
"Kita dimana?" tanya Fina.
"Masuklah,"
Fina terdiam tak mengikuti langkah Haru, dan Haru melirik Fina tajam tanda kesal.
"Aku ingin pulang, aku harus menyiapkan makan malam untuk kakak,"
Harupun menarik tangan Fina untuk mengikutinya masuk ke dalam rumah sederhana ini. Tak begitu besar juga tak begitu kecil rumah dengan satu tingkat. Dengan luas halaman yang tak sebegitu agreng dengan rumah Haru sebelumnya.
" Aku ingin pulang, "Fina keukeuh dengan pendiriannya.
" Kamu ini keras kepala, baru 2 hari tidak bertemu sudah bisa membantah" Haru memangku paksa Fina dan masuk ke dalam rumah, lalu mendudukkan Fina ke sebuah Sofa.
" Ada apa? "kata Fina.
Haru membuka blazer lalu membuka dasi dan 2 kancing kemejanya. Lalu merebahkan diri di sofa, sehingga posisi mereka sekarang duduk bersebelahan.
"Katakan," Haru memulai pembicaraan.
"Apa?"
" Tidak perlu aku perjelas bukan?"
"katakan, kenapa kamu pergi begitu saja setelah sehari sebelumnya kamu menorehkan kebahagiaan di taman itu?"
Fina hanya terdiam, tidak menjawab kata-kata dari Haru. Dia mengunci rapat-rapat bibirnya. Dengan buliran air mata yang masih tertahan di pelupuk mata Fina.
"Apa aku harus berbuat sesuatu terlebih dahulu, untuk memaksamu membuka mulut?" tanya Haru yang tangannya mulai meraba Fina dan mendekatkan diri dengan Fina hingga tubuh mereka berdempetan. Dilihat Fina masih terdiam, lalu ciuman hangat mendarat di bibir kecil Fina dengan tangan Haru yang masih tetap fokus ke gunung bidang milik Fina. Sesekali Fina menggeliat pasrah, tapi Fina tetap tidak membuka mulut. Harupun melancarkan aksi tangannya ke bawah perut Fina. Ada sedikit penolakan dari Fina tapi setelah itu dia hanya pasrah. Haru merasa tidak asyik lalu menghentikan aksinya.
"Jadi begitu, hanya dengan 2 hari saja sekarang kau mau mau aku apakan. Sebegitu kangennya kah kamu kepadaku?" tanya Haru. Tetap tidak ada jawaban dari Fina. Bosan dengan sikap Fina yang tetap dengan pendiriannya, Harupun melepaskan cumbuannya dan membiarkan Fina dengan pakaian terbuka. Fina membenahi pakaiannya, dan merapikan tempat duduknya.
" Kamu sudah makan?" tanya Haru dibalas dengan gelengan kepala dari Fina menandakan belum makan.
"Sudah aku bilang tadi, aku harus memasak untuk kakak," jawab Fina kesal.
"Jangan pernah menanyakan ibu dan adik-adikmu lagi, dia sudah aman"
__ADS_1
Seketika Fina berdiri dan terlonjak kaget.
"A...apa yang sudah kamu lakukan dengan ibuku?" tanya Fina dengan wajah yang serius.
"Tolong jangan libatkan ibu dan adik-adikku, jika memang ada masalah denganku. Tolong selesaikan saja denganku," tak terasa pipi Fina telah basah oleh air mata.
Haru yang melihat Fina menangis, langsung mendekati Fina dan memeluknya erat. Fina berusaha mendorong Haru tapi hasil nihil.
" Tidak bisakah kalian berhenti memperalatku melalui ibuku dan adik-adikku," isak tangi Fina semakin pecah seolah ingin melampiaskan kekesalannya sambil sedikit menepuk-nepuk dada Haru.
"Sudah...sudah... Aku sudah tahu, aku mengerti. Berhentilah menangis, kamu telah membuatku sakit karena meninggalkanku tiba-tiba. Kamu tahu perasaanku disaat bangun tidur, isteriku sudah tidak ada disampingku. Sebagai seorang suami tentu merasa sedih dan sakit", jelas Haru sambil mengusap air mata Fina.
" Jelaskan padaku pelan-pelan, disini. Dirumah ini termasuk ponsel mu tidak akan bisa di lacak oleh paman, jadi berhentilah mengkhawatirkan semuanya," jelas Haru yang jelas membuat Fina melotot kaget. Bagaimana bisa Haru tahu tentang keadaan Fina saat itu, dan tersadar akan ponsel nya ternyata memang sudha tidak ada.
"Lalu ibu?" pertanyaan kekhawatiran terlontar di bibir Fina.
