
****
"Fina...! senang sekali bisa ketemu kamu lagi, kangen tau" ucap Lyla ketika melihat Fina dan memeluk teman kesayangannya itu.
"Sama...! Aku juga kangen sekali" balas Fina dengan memeluk Lyla.
1 minggu telah berlalu, sekolah pun mulai masuk. Kini Fina dan kawan-kawan sedang melihat nama mereka di papan pengumuman.
"Aku kebagian di kelas 3c...!" sorak Lyla.
"Tentu saja kau bersorak karena kelas c hanya diperuntukkan bagi murid sepertimu," ucap Heri yang tiba-tiba sudah berada di belakang Lyla.
"Memangnya kenapa dengan kelas c, kamu sendiri di kelas berapa?" tanya Lyla.
"Aku dikelas 3a sama dengan Heri" jawab Fina ketika sudah melihat daftar namanya. Ada rasa k3cewa tergambar dari wajah Lyla, tapi buru-buru di tepisnya fikiran itu oleh Fina.
"Yahhh, hanya aku sendiri dong yang berada di kelas c," gerutu Lyla. "Tapi, tidak apa-apa kelas kita bersebelahan dan kita bisa saling menunggu di jam istirahat dan jam pulang.
" Kita?...cih" ucap Heri. Mendengar Heri yang mendengus Fina menyenggol tangan Heri dengan sikutnya.
"Aku akan memilih bangku ku dulu, ayo!" ajak Lyla. Mereka bertiga pun pergi memilih bangku mereka.
"Wah...! suasana kelas A seperti ini yah, terlihat sekali kutu bukunya hahhaha" ucap Lyla lalu segera menutup mulutnya dan melihat sekitaran takutnya ada yang tersinggung tapi tidak ada.
"Memangnya kamu lihat kami sebagai kutu buku apa?" ucap Fina dengan muka sebelnya dibarengi Heri.
"Hehe, maaf-maaf akukan cuman bercanda," kata Lyla. jam pelajaran pun akan segera dimulai setelah bel dibunyikan, Anak-anak pun langsung kembali ke bangkunya masing-masing.
Fina duduk tepat di bangku urutan kedua setelah Heri. Tak lama Heri pun pindah bangku ke sebelah bangku Fina, kini mereka duduk bertetanggaan.
"Kenapa kamu pindah disana?" ucap Fina.
"Biar bisa melihatmu terus," jawab Heri singkat. Sebentar saja wajah Fina sempat memerah tapi ditepis ke geerannya itu dengan memberi pertanyaan kepada Heri.
"Her, selama liburan kamu kemana, aku dengar kamu ke Singapur yah ikut ayahmu belajar bisnis?" tanya Fina.
"Siapa yang mengatakannya?" tanya Heri.
"Lyla, kenapa?" jawab Fina singkat dibarengi pertanyaannya.
"Tidak apa-apa. Hanya suka saja, lagipula lebih berfaedah saat sesuatu hal dilakukan dengan baik dari pada harus main-main tidak jelas," jawab Heri.
"Tapi kan, masa mudamu seperti terbelenggu karena itu" ucap Fina.
"Karena aku memang suka. Lagipula, nanti ada kau yang akan menemani hari-hariku dan memperkenalkan ku ke dunia yang selalu kau sebut bermain dan bersenang-senang," perkataan Heri membuat Fina melongo.Heri baik Fina, mata mereka saling bertemu dan Fina buru-buru memalingkan wajahnya yang memerah bak tomat matang.
"Heri, kau..." belum selesai Fina ngomong, pintu kelas terbuka.
"Selamat pagi, selamat kepada kalian yang sudah lulus dengan nilai yang bagus dan masuk ke kelas favorite disetiap sekolah dari kelas lain" ucap wali kelas 3a.
****
"Lama sekali kalian ini, aku sudah lapar tahu!" ucap Lyla yang sudah menunggu dari tadi, sampai tiba waktunya kelas 3a istirahat.
"Maaf, hehehe" ucap Fina meminta maaf.
"Ya sudah ayo, kita ke kantin saja aku sudah lapar sekali nih," ucap Lyla
"Aku ada urusan, kalian pergi saja" ucap Heri.
"Eh, kamu gak ikut beneran?" tanya Lyla.
"Nggak," lalu Heri pun pergi meninggalkan mereka dengan langkah yang sedikit cepat ritme nya.
"Ada apa dengan anak itu," kata Lyla yang pandangannya masih tidak lepas dari Heri. Fina hanya menaikan bahunya tanda tak tahu.
*****
__ADS_1
"Kakak...!" adik Fina berteriak membuat Fina tersentak akan lamunannya.
"Iya, kenapa?" tanya Fina.
