
Hangat mentari mulai menyapa dari balik jendela yang bergorden dari kamar Fina. Suara burung yang bernyanyi di pagi hari serasa tak cukup mengisi kehangatan di pagi ini. Fina pun bangun dan duduk, berusaha mengumpulkan nyawa- nyawa yang tersisa yang belum masuk ke dalam tubuhnya. Di liriknya sebelah tempat ia tidur, di rasanya kasur yang biasa suaminya tiduri itu. Ada perasaan rindu yang merasuk ke dalam hati Fina, entah mengapa tapi hari ini terasa dalam perasaan itu muncul. Fina pun beranjak dari ranjangnya dan menyibakkan gorden, Seketika cahaya mentari masuk memenuhi ruang tidur Fina dan Haru. Fina pun pergi menuju pintu balkon kamarnya dan membukanya lalu duduk di kursi yang tersedia di balkon kamarnya. Memandang pemandangan yang indah dan sejuk di pagi hari, tapi tetap terasa tidak bisa mengisi hati nya yang sedang kosong. Dihela nya nafas panjang-panjang dan dibuangnya perlahan.
“Aku kangen Haru, apa kamu baik-baik saja disana, cepatlah pulang” ucap Fina lalu pergi menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.
# # #
“Selamat pagi, apa Haru sudah bangun?” tanya tante Haru yakni mamanya Rere.
“Selamat pagi nyonya. Sepertinya tuan Haru belum bangun,” jawab Har yang berdiri tepat di depan pintu kamar Haru.
“Oh begitu, nanti kalau Haru bangun tolong bilang kami menunggunya di ruang makan untuk sarapan yah? “ perintah tante Haru.
“Baik nyonya, “jawab Har.
“baiklah kalau begitu,” senyum manis tipis menghiasi wajah cantik tante Haru itu lalu pergi menuju ruang makan. Dibalasnya dengan Har yang menunduk tanda hormat kepada ibu pengganti tuan mudanya itu.
Dilihatnya Rere berjalan menyusuri tangga dari atas, menatap ke arah Har dan kini pandangan merekapun bertemu. Sadar akan hal itu, Har buru-buru memalingkan wajahnya dan menundukkan kepalanya. Rere mendekat dan bertanya,
“Apa Haru sudah bangun?” tanya Rere.
“Sepertinya belum nona, “jawab Har. Seketika hening tercipta diantara mereka berdua dengan lirikan mata Rere yang terus tertuju pada Har.
“Ada apa denganmu, bisakah kau bersikap biasa saja seperti sebelum terjadi apa-apa.Anggap saja kejadian itu tidak pernah terjadi dan lupakan semuanya” ucap Rere memperingati. Har tidak menjawab dan hanya diam di posisinya dengan menundukkan kepalanya. Tercipta suasana hening seketika dengan pandangan Rere yang masih tertuju pada lelaki tegap yang sedang berdiri dihadapannya itu. Lalu Rere pun pergi tanpa sepatah katapun menuju ruang makan.
Tak lama pintu kamar terbuka, Haru keluar membuat Har yang sedang memandangi Rere kaget. Takut kalau tuan mudanya mendengar apa yang baru saja Rere katakan.
“Ah, selamat pagi tuan. Nyonya besar berkata mereka menunggu tuan di ruang makan” ucap Har dengan lugas. Haru tidak menggubris apa yang baru saja dikatakan Har kepadanya dan berlalu pergi meninggalkan Har lalu menuju ruang makan diikuti Har dari belakang.
“Eh, Haru kamu sudah bangun. Bagaimana tidurmu nyenyak? Ayo kita sarapan” Ucap tante Har.
“Iya, nyenyak sekali, tante” jawab Haru.
“Kenapa kau tidak menelponku ketika sudah sampai di airport. Aku bisa menjemputmu tanpa harus repot-repot naik taxi” ucap Rere sambil memotong roti sandwich yang ada di piringnya.
“Aku masih bisa sendiri, “ jawab Haru lalu duduk di kursinya dekat dengan pamannya.
