
“kakak....!” kedua adik Fina berlarian menghampiri Fina dan memeluk kakak tersayangnya itu.
“Kalian jangan lari-lari nanti terjatuh,” rasa khawatir Fina kepada adik-adiknya di balas tawa kecil mereka.
“Senang sekali rasanya bisa lihat kakak, bisa sama-sama lagi dengan kakak,” Ucap adik pertama Fina.
“Iya benar, hehehe” balas adik kedua Fina.
“Kakak juga sangat senang bisa bersama lagi dengan kalian,” senyum bahagia terpancar dari wajah Fina. Tapi hati dan Fikiran Fina berkata lain, dia terus memikirkan kejadian saat dia dipaksa pergi oleh kedua orang suruhan dari Haru.
***
Flash back...
“Ah, malam tadi sepertinya tidurku kurang nyenyak, gara-gara Lyla terus ngajak ngobrol curhat masalah cowok barunya dan curhat masalah hatinya yang rindu dengan sosok Heri.
Memang setelah libur sekolah Heri ikut ayahnya ke Singapur untuk mempelajari bisnis disana. Heri termasuk ke dalam laki-laki yang akan sukses nantinya, rasa ingin tahu dan mempelajari tentang bisnis sangat besar sehingga ayahnya Heri pun sedikit takut akan keambisiusan anaknya itu. Terkadang ayah Heri mengajak Heri untuk bersantai berlibur dan menyuruh Heri untuk menikmati masa-masa diusianya, tapi Heri menolak. Dia lebih suka berdiam diri di kamar atau duduk di taman halaman belakang rumahnya. Hanya sekali Heri pergi berlibur, yakni waktu dengan Fina dan Lyla, itupun dipaksa Fina.
Saat menuruni tangga Fina melihat dua orang yang tidak ia kenal berpakaian dengan pakaian rapi biru gelap.
“Baik, jika memang tuan Haru yang memerintahkannya dan setelah melihat bukti saya percaya kepada kalian kalau kalian diutus tuan muda Haru,” begitu yang diucapkan kepala pelayan dirumah dan begitu pula yang samar-samar terdengar oleh Fina dari atas lantai.
“Ada apa pak?” tanya Fina kepada kepala pelayan. Lalu kedua bodyguard itu melihat ke arah Fina dan menundukkan kepala mereka tanda Hormat.
“Anda harus ikut dengan kami sekarang, nona” ucap salah satu bodyguard nya itu.
“Eh, kenapa?” tanya Fina.
“Kami diperintahkan tuan muda untuk membawa nona ke tempat aman,” merekapun mendekati Fina.
“Tunggu dulu, bisa kalian jelaskan saya tidak mau pergi sebelum kalian menerangkannya kepadaku,” tolak Fina.
“Ini perintah tuan muda Haru, membawa nona ketempat yang aman mohon nona menurut, jangan sampai kami melakukan hal yang memaksa” ucap mereka kepada Fina membuat tubuh Fina kaku seketika.
Akhirnya mobil pun melaju, Fina yang duduk di belakang ditemani dengan satu bodyguard bertanya-tanya.
“Apa maksud dari semua ini, ada apa ini, bagaimana dengan Haru, apa dia baik-baik saja disana?” beberapa pertanyaan melintasi fikiran Fina.
“Apa yang terjadi dengan Haru, apakah dia baik-baik saja?” tanya Fina.
“Tuan memerintahkan kami membawa nona muda ke tempat yang aman, keadaan tuan disana baik-baik saja,” ucap salah satu bodyguard menjelaskan.
“Kalau begitu kenapa saya harus ditempatkan ke tempat yang aman, memangnya apa yang akan terjadi, apakah Haru baik-baik saja, bagaimana ini aku ingin menelpon Haru,” saat Fina mengambil ponselnya bodyguard yang ada di sisi Fina menyentuh layar ponsel Fina dan menyuruh Fina untuk tidak menelpon Haru sementara waktu.
“Kenapa?” tanya Fina.
“Untuk sementara waktu tuan tidak akan bisa menghubungi nona. Jika keadaan sudah mereda tuan sendiri yang akan menghubungi nona, begitulah yang disampaikan tuan muda kepada kami” ucap bodyguard itu.
__ADS_1
Fina tidak bisa berkata apa-apa, sepanjang perjalanan fikiran Fina penuh dengan segala pertanyaan tentang Haru. Sampai mobil berhenti tepat di depan rumah Haru yang dulu Fina pernah diajak kesana. Dilihatnya ibunya dan adik-adiknya serta kakaknya berkumpul dirumah menyambut kedatangan Fina.
***
"Fin," terdengar suara ibu Fina membangunkan Fina dari lamunannya.
"Ah iya bu, ada apa?" ucap Fina saat Fina hendak berdiri, tangan ibunya memegang bahu Fina isyarat menyuruh Fina duduk kembali diikuti ibunya yang duduk disamping Fina.
"Apa yang sedang kamu lamunkan, nak?" tanya ibu Fina.
"Tidak ada bu," senyum kecil tergambar di wajah cantik Fina.
"Jangan terlalu memikirkan hal yang tidak bisa kamu ketahui sama sekali. Nak Haru pasti akan memberitahukan semuanya pada waktunya nanti" kata ibu menenangkan hati Fina.
"Iya bu," wajah Fina berubah menjadi memelas dan sedih.
"Sebentar lagi makan siang, mau ibu masakin apa nak siang ini?" tanya ibu Fina.
"Apa saja bu, apapun itu jika di masak oleh ibu akan jadi masakan terlezat yang tidak akan pernah ada tandingannya, heheheh" rayu Fina membuat wajah ibu Fina seketika tersipu malu.