Dari depan tempat Fina duduk suaminya baru saja datang. Hari mendapatkan urusan mendadak di kantor dan pulang pada sore hari.
"Sayang sudah pulang...!" Fina menghampiri Haru dengan langkah yang sedikit lebih cepat dan membantu mengambilkan tas kerjanya.
"Tidak usah ini berat,"jawab Haru.
Lalu Fina merangkul tangan Haru dan mereka berdua masuk ke dalam rumah. Dilihatnya, ibu Fina sedang memasak untuk makan malam nanti.
" Kamu tidak membantu ibumu, sayang?" tanya Haru.
"Aku sudah membantu ibu tadi" jawab Fina.
"Iya Fina sudah membantu ibu tadi, nak. Ini ibu hanya sedang membuat cemilan untuk adik Fina" jawab ibu Fina.
"Saya pulang, bu" Haru menundukkan kepalanya dibalas dengan senyuman dari ibu Fina lalu naik ke atas bersama Fina.
****
Sesampainya dikamar, Haru langsung tiduran diatas kasur sambil menghela nafas dalam-dalam.
"Aku siapkan air untuk mandi, yah" ucap Fina.
"Tidak usah, kemarilah" tangan Haru menepuk-nepuk kasur yang ada di sisi tempat dia tidur lalu Fina mendekati suaminya dan ikut berbaring.
"A, apa ada yang membuatmu kesal dikantor tadi?" tanya Fina.
"Tidak" jawab Haru.
"Apa kamu cape sayang?"
"Tidak"
"Apa...."
"Benarkah?" tanya Fina seakan tidak percaya.
"Iya," jawab Haru singkat. "Aku mandi dulu, siapkan air hangatnya. Ibu pasti menunggu kita dibawah untuk makan malam" perintah Haru.
Fina mengangguk dan pergi kekamar mandi menyiapkan air hangat untuk suaminya.
Sedangkan Haru menatap ke atas langit-langit kamarnya.
"1 minggu lagi" ditariknya nafas dalam-dalam seakan ingin hilang apa yang ada difikirannya itu.
****
"Iya, besok ibu antarkan" ucap Ibu Fina lewat telfon.
"Bu...! " Fina berlari kecil. menghampiri ibunya. Ibunya Fina sedikit kaget akan kedatangan Fina.
"Kalian sudah selesai mandi, ayo makan" Haru menggeser tempat duduk untuk istrinya lalu mereka duduk dan mulai makan malam.
"Kak Haru, kenapa setiap hari selalu sibuk" tanya salah satu adik Fina.
"Kamu jangan bicara disaat makan bukankah kakak sudah bilang" ucap Fina mengingatkan.
"Maaf" adik Fina menyesal dan melanjutkan makannya.
"Tdak apa-apa. Kak Haru setiap hari sibuk karena banyak urusan dalam pekerjaan" Haru memegang tangan Fina.
"Maaf kak Haru, aku hanya kasian melihat kak Fina yang sering melamun sendiri di ayunan apalagi saat malam hari membuat aku merinding, iiiihhh" Mendengar ucapan adiknya, Fina langsung beranjak dari duduknya bermaksud mencengkram adiknya dengan tangannya, tapi di tahan oleh Haru. Sedangkan adiknya pergi lari ke ruang keluarga.
"Duduklah, makan"
__ADS_1
"Tapi...!"
"Temani aku makan," ucap Haru membuat Fina pasrah dan meredakan kekesalannya kepada adiknya itu.
****
"Maaf nak Haru, Fina kalau bersama adik-adiknya selalu begitu dari dulu," Haru kaget akan kedatangan mertuanya dari arah belakang langsung berbalik ke arah ibunya dan melihat ke arah dalam, istrinya sedang menonton TV dengan adiknya.
"Sepertinya ada sesuatu yang memberatkan fikiran nak Haru" ucap Ibu Fina tiba-tiba.
"Oh, hanya masalh pekerjaan saja, bu" ucap Haru. Seketika suasana menghening.
"Nak, saat nak Haru datang dan meminta izin untuk membawa Fina pergi dan membuat Fina bahagia. Apakah sudah nak Haru lakukan?" pertanyaan menohok dari ibu Fina.
"Fina adalah anak kedua ibu, walaupun begitu mental dan fisiknya begitu kuat. Tapi, sebenarnya hati Fina sangat mudah sekali rapuh. Hanya saja dia pandai menyembunyikan kerapuhannya itu" Haru masih terdiam dan mendengarkan mertuanya berbicara dengan baik.
"Ibu menemukan Fina di pesisir pantai sama percis saat ibu menemukan nak Haru yang mengalami pingsan" ucapan ibu mertuanya membuat mata Haru melotot tidak percaya.
Melihat reaksi Haru ibu Fina meneruskan bicaranya.