“Bagaimana perjalananmu dengan Tesa, apakah menyenangkan?” tanya paman Haru yang sedang memotong sarapannya.
__ADS_1
“Apa paman sudah melihat file dan dokumen yang aku berikan semalam. Disana tercatat jelas bukti serta orang-orang yang terlibat untuk menjatuhkan perusahaan ayah” ucap Haru tanpa menjawab Pertanyaan yang diberikan pamannya.
“Malam ini kita akan ada pertemuan dengan keluarga Tesa. Kita akan membicarakan tentang pernikahan Haru dan Tesa,”ucap paman Haru tiba-tiba membuat tante dan Rere yang sedang ikut makan bengong karena kaget.
“Apa...! Pernikahan Haru dan Tesa. Tapi Haru sudah menikah dengan Fina, yah? “ ucap Rere.
“Bagaimana paman bisa mengadakan pertemuan tanpa persetujuan dariku” ucap Haru.
“Aku tidak butuh persetujuanmu untuk bertemu dengan calon besan ku” jawab paman Haru singkat.
“Kalau begitu aku tidak perlu ijin darimu untuk menolak pertemuan itu,” Haru meminum minumannya dan mengelap bibirnya lalu berdiri tanda selesai makan.
“Kau tidak bisa menolak perintah...! “ teriak paman Haru. Tante Haru mendengar suaminya berteriak langsung menyuruh pelayan membawa abak-anaknya keluar dari ruang makan ini.
“Aku bukan anak kecil lagi yang bisa paman perintah sesuka hati, lagipula di surat perjanjian di umurku yang sudah menginjak 17tahun kau bahkan sudah tidak berhak mengatur ku dan juga di surat perjanjian dituliskan saat usiaku menginjak 20 tahun , kau sudah tidak berhak mengelola atau bahkan memegang semua kendali di perusahaan ayah. Apa paman lupa Kalau akulah yang berwenang atas semuanya?” Jawab Haru.
Paman Haru yang mendengar itu seketika wajahnya merah padam. Ada rasa marah yang membludak tergambar jelas di wajahnya. Tapi ada juga perasaan kaget karena Haru bisa tahu tentang surat wasiat yang diberikan beserta aturannya oleh almarhum adiknya itu.
“Umurku sudah lebih dari 20 tahun, seharusnya paman tahu diri bahwa paman sudah tidak berhak mengatur-ngaturku lagi, dan paman harus sadar kalau seharusnya sekarang paman cukup berdiam diri dirumah dan menikmati prosesnya karena mulai saat ini akulah yang akan memegang dan bertanggung. Jawab atas semua perusahaan yang ditinggalkan ayah untukku. Jangan bertanya aku tahu darimana, paman tahu kalau didalam diriku mengalir darah ayah” Jelas Haru.
“kau, berani sekali kau berkata seperti itu kepada pamanmu yang sudah merawatmu dari sejak kecil sampai kau sekarang sudah seperti ini” ucap paman Haru.
Rere dan juga ibunya hanya diam menyaksikan perdebatan antara Haru dan pamannya. Rere yang sudah mengetahui wasiat dari almarhum ayah Haru pun kaget mendengar Haru yang bisa mengetahui semua itu. Rere berniat menyimpan rahasia yang ia ketahui itu dari Haru bukan karena dia ingin Haru terjerat terus oleh keegoisan ayahnya. Tapi, karena dia tahu kalau Haru akan marah dan meninggalkan ayahnya yang sebenarnya begitu menyayangi Haru melebihi rasa sayangnya kepada anaknya sendiri.
“Kau lupa bahwa aku adalah kakak dari ayahmu, aku adalah anak tertua dari semua saudaraku, aku berhak mengambil keputusan dan sudah menjadi aturan keluargaku dari dulu kalau kakak tertua harus dituruti adik-adiknya” ucap paman Haru menjelaskan.