"Kamu ini nak, dari dulu memang paling bisa bikin ibu tersipu. Ya sudah ayo masuk ke dalam kita masak bareng-bareng, kamu juga nanti harus bisa masakin nak Haru loh" ucap Ibu Fina.
"Hehehehe, ibu bisa saja ah," lalu mereka berdua masuk ke dalam dan menyiapkan masakan untuk makan siang mereka.
***
Haru terbangun dari lelapnya tidur. Di liriknya jam tangan yang tergeletak di sisi meja tempat tidur sudah menunjukkan pukul 10.00. Haru membereskan pakaiannya lalu bergegas pergi setelah cek out dari loby utama. Kemudian Haru pergi ke tempat breakfast tepat di seberang penginapan nya. Setelah masuk dilihatnya ada seseorang yang duduk di pojok sisi deket dinding mengarah ke jendela, tempat yang disukai Haru.
"Ah selamat pagi tuan muda," ucap Har kepada tuannya.
"Apa ada yang mengikutimu dari rumah?" Haru membenarkan duduk nya.
"Saya rasa tidak tuan," jawab Har.
"Bagaimana kondisi rumah, apakah aman?" tanya Haru sambil memilih-milih menu dari buku pesanan.
"Semalam keadaan rumah tuan besar cukup kacau, tapi sekarang sudah bisa dikondisikan. Keluarga Tesa marah terhadap tuan besar, karena itu tuan besar menyuruh para orang suruhannya untuk mencari anda. Maafkan saya, saya tidak tahu kalau tuan besar memerintahkan pengawalnya untuk menemui anda di penginapan" rasa sesal tergambar dari wajah Har.
"Tidak perlu khawatir, memangnya aku anak kecil harus diawasi terus" kata Haru.
Tak lama pesanan mereka datang, Har memesan kopi hitam pahit dengan sandwich dilapisi ayam panggang suwir dengan taburan mayonaise. Sedangkan pesanan Haru sandwich dengan isian sayur serta memesan steam chicken dengan minuman jus jeruk murni. Haru segera melahap nya karna sudah lapar sedangkan Har hanya melihat Haru, setelah diperintah Haru makan, baru Har pun ikut makan.
"Aku akan pergi ke kantor sekarang dan membocorkan kelicikan yang sudah ayah Tesa lakukan," ucap Haru tiba-tiba.
"Saya rasa tidak sekarang tuan, karena keadaan masih belum stabil," cegah Har mengingatkan.
Haru terus makan tanpa menghiraukan Har.
__ADS_1
****
Plak...! sebuah tamparan keras mendarat di pipi Haru. Paman Haru menampar pipi mulus Haru, pipi yang dipuja-puja para gadis .
"Berani sekali kau membantah ku...apa yang ada di fikiranmu sampai berani melawanku, hah?"
".... "
"Oh aku tahu, jadi gara-gara wanita miskin itu sekarang kau jadi pembangkang seperti ini, hah?" ucap paman Haru.
"Jangan pernah menyebut Fina perempuan miskin, paman" jawab Haru.
"Dia memang miskin kenapa, apa kamu keberatan. Dia menjadi seperti ini karena ulahmu,"
" Dari awal memang sudah aku katakan kalau aku tidak ingin bertemu dengan keluarga Tesa," ucap Haru.
"Kau lupa bahwa aku berwenang untuk mencabut hakmu sebagai pewaris tunggal dan sebagai generasi dari Wijaya group,"
Haru tidak bisa berkata apa-apa, dia hanya terdiam sambil mengepalkan tangannya.
"Aku akan mencabut semua itu jika kau terus membangkang terhadapku. Kau fikir kau bisa hidup tanpa fasilitas dari Wijaya group?" ancam paman Haru.
"Aku bisa hidup tanpa itu," kata Haru.
"Benarkah, lalu bagaimana dengan nasib wanita itu apa dia masih tetap ingin bersamamu walau keadaanmu sudah miskin?"
"Pasti...! Fina pasti tetap bertahan denganku walau bagaimanapun keadaanku" ucap Haru dengan rasa ragu.
"Lalu, bagaimana denganmu. Apa kau tidak malu mengajak anak orang semakin menderita?"
Kini Haru sama sekali tidak bisa menjawab kata-kata dari pamannya. Dia hanya terdiam beribu bahasa.
"Keluarga Tesa marah karena ulahmu semuanya jadi kacau. Karena itu, aku meminta waktu lagi kepada mereka dan mereka memberikanku waktu 1 bulan," ucap paman Haru.
"Apa paman tahu kalau ayah Tesa sudah menghancurkan perusahaan ayah? dan kini para investor lama ayah berpindah kepadanya,"
"Aku tahu, karena itu aku ingin mempererat hubungan ini agar mereka tidak menyangka kalau kita bangkrut dan perusahaan ayahmu akan kembali bersinar. Karena itu, demi ayahmu berhentilah mempertahankan wanita itu dan fokus kepada Tesa jangan membangkang" ucap paman Haru.
"Aku tidak pernah menyukai Tesa, apa paman sudah gila"
"Aku memang sudah gila, demi berdirinya perusahaan ini akan aku lakukan sebisaku. Haru, kau tidak bisa memilih dua jalan sekaligus pilihlah salah satunya"
Haru pergi tanpa pamit meninggalkan pamannya sendiri dan menutup pintu dengan kencang.
Brak...!
"Tuan besar?" ucap salah satu bodyguard nya.
__ADS_1
"Biarkan anak itu berfikir, jangan ikuti dia masih banyak waktu yang tersisa"
Bersambung....