"Dia seorang bayi mungil yang ditinggalkan tepat di sisi pesisir pantai, saat itu ibu sedang Herman kakak Fina. Herman lah yang menemukan Fina, wajah bayi kecil itu sudah membiru karna kedinginan. Ibu mengambilnya dan menamainya Fina. Siapapun orang tua dari Fina, ibu merasa bersyukur karena dipertemukan oleh anak ini. Anak yang kuat dan mandiri menyayangi adik-adiknya" Air mata ibu Fina mengalir tanpa tertahan. Haru yang masih kaget berusaha menmegang pundak mertuanya.
"Tidak apa-apa nak, maafkan ibu. Ibu tidak sekuat Fina" ibu Fina menghapus air matanya.
"Ibu hanya ingin Fina bahagia, melihat senyum indah dari bibirnya, hanya itu. Karena itu, jika nak Haru tidak bisa membuat Finaku tersenyum tolong kembalikan Fina pada ibu," Seakan ada pisau yang menancap ke dada Haru. Begitulah perasaan sakit Haru dengan kata-kata dari mertuanya itu. Entah apa yang Harus Haru katakan akan keadaan ini.
*****
"Ibuu...!" Fina kaget saat melihat ibunya sedang terisak menangis dalam pelukan Haru.
"Ibu, ada apa kenapa ibu menangis?" Fina yang panik bertanya dan melempar tatapannya ke arah Haru.
Tangisan ibu Fina semakin menjadi saat Fina memegang bahu ibunya dan beralih memeluk Fina. Fina hanya terdiam dan mengisyaratkan dengan matanya mempertanyakan keadaan kepada Haru. Tapi, Haru hanya terdiam tidak tahu harus berkata apa.
"Ayo kita masuk, Bu" ucap Fina dan ibu menolak.
"Nanti ya, Fin. Ibu ingin meredakan dulu tangis ibu, takut adik-adikmu tahu." Fina mengangguk dan menunggu.
"Ibu kenapa menangis," tanya Fina saat melihat tangis ibunya mereda. Kini posisi mereka sudah duduk di kursi depan.
"Adik-adik sudah tidur, bu. Ayo masuk kedalam nanti ibu sakit kena angin malam" ajak Fina tapi ibu menolak.
"Apa ibu sakit?" ibunya menggelengkan kepala. "Lalu ibu kenapa menangis?" dilihatnya wajah khawatir Fina kepadanya.
"Ibu menceritakan tentang ayahmu kepada Haru dan tiba-tiba saja ibu tidak bisa menahan air mata ibu. Bukan begitu nak Haru?" ucap Ibu seraya memberi kode kepada Haru.
"Benarkah begitu?" tanya Fina.
"Hmm" ucap Haru membenarkan.
"Ibu, ayah sudah tiada. jangan memikirkan ayah kasiahan ayah, sebaiknya sekarang ibu istirahat, yah" Fina memapah ibunya masuk ke kamar. Lama Fina dikamar lalukembali keluar setelah dilihatnya ibunya tidur pulas.
****
"Apa ibu sudah tidur?" tanya Haru sesaat setelah Fina kembali ke teras rumah.
"Sebenarnya, apa yang diceritakan ibu kepadamu" tanya Fina.
Dilihatnya wajah Haru yang melongo dan memandang sinis kepada Fina.
"Ma, maksudku sayang" Fina menundukkan kepalanya. Ada tangan yang mengangkat dagu Fina sehingga wajah Fina mendongak ke atas dan ciuman lembut mendarat dibibir Fina. Dikulum nya dengan lembur bibir Fina, dipegangnya pinggang kecil Fina dan ditempelkan nya tubuh Fina ke tubuh Haru.
Kini, nafas Fina dan Haru tidak teratur. Dipangkunya Fina menuju kamar, ditidurkannya istrinya itu di atas kasur. Haru menciumi Fina kini beralih ke lehernya. Fina mendorong Haru karena tidak bisa bernafas.
"Kamu belum menjawab pertanyaanku sayang, kenapa ibu.. Hmmm...hmmm... ahh..." suara Fina sudah tidak beraturan, kini Fina maupun Haru terlena dalam dunia mereka dan menikmati surga kehidupan yang masih bisa mereka rasakan.
****
__ADS_1
Dilihatnya Fina tertidur lelap, Haru membukakan pintu kaca balkon nya lalu duduk di teras balkon sambil mengisap rokok. Baru kali ini Haru merokok lagi, ada banyak hal yang membuat dia kaget dan syok selain masalah karyawan di kantor, ancaman ayah Tesa, kini tentang kebenaran istrinya itu dari mertuanya. Haru menggaruk-garuk kepalanya padahal tidak ada yang gatal.
Bersambung....