“Tapi berbeda denganku dan ayah. Dari dulu ayah tidak pernah menuruti perintah siapapun termasuk orang tuanya sendiri selama apa yang menurutnya itu benar dia akan terus tidak sejalan dengan keluarganya dan sifat itu mengalir pada diriku” jawab Haru.
Paman Haru terdiam, tidak bisa menjawab kata-kata dari keponakan sekaligus anak yang ia sayangi.
“Sebaiknya paman buka dan lihat semua file dan dokumen yang aku berikan kepada paman tentang teman kesayangan paman itu. Jika sudah, kau bisa menghakimiku dengan semua pemikiranmu” jawab Haru lalu pergi meninggalkan ruangan yang sudah sangat sumpek bagi Haru.
“Malam nanti kau harus tetap menemui keluarga Tesa...! “ ucap paman Haru yang melihat Haru melengos pergi tanpa pamit.
****
kring...sebuah pesan masuk ke ponsel Fina.
__ADS_1
"Apa yang sedang kamu lakukan?" pesan dari Haru.
"Aku baru selesai mandi, bagaimana keadaan Haru disana apakah baik-baik saja, Haru tidur dirumah pamankan?" pesan dari Fina dengan pertanyaan beruntun di tujukan untuk suaminya Haru.
"Aku baik-baik saja, ya aku dirumah paman. memang kamu fikir aku tidur dimana?" balas Haru yang tersenyum dikala membaca sebuah pesan dari istrinya,Fina.
"Kamu sudah mandi jam segini disana masih sore,kamu mau pergi kemana?" kali ini Haru yang berbalik bertanya.
"Tidak kemana-mana, aku mandi biar nanti malam tidak mandi lagi hehehe. lagi pula sekarang disini sore, aku sedang berada di balkon" Fina mengirimi Haru pesan beserta foto dirinya yang sedang berdiri di balkon.
Senyum manis tergambar diwajah Haru saat membaca pesan dari istrinya itu.
"Ahh...,aku kangen sekali," gumam Haru lalu menutup ponselnya dan kembali akan lamunannya. Mata Haru tertuju pada orang yang sedang sibuk berlalu lalang, ternyata Haru sedang berada di sebuah cafe yang dimana tempat duduknya menghadap ke arah jalanan.
****
Har sedang berdiam diri di. belakang rumah Rere, merenung entah apa yang ia renungkan. Karena dia tidak diajak Haru pergi,Har jadi berdiam diri disana sambil menikmati pemandangan kebun kecil yang dibuat pelayan dari keluarga Rere.
"Pemandangan yang cukup bagus bukan?" ucap Rere yang datang tiba-tiba dari arah belakang Har.
Har yang mendengar suara Rere langsung berbalik dan menundukkan pandangannya.
"Bisakah kau jangan bersikap seperti itu, aku merasa risih" Rere sekarang berdiri tepat di sisi Har. Lalu Har bersikap biasanya menganggap wajahnya dan memandang lurus kedepan.
"Maaf tapi aku tidak bisa," ucap Har diiringi dengan delikan wajah Rere kepada Har.
"Bagaimanapun juga aku adalah laki-laki, bagaimana mungkin bisa melupakan kejadian di hotel itu" ucap Har.
Ternyata, Rere pernah datang ke hotel tempat tinggal Har. Menangis dan menceritakan apa yang sedang terjadi pada dirinya dengan kekasih yang mengkhianatinya. Sampai akhirnya Rere mabuk ditempat Har dan terjadi sesuatu di sana di ruangan tempat Har tidur.
"Yah, aku tahu. Maafkan aku telah memaksamu melakukannya kepadaku. Aku benar-benar malu saat tersadar diriku hanya berbalut kan selimut disampingmu" ucap Rere.
Har sedikit menunduk dan kembali memandang kebun kecil didepannya.
"Aku hanya ingin kau bersikap biasa saja kepadaku seperti biasanya" ucap lagi Rere. Kali ini wajah Rere melihat ke arah Har.
"Akan aku coba," jawab Har.
__ADS_1
Bersambung....