GURUKU ADALAH TUAN MUDA

GURUKU ADALAH TUAN MUDA
Nilai


__ADS_3

Besoknya...


Bruk...!


"Kamu apakan dia sampai nilainya menurun drastis seperti itu," tanya Rere kesal sambil menaruh lembar-lembar soal yang dia beri untuk kelas 2 kemarin, dan mengambilkan soal yang bernama Fina menyodorkannya kepada Haru.


Haru begitu kaget dengan apa yang dia lihat, Fina yang biasanya mendapat nilai 98 sampai 100 skrg benar-benar jatuh.


"Apa yang sudah kamu perbuat sehingga begitu tidak konsennya dia mengerjakan tugas, kamu sudah periksa soal matematika yang kamu berikan kepada Fina? Tanya Rere serius.


" Nanti akan ku periksa, aku akan pergi sebentar kamu dapat membantuku memeriksa soal-soal itu," Haru mengambil jaketnya lalu pergi meninggalkan Rere.


"Aku tidak mai...! Baiklah akan aku kerjakan kelas Fina saja pokoknya aku tidak mau semua...!" teriak Rere yang dirasa percuma. Lalu mulai memeriksa lembar dmei lembar soal.


Ah itu Haru, dia mau kemana ya? Tanya Fina dalam hati. Haru menolah ke arah Fina dan Fina pun tersenyum tapi di balas dingin oleh Haru, malah memalingkan muka ke arah lain. Tidak lama mobil Haru punt erparkir di depannya, semua murid yang melihat berteriak memanggil-manggil nama bapak ganteng...!. Lalu Haru masuk ke dalam mobil. Sudah bukan hal aneh lagi kalau Haru disebut bapak ganteng, karena dengan fisik yang ideal dan wajah yang tampan tentu akan menjadi nilai utama dalam kriteria seseorang dan kaya adalah nilai plus nya.


Kenapa dia begitu dingin, tidak tersenyum sedikitpun hiks. Fina dalam hati, lalu dilanjutkan ngobrol dengan Lyla. Karena Heri sedang ada rapat osis jadi tidak bisa istirahat bareng.


"Fin, bagaimana?" tanya Lyla tiba-tiba.


"Apa?" saut Fina bingung.


"Iih...itu yang kamu bilang kemarin, katanya mau nanya sama pak Haru tentang masalah suami istri", tanya Lyla polos.


"Ssstt...bisa pelan tidak sih ngmgnya, nanti ada orang yang dengar" Fina menyentuh kan telunjuknya ke bibir nya tanda jangan berisik.


"Bagaimana, apa ada kemajuan?" tanya Lyla dengan suara pelan.


"Pada akhirnya, aku tidak berani menanyakannya" dengan malu Fina menerangkan.


"Sudah kuduga, pasti akan begini," Ucap Lyla menggelengkan kepala.


"Bagaimana aku berani menanyakannya, sementara aku lihat waktu itu dia marah-marah karena aku membeli makanan dari luar," Fina dengan kesal.


"Jangankan pak Haru yang begitu kaya dan pewaris tunggal, aku saja mempunyai 1 orang kakak dan 2 orang adik, selalu dimarahi kalau ketahuan beli makanan dari luar. Wajar saja kalau pak Haru seperti itu, aku dengar dulu dia hampir tewas gara-gara memakan makanan di luar, ada yang mau meracuninya.


"Benarkah?" tanya fina tidak percaya.


"Hemm... Itu sudah menjadi rahasia umum, seluruh guru di sekolah inipun sudah pada tahu. Karena itu disini diadakan kantin yang berstandar kesehatan dan internasional. Mungkin itu alasan kenapa sekolah ini sangat di atas rata-rata orang kaya. Selain biaya sekolah yang mahalnya tidak bernalar, sekolah inipun melahirkan anak-anak yang cerdas dan semua bisa dijamin dari segi kesehatan maupun masa depan,"jelas Lyla kepada Fina.

__ADS_1


" Oh jadi karena itu Haru marah yah, tapi aku selama hidup miskin makan dan jajan di jajajnan pasar tidak pernah merasakan sakit yang berarti. Mungkin orang kaya dan si miskin seperti aku berbeda jauh levelnya, malang sekali sotoku jatuh tak termakan hiks, "Fina mengeluh.


" Memangnya kamu tidak makan apa?" tanya Fina.


" Bagaimana bisa makan, aku saja ngambek nldan ngumpet di balik selimut menangisi kekagetanku dnegan sikap nya kepadaku, " Ucap Fina.


" Kalian marahan memnag sampai pagi yah?, kuat sekali kamu. Kalau aku mana kuat sama mantan cowokku aja aku paling marah cuman beberapa menit saja, apalagi kalau punya cowok seperti pak Haru. Mana bisa aku marah hihihi," Ucap Lyla genit.


" Tidak kok, tidak lama dia mendekqtiku dna membelai rambutku. Tidak lama dia....ehem ehem," Fina tersipu malu.


"Wah...kamu buat aku irih, hiks. Ingin rasanya punya pacar lagi," goda Lyla.


"Kami tidak ngapa-ngapain kok dia cuman menciumku dan seperti biasa saat akan ke tahap selanjutnya, dia selalu memberhentikan actionnya itu dan membalut tubuhku oleh selimut seperti pisang molen, tidak tersisa sedikitpun kulitku bisa dia lihat dan memelukku sampai pagi," keluh Fina.


