minggu lagi menuju ujian nasional," jawab Fina meyakinkan.
"Tapi tetap saja hukuman adalah hukuman, kamu harus les private untuk bisa mengejar ketinggalanmu," ucap Haru dengan tatapan yang tajam.
"Ba...baik," tidak ada cara lain selain menuruti perkataan Haru.
Haru mendekatkan tubuh Fina dan menidurkan Fina di kasur baring pasien. Haru menutup gorden yang jadi pembatas dengan kasur lainnya. Fina seakan sudah tahu maksud dari Haru hanya diam pasrah,walau dia tahu kalau di mobil tadi Haru baru saja meminta jatahnya.
*****
Langkah Fina sedikit susah dan keleyengan. Kakinya tidak terlalu kuat menahan beban tubuhnya karena kecapean oleh ulah Haru. Lyla yang melihat Fina langsung menghampiri Fina dan membantu Fina duduk.
"Kamu tidak apa-apa?" tanya Lyla.
"Iya aku tidak apa-apa,"
"Bagaimana bisa, perasaan tadi kamu baik-baik saja," kata Lyla.
"Aku hanya lelah," Lyla seakan langsung mengerti maksud Fina langsung melemparkan senyum goda ke Fina.
Tidak lama Heri datang dan membawakan Fina roti sandwich.
"Kenapa kamu lama sekali," tanya Heri.
"Aku tadi ada urusan sebentar," jawab Fina dan langsung meminum minuman yang fibawa Heri.
"Kelihatannya kamu haus sekali," tanya Heri.
"Tentu saja Fina pasti cape, orang dia sudah..." belum di jawab Lyla Fina sudah menyikutkan sikutnya ke tangan Lyla.
Heri melihat tingkah mereka memang tidak menghiraukannya. Sampai dia melihat sosok Tesa di ujung taman belakang sekolah terhalangi 2 pohon bersama Haru.
Fina yang melihat Heri langsung sontak melihat ke arah pandangan Heri. Betapa kagetnya dia melihat sosok Tesa yang memeluk Haru disana. Roti sandwich Fina terjatuh begitu saja.
__ADS_1
Bersambung....