"Dia aman, ibu dan adik-adikmu tidak usah khawatirkan mereka berada di temoat yang aman," jelas Haru.
"Aku ingin bertemu dengannya," tanya Fina.
"Tidak sekarang," jelas Haru.
"Bila keadaan memungkinkan, akan ku temukan kamu dengan mereka,"
"Tapi bagaimana bisa tahu tentang keadaanku?" tanya Fina lagi.
"Kamu tidak perlu menanyakan hal itu bukan?" jawab Haru membuat Fina terdiam.
Harupun mengajak Fina ke sebuah ruang makan. Disana sudah tersedia makanan yang enak dan banyak. Air liru Fina tidak terasa keluar sedikit dari bibirnya, Haru melihatnya hanya tersenyum.
" Makanlah," sambil membukakan kursi untuk Fina duduk.
"Siapa yang memasak ini, apa kamu membelinya?" tanya Fina heran. Karena dirumah ini tidak ada satupun pelayan.
"Aku membelinya," jawab Haru.
Sudah kuduga, gumam Fina dalam hati.
__ADS_1
"Kenapa kamu tidak masuk sekolah?" tanya Haru membuat Fina seketika yang sedang makan tersedak.
"Kamu tahu nilai ujian latihanmu?"
"Hmm..." Fina menjawab dibarengi gelengan kepalanya.
" Aku akan menghukummu jika nilaimu jelek," tegas Haru.
"Aku sama sekali tidak tahu nilai latihanku, bagaimana bisa tahu aku saja tidak masuk 2 hari ini"
Suasana sudah kembali mencair, Fina pun sudah tidak ketakutan lagi. Dia tahu kalau ibu dan adiknya bersama Haru, mereka akan aman-aman saja.
"Lalu, kenapa aku diajak kesini?"
"Untuk bulan madu, jadi bersiaplah" kata Haru singkat. Seketika membuat bulu kudug Fina merinding.
"Be...benarkah?" tanya Fina tidak percaya.
"Tentu saja," memangnya apa gunanya menikah jika tidak bisa saling melengkapi, lagi pula itu adalah kebutuhan.
Fina hanya diam dan meneruskan makannya tanpa menjawab sepatah katapun, ada perasaan kaku dan kikuk yang Fina rasakan ketika sedang makan dilihatin, apalagi diliatin pria tampan yang telah menjadi suaminya itu.
Selesai mereka makan, Haru mengajak Fina pergi ke atas, dia menunjukkan satu kamar dan masuk. Kamar yang jauh dari kata besar dibandingkan dengan kamar dirumah utama Haru. Tapi sungguh besar bila dibandingkan dengan kamar di kontrakan Fina yang hanya muat dengan 1 matras dan 1 lemari plastik.
Ada 1 kasur besar di sisi kiri setelah Fina masuk dekat dengan jendela. Sepertinya jendela itu bisa dibuka, karena terdapat balkon dan pintu di sebelah kaca. Kamar dengan nuansa ukiran berwarna putih bak seperti kamar putri-putri di negeri dongeng. Di sisi kanan terdapat tangga kayu kecil, Haru menarikku ke arah sana dan naik menyususri tangga. Di akhir atas tangga, terdapat pintu yang di buka dengan mendorongnya ke atas. Harupun masuk diikuti dengan Fina. Nuansa yang berbeda dengan cat berwarna biru langit mengkhiasi kamar atap itu. Kecil, tapi masih bisa untuk 3 orang dewasa masuk. Terdapat 1 matras ukuran 160x120 dan 1 lemari kaci dengan 5 pintu, masih besar dibandingkan dengan ukuran kamar dikontrakan Fina. Jalan Fina tegap, sedangkan Haru harus berjalan menunduk menyusuri kamar itu. Haru duduk di depan jendela lalu meilirk ke arah Fina menyuruh Fina duduk di dekatnya. Fina pun menurutinya.
Ada pertanyaan terbesit di fikiran Fina, tapi enggan mengatakannya. Nampaknya Haru tahu apa yang ada di fikiran Fina seperti seorang pembaca fikiran saja. Haru menyenderkan kepalanya ke bahu Fina yang kecil.
"Ah tidak enak," Haru sembari memegang leher.
" Kenapa, kamu tidak apa-apa?" tanya Fina khawatir.
"Bahumu tidak enak dipake bersandar," celetuk Haru.
"Memangnya siapa yang suruh kamu menyender kebahu ku...!" balas Fina ketus.
Haru hanya tersenyum kecil melihat tingkah lucu istrinya itu.
__ADS_1
Bwrsambung.....