" Buahahhahahah.....kamu ini ada-ada saja, memang apa pisamg molen aku baru dengar tuh, " tanya Lyla.


" Itu, pisang yang di selimuti dough semua sampai tidak terlihat pisangnya, lalu di goreng" jawab Fina.


"Lain kali kamu bawakan aku itu yah, aku ingin tahu rasanya hee," Ucap Lyla penasaran.


"Iya nanti aku bawakan deh, kalau sempat aku bikin sendiri nanti tapi tidak tahu kapan," jawab Fina.


Tak terasa obrolan mereka yang panjang lebar tanpa ada yang mengganggu pun isai dengan bunyi lonceng. Merekapun kembali ke kelas melaksanakan latihan berikutnya kemudian pulang.


Sementara Fina selesai mandi dan sedang menunggu Haru pulang, dia ngemil jajanan yang dia beli di jalan tadi karena dia pulang tidak dengan Haru, jadi dia meminta Har untuk berhenti di supermarket membeli makanan kecil. Walaupun Har sudah memperingatkan, akhirnya luluh juga karena tingah yang seperti anak kecil Fina memohon sampai sujud-sujud ingin jajan.


Pelayan rumah pun memperhatikan kantong kresek yang Fina bawa dan menanyakannya, Fina bilang kalau itu baju dan makanan yang dikasi temannya Lyla di sekolah.


Huff...,dia benar-benar seperti anak kecil. Ucap Har dalam hati sambil berlalu menuju ruang kerja Haru, mempersiapkan laporan hasil pekerjaan hari ini untuk di lihat Haru.


Tring... Sebuah pesan masuk.


"Fin, kakak butuh uang"


"Kak Herman, selalu saja mengirim pesan kepadaku untuk meminta uang. Memangnya tidak terfikir apa kalau kamu ingin menanyakan keadaan adeknya, huh" gerutu Fina kesal.


"Gak punya," balas Fina.


"please," pesan kak Herman.

__ADS_1


"Gak ada, kakak kerja saja sendiri belajar mandiri. Tidak mungkinkan seumur hidup kakak hanya ingin diberi saja, tidak maukah kakak menjalani hidup lebih baik lagi dan berjuang dengan semangat?" balas Fina dengan kesal.


"Kakak sedang ada di kampung dirumah ibu, adik-adik meminta kakak untuk makan di restoran dan mengajak mereka jalan-jalan, mereka tidak tahu kalau kakak tidak punya uang. Kan kasihan masa kakaknya baru pulang dari kota tidak mengajak adiknya senang-senang, "jelas kak Herman.


"Baiklah kalau untuk mereka, ajak juga ibu yah?" balas Fina.


"Pasti dong hehehe," kak Herman.


"kaka butuh berapa?" tanya Fina.


"Tidak banyak, 10 juta saja," balas kak Herman.


"Apa...! Sebanyam itu apa tidak salah memangnya kakak mau mengajak mereka kemana?" tanya Fina kaget.


"Kakak dari dulu bercita-cita ingin mengajak mereka ke suatu tempat, menginap di hotel makan-makanan yang enak, ajak adik-adik ke taman bermain dan membelikan mereka pakaian juga buat ibu. Sebenarnya tidak akan cukup segitu, mengingat jaman sekarang serba mahal kan?" jelas kak Herman.


Mendengar alasan dari kakaknya Fina pun luluh.


"Baiklah akan aku kirim besok sepulang sekolah," jawab Fina.


"Baiklah adekku tersayang kamu memang adek yang bisa aku andalkan, muacchhh..." balas kak Herman sambil menyudahi pesan mereka.


Pintu kamarpun terbuka, membuat Fina kaget. Haru baru pulang dan kelihatan lelah sekali.


"Ah Haru, kamu sudah pulang?" belum Fina bangun seimbang dari tempat tidur, Harupun mendekati Fina dan menindih Fina terlentang di atas kasur.


"Ha...Haru,ada apa ini?" tanya Fina.


"Hemm...," jawab Haru menatap Fina lalu kembali tidur di atas Fina.


"Lepaskan aku, berat sekali ah...," Fina berusaha menggeser tubuhnya dan melentangkan tubuh Haru dengan sekuat tenaga, akhirnya tubuh Fina bisa lepas dari tindihan tubuhnya Haru.


Nafasnya bau alkohol, menyengat sekali. Apa yang terjadi, baru kali ini aku melihatnya mabuk, ucap Fina dalam hati sambil. Segera mencopot sepatu Haru dan kaos kakinya. Lalu membuka pakaian Haru, hanya pakaian yah tidak dengan celana, heheheh.


Sebaiknya aku mengambil handuk basah untuk mengelap tubuhnya Haru, kaata Fina dalam hati sambil berlalu pergi.


"Lepaskan dia...! Jangan coba-coba mendekatinya," gumam Haru dengan suara lantang, membuat Fina kaget.


Setelah selesai mengelap Haru, Fina pun membenarkan posisi Haru. Lalu mebyelimutinya.

__ADS_1


"Ah...pada akhirnya perutku tidak masuk nasi lahi malam ini. Untung tadi aku beli cemilan jadi terselamatkan. Dan Fina pun mematikan lampu lalu pergi tidur samping Haru, walau Fina merasa bau tapi dia lebih memilih tidur dekat Haru. Karena kalau tidak bisa-bisa dia marah saat bangun dia tidak ada di samping Haru.


Bersambung...


__ADS_2